Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Takbiran: Suara Tak Bersuara

Takbiran: Suara Tak Bersuara

  • account_circle admin
  • calendar_month Ming, 30 Mar 2025
  • visibility 552
  • comment 0 komentar

Oleh Hamidulloh Ibda*

Selama ini, budaya takbiran, takbir keliling di malam hari Lebaran Idulfitri selalu menggema. Namun, teknologi menggesernya. Jika dulu takbirannya adalah suara manusia, anak-anak, ibu dan bapak, kini digantikan dengan suara sound system, bahkan takbiran koplo dengan versi DJ. Ini kan Namanya “suara tak bersuara”. Rodo angel iki.

Tradisi takbiran menyambut Lebaran Idulfitri memiliki urgensi yang mendalam dalam konteks keagamaan dan sosial budaya umat Islam. Unik dan menarik. Sebab, setahu saya Cuma hanya ada di Nusantara. Secara keseluruhan, tradisi takbiran bukan hanya sekadar ritual keagamaan, tetapi juga memiliki dimensi sosial dan budaya yang penting bagi umat Islam.

 

Hakikat Takbiran

Tradisi takbiran menyambut Lebaran Idulfitri memiliki urgensi yang mendalam, baik dari segi spiritual, sosial, maupun budaya. Takbiran bukan sekadar seremonial, tetapi juga merupakan ekspresi kemenangan dan rasa syukur umat Islam setelah sebulan penuh menjalankan ibadah puasa. Gema takbir yang berkumandang dari masjid-masjid, mushala, dan jalanan menciptakan suasana khusyuk yang mengingatkan setiap Muslim akan kebesaran Allah SWT serta anugerah-Nya.

Secara spiritual, takbiran adalah bentuk pengagungan kepada Allah yang diajarkan langsung oleh Rasulullah SAW. Melalui lantunan kalimat takbir, tahlil, dan tahmid, umat Islam diajak untuk menyadari bahwa segala pencapaian, termasuk keberhasilan menunaikan ibadah Ramadan, hanyalah karena pertolongan Allah. Ini juga menjadi momen refleksi diri, mengingatkan bahwa kehidupan dunia adalah perjalanan menuju keabadian di sisi-Nya.

Dari sisi sosial, takbiran menjadi perekat kebersamaan. Tradisi ini mempertemukan berbagai lapisan masyarakat dalam satu irama yang sama, tanpa memandang status sosial, ekonomi, atau perbedaan lainnya. Suara takbir yang dilantunkan bersama-sama menguatkan rasa persaudaraan, menciptakan atmosfer kehangatan, serta mempererat tali silaturahmi di antara sesama muslim.

Selain itu, takbiran juga memiliki nilai budaya yang khas dalam tradisi Islam di Indonesia. Dari dulu, takbir keliling menjadi simbol perayaan Idulfitri yang sarat dengan nuansa lokal. Anak-anak, remaja, hingga orang tua berbaur, membawa obor (oncor), bedug, dan lampion, menelusuri jalanan desa atau kota dengan penuh suka cita. Tradisi ini memberikan warna tersendiri dalam perayaan Lebaran yang tidak hanya bersifat individual, tetapi juga komunal.

Namun, dalam perkembangan zaman, makna takbiran menghadapi tantangan. Pengaruh teknologi dan modernisasi menggeser tradisi takbiran yang dahulu dilantunkan langsung oleh suara manusia menjadi sekadar rekaman yang diputar lewat pengeras suara. Hal ini berisiko mengurangi nilai kebersamaan dan kehangatan yang seharusnya hadir dalam perayaan takbiran.

Oleh karena itu, mempertahankan tradisi takbiran yang sarat makna menjadi suatu keharusan. Takbiran bukan sekadar ritual, tetapi warisan yang menghubungkan generasi dengan nilai-nilai Islam yang luhur. Dengan menghayati dan melaksanakan takbiran dengan penuh kesadaran, umat Islam dapat merasakan esensi sejati dari kemenangan di hari yang fitri, yakni kemenangan atas hawa nafsu, kemenangan dalam memperkuat iman, serta kemenangan dalam menjalin kebersamaan sebagai satu umat yang bertakwa.

Takbiran: Suara Tak Bersuara

Malam takbiran selalu menjadi momen yang dinantikan menjelang Hari Raya Idulfitri. Dulu, gema takbir menggema dari suara manusia—anak-anak, ibu-ibu, bapak-bapak—yang dengan penuh semangat melantunkan kalimat tahlil dan tahmid. Suara itu bukan sekadar lantunan, tetapi juga cerminan rasa syukur, kebersamaan, dan kemenangan setelah sebulan berpuasa. Namun, kini semua berubah. Takbir yang dulu begitu khas dengan suara manusia, perlahan tergeser oleh dentuman sound system, irama koplo, dan bahkan versi DJ.

Takbir keliling yang dahulu menghadirkan suasana khusyuk kini berubah menjadi ajang hiburan. Kendaraan dengan pengeras suara besar melintas, memainkan takbiran dalam berbagai versi modern yang lebih mirip dengan konser musik. Anak-anak tidak lagi berbaris rapi sambil membawa obor atau lampu hias, melainkan sibuk merekam dan berswafoto untuk media sosial. Tradisi yang dulunya penuh dengan kekhidmatan kini terasa kehilangan makna spiritualnya.

Fenomena ini mencerminkan bagaimana teknologi mengubah cara manusia berinteraksi dengan tradisi. Di satu sisi, teknologi mempermudah penyebaran gema takbir, tetapi di sisi lain, ia juga menghilangkan esensi kebersamaan yang muncul dari suara-suara asli manusia. Takbiran bukan hanya soal mengumandangkan kalimat Allahu Akbar, tetapi juga tentang merasakan kekhusyukan, kebersamaan, dan kebanggaan atas ibadah yang telah dijalani.

Jika suara manusia tergantikan oleh mesin, maka esensi takbiran pun semakin terkikis. Gema takbir seharusnya lahir dari hati, bukan sekadar dari speaker yang diputar otomatis. Jangan sampai kita terjebak dalam euforia yang hanya mengutamakan kemeriahan, tetapi melupakan substansi. Sebab, takbir sejatinya adalah suara iman yang menggetarkan jiwa, bukan sekadar suara yang menggema tanpa makna.

 

*Dr. Hamidulloh Ibda, penulis lahir di Pati, dosen dan Wakil Rektor I Institut Islam Nahdlatul Ulama (Inisnu) Temanggung (2021-2025), Koordinator Gerakan Literasi Ma’arif (GLM) Plus LP. Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah (2024-2029), reviewer 31 Jurnal Internasional terindeks Scopus, Editor Frontiers in Education terindeks Scopus Q1 (2023-sekarang), dan dapat dikunjungi di website Hamidullohibda.com.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ini Sosok Adzkia, Murid Kelas 6 MI Ma’arif Gondang Juara I Karate Nasional Indikado 2025

    Ini Sosok Adzkia, Murid Kelas 6 MI Ma’arif Gondang Juara I Karate Nasional Indikado 2025

    • calendar_month Rab, 26 Feb 2025
    • account_circle admin
    • visibility 425
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.id-Wonosobo – Pada ajang bergengsi Indonesia Karate-Do yang digelar di Gelanggang Olahraga Bulungan, Jakarta, pada tanggal 21 hingga 23 Februari 2025, murid kelas 6 Al A’la MI Ma’arif Gondang, Wonosobo Adzkia Zahra Althafunnisa, berhasil meraih Juara 1 SD Kelas 4-6 Kumite +30 KG Putri dalam Kejuaraan Karate Nasional Indikado 2025. Keberhasilannya ini tidak hanya […]

  • Goal, Bupati Deklarasikan Penutupan Tempat-Tempat Prostitusi

    Goal, Bupati Deklarasikan Penutupan Tempat-Tempat Prostitusi

    • calendar_month Rab, 18 Agu 2021
    • account_circle admin
    • visibility 331
    • 0Komentar

    Bupati Pati, Haryanto sedang menandatangani deklarasi penutupan tempat-tempat prostitusi PATI-Rencana penutupan tempat-tempat prostitusi di Kabupaten Pati menemui titik terang. Rabu (18/8) Ormas-ormas islam, MUI serta FKUB melakukan audiensi dengan Bupati Pati dan Forkompinda.  Hasilnya, dalam audiensi yang berlangsung di Ruang Pragolo Kantor Bupati Pati tersebut, akhirnya Bupati bersedia menyatakan komitmen dan deklarasi penutupan tempat-tempat prostitusi. […]

  • PCNU-PATI

    NU, Nasionalisme dan Bernegara

    • calendar_month Kam, 28 Des 2023
    • account_circle admin
    • visibility 235
    • 0Komentar

    Oleh : Siswanto, MA Nahdlatul Ulama (NU) yang selama ini kita kenal sebagai organisasi sosial keagamaan terbesar di Indonesia,bahkan tersebar dunia merupakan salah satu ormas yang sudah tidak diragukan lagi dalam menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sebagai ormas terbesar di dunia tentunya NU memiliki sumbangsih yang juga besar di masyarakat. Adapun bentuk sumbangsih yang […]

  • PC Muslimat – Hidmat Gelontorkan Rp 42,6 Juta untuk Panti Asuhan di Waturoyo

    PC Muslimat – Hidmat Gelontorkan Rp 42,6 Juta untuk Panti Asuhan di Waturoyo

    • calendar_month Jum, 22 Apr 2022
    • account_circle admin
    • visibility 267
    • 0Komentar

    MARGOYOSO – Pimpinan Cabang Muslimat NU Kabupaten Pati gelontorkan dana senilai Rp 42.600.000. Uang tersebut diberikan kepada Panti Asuhan Darul Hadlanah, Waturoyo, Margoyoso Pati. Secara simbolis, penyerahan dilakukan sekaligus sebagai rangkaian acara HUT Muslimat NU ke-76 dan peringatan Nuzulul Qur’an, Kamis (21/4) malam tadi. Dengan menggandeng Himpunan Daiyah dan Majelis Taklim (Hidmat) Muslimat NU Pati, […]

  • Fatayat Se-Kabupaten Pati Sepakati 5 Poin Babon

    Fatayat Se-Kabupaten Pati Sepakati 5 Poin Babon

    • calendar_month Sen, 30 Sep 2019
    • account_circle admin
    • visibility 244
    • 0Komentar

    PATI-PC Fatayat NU Pati menggelar pertemuan rutin perdana dengan PAC-PAC yang ada, Minggu (29/9). Madrasah Manbauk Ulum, Sinoman Pati menjadi lokasi bertemunya puluhan pimpinan Anak Cabang Fatayat se-Kabupaten Pati tersebut. Pertemuan ini nantinya akan berjalan selama tiga bulan sekali. Lokasinya disebar di seluruh PAC. Untuk putaran pertama ini, jatuh pada PAC Pati Kota. Para Pengurus […]

  • PCNU-PATI Photo by stevepb

    Resep Rahasia Simbok

    • calendar_month Ming, 30 Okt 2022
    • account_circle admin
    • visibility 353
    • 0Komentar

    Oleh : Ismi Faizah “Bocah wadon kui kudu iso masak. Ora mung eroh e mangan tok. Iso-iso mbesok diclatu karo morotuo!” (anak perempuan itu harus bisa masak. Bukan cuma tahu makan saja. Bisa-bisa dimarahi mertua nanti). Kalimat yang sama. Diucap berulang kali. Entah kali keberapa sekarang, aku coba mengingat, kesepuluh jariku sampai habis ternyata belum […]

expand_less