Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Takbiran: Suara Tak Bersuara

Takbiran: Suara Tak Bersuara

  • account_circle admin
  • calendar_month Ming, 30 Mar 2025
  • visibility 187
  • comment 0 komentar

Oleh Hamidulloh Ibda*

Selama ini, budaya takbiran, takbir keliling di malam hari Lebaran Idulfitri selalu menggema. Namun, teknologi menggesernya. Jika dulu takbirannya adalah suara manusia, anak-anak, ibu dan bapak, kini digantikan dengan suara sound system, bahkan takbiran koplo dengan versi DJ. Ini kan Namanya “suara tak bersuara”. Rodo angel iki.

Tradisi takbiran menyambut Lebaran Idulfitri memiliki urgensi yang mendalam dalam konteks keagamaan dan sosial budaya umat Islam. Unik dan menarik. Sebab, setahu saya Cuma hanya ada di Nusantara. Secara keseluruhan, tradisi takbiran bukan hanya sekadar ritual keagamaan, tetapi juga memiliki dimensi sosial dan budaya yang penting bagi umat Islam.

 

Hakikat Takbiran

Tradisi takbiran menyambut Lebaran Idulfitri memiliki urgensi yang mendalam, baik dari segi spiritual, sosial, maupun budaya. Takbiran bukan sekadar seremonial, tetapi juga merupakan ekspresi kemenangan dan rasa syukur umat Islam setelah sebulan penuh menjalankan ibadah puasa. Gema takbir yang berkumandang dari masjid-masjid, mushala, dan jalanan menciptakan suasana khusyuk yang mengingatkan setiap Muslim akan kebesaran Allah SWT serta anugerah-Nya.

Secara spiritual, takbiran adalah bentuk pengagungan kepada Allah yang diajarkan langsung oleh Rasulullah SAW. Melalui lantunan kalimat takbir, tahlil, dan tahmid, umat Islam diajak untuk menyadari bahwa segala pencapaian, termasuk keberhasilan menunaikan ibadah Ramadan, hanyalah karena pertolongan Allah. Ini juga menjadi momen refleksi diri, mengingatkan bahwa kehidupan dunia adalah perjalanan menuju keabadian di sisi-Nya.

Dari sisi sosial, takbiran menjadi perekat kebersamaan. Tradisi ini mempertemukan berbagai lapisan masyarakat dalam satu irama yang sama, tanpa memandang status sosial, ekonomi, atau perbedaan lainnya. Suara takbir yang dilantunkan bersama-sama menguatkan rasa persaudaraan, menciptakan atmosfer kehangatan, serta mempererat tali silaturahmi di antara sesama muslim.

Selain itu, takbiran juga memiliki nilai budaya yang khas dalam tradisi Islam di Indonesia. Dari dulu, takbir keliling menjadi simbol perayaan Idulfitri yang sarat dengan nuansa lokal. Anak-anak, remaja, hingga orang tua berbaur, membawa obor (oncor), bedug, dan lampion, menelusuri jalanan desa atau kota dengan penuh suka cita. Tradisi ini memberikan warna tersendiri dalam perayaan Lebaran yang tidak hanya bersifat individual, tetapi juga komunal.

Namun, dalam perkembangan zaman, makna takbiran menghadapi tantangan. Pengaruh teknologi dan modernisasi menggeser tradisi takbiran yang dahulu dilantunkan langsung oleh suara manusia menjadi sekadar rekaman yang diputar lewat pengeras suara. Hal ini berisiko mengurangi nilai kebersamaan dan kehangatan yang seharusnya hadir dalam perayaan takbiran.

Oleh karena itu, mempertahankan tradisi takbiran yang sarat makna menjadi suatu keharusan. Takbiran bukan sekadar ritual, tetapi warisan yang menghubungkan generasi dengan nilai-nilai Islam yang luhur. Dengan menghayati dan melaksanakan takbiran dengan penuh kesadaran, umat Islam dapat merasakan esensi sejati dari kemenangan di hari yang fitri, yakni kemenangan atas hawa nafsu, kemenangan dalam memperkuat iman, serta kemenangan dalam menjalin kebersamaan sebagai satu umat yang bertakwa.

Takbiran: Suara Tak Bersuara

Malam takbiran selalu menjadi momen yang dinantikan menjelang Hari Raya Idulfitri. Dulu, gema takbir menggema dari suara manusia—anak-anak, ibu-ibu, bapak-bapak—yang dengan penuh semangat melantunkan kalimat tahlil dan tahmid. Suara itu bukan sekadar lantunan, tetapi juga cerminan rasa syukur, kebersamaan, dan kemenangan setelah sebulan berpuasa. Namun, kini semua berubah. Takbir yang dulu begitu khas dengan suara manusia, perlahan tergeser oleh dentuman sound system, irama koplo, dan bahkan versi DJ.

Takbir keliling yang dahulu menghadirkan suasana khusyuk kini berubah menjadi ajang hiburan. Kendaraan dengan pengeras suara besar melintas, memainkan takbiran dalam berbagai versi modern yang lebih mirip dengan konser musik. Anak-anak tidak lagi berbaris rapi sambil membawa obor atau lampu hias, melainkan sibuk merekam dan berswafoto untuk media sosial. Tradisi yang dulunya penuh dengan kekhidmatan kini terasa kehilangan makna spiritualnya.

Fenomena ini mencerminkan bagaimana teknologi mengubah cara manusia berinteraksi dengan tradisi. Di satu sisi, teknologi mempermudah penyebaran gema takbir, tetapi di sisi lain, ia juga menghilangkan esensi kebersamaan yang muncul dari suara-suara asli manusia. Takbiran bukan hanya soal mengumandangkan kalimat Allahu Akbar, tetapi juga tentang merasakan kekhusyukan, kebersamaan, dan kebanggaan atas ibadah yang telah dijalani.

Jika suara manusia tergantikan oleh mesin, maka esensi takbiran pun semakin terkikis. Gema takbir seharusnya lahir dari hati, bukan sekadar dari speaker yang diputar otomatis. Jangan sampai kita terjebak dalam euforia yang hanya mengutamakan kemeriahan, tetapi melupakan substansi. Sebab, takbir sejatinya adalah suara iman yang menggetarkan jiwa, bukan sekadar suara yang menggema tanpa makna.

 

*Dr. Hamidulloh Ibda, penulis lahir di Pati, dosen dan Wakil Rektor I Institut Islam Nahdlatul Ulama (Inisnu) Temanggung (2021-2025), Koordinator Gerakan Literasi Ma’arif (GLM) Plus LP. Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah (2024-2029), reviewer 31 Jurnal Internasional terindeks Scopus, Editor Frontiers in Education terindeks Scopus Q1 (2023-sekarang), dan dapat dikunjungi di website Hamidullohibda.com.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PCNU-PATI

    LKD Fatayat NU Winong Singgung Analisis Gender

    • calendar_month Rab, 28 Des 2022
    • account_circle admin
    • visibility 106
    • 0Komentar

    pcnupati.or.id.- WINONG Latihan Kader Dasar (LKD) memegang peran penting dalam organisasi Fatayat NU. Sebab, via LKD, Pengurus Fatayat NU dilatih untuk loyal dan militan terhadap organisasi. Hal itulah yang disampaikan oleh Lilik Khoni’ah, sekretaris PC Fatayat NU Pati kepada pcnupati.or.id.  Sebab pentingnya LKD, pihak PC Fatayat NU Pati mengimbau seluruh PAC untuk mengagendakan kegiatan tersebut. Bahkan, […]

  • Pemkab – PCNU Pati Gelar Tahlil Doa 40 Hari Wafatnya Mbah Moen

    Pemkab – PCNU Pati Gelar Tahlil Doa 40 Hari Wafatnya Mbah Moen

    • calendar_month Kam, 12 Sep 2019
    • account_circle admin
    • visibility 130
    • 0Komentar

    PATI – Pemerintah Kabupaten Pati bekerja sama dengan PCNU Pati menggelar acara Tahlil dan Doa 40 Hari Wafatnya KH. Maimun Zubair, Kamis (12/9/2019) malam. Acara yang digelar di Pendopo Kabupaten Pati ini menggandeng juga perkumpulan Santri Sarang yang tergabung dalam Santri Gayeng. KH Abdul Ghofur Maimoen dalam Acara Memperingati 40 Hari Wafatnya KH. Maimun Zubair yang […]

  • PCNU-PATI

    LBH Ansor Pati Gelar Road Show Hukum untuk Pelajar dan Santri

    • calendar_month Sab, 10 Sep 2022
    • account_circle admin
    • visibility 106
    • 0Komentar

    PATI – Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Gerakan Pemuda Ansor Pati adakan safari penyuluhan hukum ke sembilan sekolah/madrasah dan pesantren di Kabupaten Pati. Hal ini dilakukan untuk membekali para siswa tentang kesadaran hukum. Sehingga siswa adapat menghindari tindakan kriminal, salah satunya bullying atau perundungan. Ketua LBH Ansor Pati, Luqmanul Hakim mengungkapkan, penyadaran hukum memang harus masif […]

  • Ribuan Keluarga NU Dzikir Bersama

    Ribuan Keluarga NU Dzikir Bersama

    • calendar_month Sab, 4 Apr 2020
    • account_circle admin
    • visibility 104
    • 0Komentar

    Hariati (kanan) bersama keluarga kecilnya sedang mengamalkan ijazah dari PCNU Pati untuk menangkal covid 19 PATI-Ribuan Keluarga NU di Pati serentak membaca sholawat nariyah malam ini, Sabtu (4/4). Hal ini sejalan dengan intruksi PCNU Pati terkait usaha lahiriyah melawan covid 19 yang kini sedang merebak. Tujuannya bukan hanya membebaskan corona dari Kabupaten Pati, namun juga […]

  • MAMU Ngerang Salurkan Air Bersih

    MAMU Ngerang Salurkan Air Bersih

    • calendar_month Ming, 22 Sep 2019
    • account_circle admin
    • visibility 112
    • 0Komentar

    TAMBAKROMO-Kekeringan yang melanda beberapa daerah di Kabupaten Pati menyebabkan terhambatnya aktivitas masyarakat. Pasalnya, air sebagai salah kebutuhan vital sulit di dapat. Akhirnya, kegiatan-kegiatan seperti bercocok tanam hingga makan dan minum menuai kendala. Diatribusi air bersih di RW 1 Desa Ngerang, Kecamatan Tambakromo, Pati oleh MA Miftahul Ulum, Ngerang, Mingu (22/9) Menyikapi hal ini, banyak organisasi […]

  • Soal Perayaan Tahun Baru, PCNU Buka Suara

    Soal Perayaan Tahun Baru, PCNU Buka Suara

    • calendar_month Jum, 31 Des 2021
    • account_circle admin
    • visibility 127
    • 0Komentar

    K. Yusuf Hasyim, Ketua PCNU Pati PATI – Memungkasi kalender masehi, selalu menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat luas. Perayaan pergantian tahun, hampir pasti diiringi dengan kemeriahan.  Tahun ini, suasana kemeriahan tahun baru 2022 tampaknya akan sedikit redup. Pasalnya, seperti diketahui bersama, situasi pandemi di negeri ini masih belum menemui ujung.  Namun demikian, beberapa komunitas […]

expand_less