Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Takbiran: Suara Tak Bersuara

Takbiran: Suara Tak Bersuara

  • account_circle admin
  • calendar_month Ming, 30 Mar 2025
  • visibility 520
  • comment 0 komentar

Oleh Hamidulloh Ibda*

Selama ini, budaya takbiran, takbir keliling di malam hari Lebaran Idulfitri selalu menggema. Namun, teknologi menggesernya. Jika dulu takbirannya adalah suara manusia, anak-anak, ibu dan bapak, kini digantikan dengan suara sound system, bahkan takbiran koplo dengan versi DJ. Ini kan Namanya “suara tak bersuara”. Rodo angel iki.

Tradisi takbiran menyambut Lebaran Idulfitri memiliki urgensi yang mendalam dalam konteks keagamaan dan sosial budaya umat Islam. Unik dan menarik. Sebab, setahu saya Cuma hanya ada di Nusantara. Secara keseluruhan, tradisi takbiran bukan hanya sekadar ritual keagamaan, tetapi juga memiliki dimensi sosial dan budaya yang penting bagi umat Islam.

 

Hakikat Takbiran

Tradisi takbiran menyambut Lebaran Idulfitri memiliki urgensi yang mendalam, baik dari segi spiritual, sosial, maupun budaya. Takbiran bukan sekadar seremonial, tetapi juga merupakan ekspresi kemenangan dan rasa syukur umat Islam setelah sebulan penuh menjalankan ibadah puasa. Gema takbir yang berkumandang dari masjid-masjid, mushala, dan jalanan menciptakan suasana khusyuk yang mengingatkan setiap Muslim akan kebesaran Allah SWT serta anugerah-Nya.

Secara spiritual, takbiran adalah bentuk pengagungan kepada Allah yang diajarkan langsung oleh Rasulullah SAW. Melalui lantunan kalimat takbir, tahlil, dan tahmid, umat Islam diajak untuk menyadari bahwa segala pencapaian, termasuk keberhasilan menunaikan ibadah Ramadan, hanyalah karena pertolongan Allah. Ini juga menjadi momen refleksi diri, mengingatkan bahwa kehidupan dunia adalah perjalanan menuju keabadian di sisi-Nya.

Dari sisi sosial, takbiran menjadi perekat kebersamaan. Tradisi ini mempertemukan berbagai lapisan masyarakat dalam satu irama yang sama, tanpa memandang status sosial, ekonomi, atau perbedaan lainnya. Suara takbir yang dilantunkan bersama-sama menguatkan rasa persaudaraan, menciptakan atmosfer kehangatan, serta mempererat tali silaturahmi di antara sesama muslim.

Selain itu, takbiran juga memiliki nilai budaya yang khas dalam tradisi Islam di Indonesia. Dari dulu, takbir keliling menjadi simbol perayaan Idulfitri yang sarat dengan nuansa lokal. Anak-anak, remaja, hingga orang tua berbaur, membawa obor (oncor), bedug, dan lampion, menelusuri jalanan desa atau kota dengan penuh suka cita. Tradisi ini memberikan warna tersendiri dalam perayaan Lebaran yang tidak hanya bersifat individual, tetapi juga komunal.

Namun, dalam perkembangan zaman, makna takbiran menghadapi tantangan. Pengaruh teknologi dan modernisasi menggeser tradisi takbiran yang dahulu dilantunkan langsung oleh suara manusia menjadi sekadar rekaman yang diputar lewat pengeras suara. Hal ini berisiko mengurangi nilai kebersamaan dan kehangatan yang seharusnya hadir dalam perayaan takbiran.

Oleh karena itu, mempertahankan tradisi takbiran yang sarat makna menjadi suatu keharusan. Takbiran bukan sekadar ritual, tetapi warisan yang menghubungkan generasi dengan nilai-nilai Islam yang luhur. Dengan menghayati dan melaksanakan takbiran dengan penuh kesadaran, umat Islam dapat merasakan esensi sejati dari kemenangan di hari yang fitri, yakni kemenangan atas hawa nafsu, kemenangan dalam memperkuat iman, serta kemenangan dalam menjalin kebersamaan sebagai satu umat yang bertakwa.

Takbiran: Suara Tak Bersuara

Malam takbiran selalu menjadi momen yang dinantikan menjelang Hari Raya Idulfitri. Dulu, gema takbir menggema dari suara manusia—anak-anak, ibu-ibu, bapak-bapak—yang dengan penuh semangat melantunkan kalimat tahlil dan tahmid. Suara itu bukan sekadar lantunan, tetapi juga cerminan rasa syukur, kebersamaan, dan kemenangan setelah sebulan berpuasa. Namun, kini semua berubah. Takbir yang dulu begitu khas dengan suara manusia, perlahan tergeser oleh dentuman sound system, irama koplo, dan bahkan versi DJ.

Takbir keliling yang dahulu menghadirkan suasana khusyuk kini berubah menjadi ajang hiburan. Kendaraan dengan pengeras suara besar melintas, memainkan takbiran dalam berbagai versi modern yang lebih mirip dengan konser musik. Anak-anak tidak lagi berbaris rapi sambil membawa obor atau lampu hias, melainkan sibuk merekam dan berswafoto untuk media sosial. Tradisi yang dulunya penuh dengan kekhidmatan kini terasa kehilangan makna spiritualnya.

Fenomena ini mencerminkan bagaimana teknologi mengubah cara manusia berinteraksi dengan tradisi. Di satu sisi, teknologi mempermudah penyebaran gema takbir, tetapi di sisi lain, ia juga menghilangkan esensi kebersamaan yang muncul dari suara-suara asli manusia. Takbiran bukan hanya soal mengumandangkan kalimat Allahu Akbar, tetapi juga tentang merasakan kekhusyukan, kebersamaan, dan kebanggaan atas ibadah yang telah dijalani.

Jika suara manusia tergantikan oleh mesin, maka esensi takbiran pun semakin terkikis. Gema takbir seharusnya lahir dari hati, bukan sekadar dari speaker yang diputar otomatis. Jangan sampai kita terjebak dalam euforia yang hanya mengutamakan kemeriahan, tetapi melupakan substansi. Sebab, takbir sejatinya adalah suara iman yang menggetarkan jiwa, bukan sekadar suara yang menggema tanpa makna.

 

*Dr. Hamidulloh Ibda, penulis lahir di Pati, dosen dan Wakil Rektor I Institut Islam Nahdlatul Ulama (Inisnu) Temanggung (2021-2025), Koordinator Gerakan Literasi Ma’arif (GLM) Plus LP. Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah (2024-2029), reviewer 31 Jurnal Internasional terindeks Scopus, Editor Frontiers in Education terindeks Scopus Q1 (2023-sekarang), dan dapat dikunjungi di website Hamidullohibda.com.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PCNU-PATI

    Pj Bupati Pati Ajak Pelajar NU Teladani Rasulullah

    • calendar_month Rab, 28 Des 2022
    • account_circle admin
    • visibility 274
    • 0Komentar

    Pcnupati.or.id- MARGOYOSO – Penjabat (Pj) Bupati Pati Henggar Budi Anggoro berkesempatan menjadi pemateri wawasan kebangsaan pada kegiatan Latihan Kader Muda (Lakmud) Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kecamatan Margoyoso, Selasa (27/12/2022). Acara yang berlangsung di SMK Cordova Kecamatan Margoyoso itu diikuti oleh para palajar NU […]

  • Buka Acara Mapaba, Ini Pesan Sekum PC PMII Pati

    Buka Acara Mapaba, Ini Pesan Sekum PC PMII Pati

    • calendar_month Sen, 25 Okt 2021
    • account_circle admin
    • visibility 231
    • 0Komentar

    Civitas akademika STAI Pati yang mengikuti Mapaba PMII Rayon Tarbiyah STAIP, berpose bersama beberapa pengurua PMII PATI – Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Rayon Tarbiyah STAI Pati menggelar Masa Penerimaan Anggota Baru (Mapaba) tahun 2021. dengan mengusung tema ‘Menumbuhkan loyalitas antar Anggota Berdaya Saing Tinggi sebagai Harapan Bangsa dan Agama, Mapaba tersebut diikuti sedikitnya oleh […]

  • PCNU-PATI

    NU dan Modernisasi Bangsa

    • calendar_month Sab, 17 Des 2022
    • account_circle admin
    • visibility 287
    • 0Komentar

    Oleh : Siswanto Nahdlatul Ulama (NU) merupakan salah satu organisasi sosial kemasyarakatan dan keagamaan terbebesar di Indonesia, bahkan menurut Gus Dur NU adalah sebuah organisasi terbesar di dunia. Sedangkan enurut Greg Fealy (2003), hadirnya NU sebagai organisasi sosial keagamaan yang mendorong lahirnya tatanan kehidupan bernegara yang berkeadaban. Karena karakteristik NU sebagai organisasi Islam tradisional adalah […]

  • PCNU-PATI

    Islamku Islam Anda Islam Kita

    • calendar_month Rab, 30 Nov 2022
    • account_circle admin
    • visibility 246
    • 0Komentar

    Dalam buku tersebut beliau menjelaskan secara gamblang bagaimana seharusnya umat islam dalam menjalankan sebuah sistem yang ada. Bahkan tulisan beliau ini sangat relevan di masa sekarang dalam masalah sosial, ekonomi dan politik. Padahal buku ini ditulis jauh sebelum seperti saat ini. Disinilah dilihat bahwa beliau memiliki pemikiran jangka panjang dan berkelanjutan dimasa datang perihal perkembangan […]

  • Pengajian Maulidur Rosul

    Pengajian Maulidur Rosul

    • calendar_month Rab, 1 Mar 2017
    • account_circle admin
    • visibility 361
    • 0Komentar

    Pati. Darul Hadlanah melalui kepanitiaan Maulidiyah menggelar pengajian dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad, yang merupakan kegiatan yang diselenggarakan setiap tahunnya, dengan pembicara Ibu Mu’amaroh, beberapa waktu lalu.             Sebelumnya ada banyak serangkain acara untuk ikut memeriyahkan maulidur rosul, diantaranya lomba pidato Bahasa Arab, Bahasa Ingris, dan Bahasa Jawa serta khitobah hal ini mempersiapkan mental […]

  • PCNU Pati Sambut Kapolres Baru, Ini Hasil Perbincangannya

    PCNU Pati Sambut Kapolres Baru, Ini Hasil Perbincangannya

    • calendar_month Kam, 2 Apr 2020
    • account_circle admin
    • visibility 252
    • 0Komentar

    PATI-Polres Pati Datangi Kantor Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Pati, Rabu (1/4) kemarin. Kedatangan Kapolres baru beserta beberapa anggotanya tersebut masih berkaitan dengan penanganan covid 19 di Kabupaten Pati. Para Pemgurus NU dan Polres Pati menyepakati kerjasama untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang ada di Kabupaten Pati. Dalam hal ini, mereka fokus pada tindakan lanjutan penyebaran virus […]

expand_less