Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Cerpen » Menikah?

Menikah?

  • account_circle admin
  • calendar_month Ming, 3 Jul 2022
  • visibility 193
  • comment 0 komentar

Menikah? Ah, bukan hal baru di telinga Farhan. Sudah sejak lama Nyai Haniva–Mejedik-nya membahas hal itu, tapi tak pernah ditanggapinya dengan serius karena ingin fokus dulu mematangkan ilmu serta hapalan Alqur’an selama di Tarim. Namun, sepertinya kali ini ia tak bisa lagi menganggap itu hal sepele. Nyai Haniva sudah membuatnya berhenti berpetualang dan membahas perjodohan itu kembali sejak ia menjejakkan kaki lagi di Bangkalan.

“Han, kamu satu-satunya Bani Baihaqi yang harus memenuhi wasiat Kaeh Abdullah untuk menikahi cucu sahabatnya. Lagipula kamu sudah matang dalam ilmu dan umur untuk segera menikah,” ucap Nyai Haniva kemarin malam.

“Bukannya aku tak mau, Mejedik. Aku sangat ingin menikah malah. Umurku sudah kelewat satu tahun dari umur Rasulullah ketika menikah dengan Sayyidah Khadijah.”

“Lalu?”

Sebuah helaan napas terdengar dari lelaki berperawakan jangkung dan kurus itu.

“Umurku memang sudah matang. Tapi gadis pilihan Mejedik itulah yang terlalu muda. Apa dia mau menikah denganku yang sudah tua?”

“Tua apanya. Umur 26 tahun itu masih sangat muda,” goda Nyai Haniva.

“Kami terpaut 10 tahun, Mejedik. Bagaimana kalau dia terpaksa?”

Pertanyaan yang masuk akal. Mereka memang belum pernah bertemu secara langsung. Berbicara via telepon saja tidak pernah apalagi mengobrol empat mata. Hanya saling tahu melalui mulut orang tua masing-masing. Tidak saling mengerti perasaan satu sama lain.

Bagaimana jika faktanya gadis itu terpaksa menerimanya. Tak pernah ia bayangkan jika harus menikahi gadis di bawah umur. Sepengetahuannya, gadis berusia di bawah tujuh belas tahun masih anak-anak dan pasti sangat manja. Ia hanya ingin menikah dan memiliki istri yang sepadan dan dewasa bukan malah mengasuh bocah.

“Witing tresno jalaran soko kulino. Mejedikrasa maqolah jawa ini patut dijadikan panutan. Cinta akan tumbuh seiring berjalannya waktu.”

Sudah ia duga nasehat itu yang akan keluar dari mulut Mejediknya. Nasehat kuno dalam dunia perjodohan. Atau dialog ampuh  yang sudah ada dalam novel-novel dengan tema perjodohan. Farhan tersenyum kecut. Benaknya diliputi kebimbangan.

“Bagaimana kalau ia menikah dengan Habib saja setelah Habib lulus kuliah? Umur mereka tidak terpaut jauh dan insyallah akan jadi pasangan yang cocok,” cetusnya memberi ide.

“Kau tahu aku hanya anak angkat Kaeh Abdullah, Han. Pesantren ini sepenuhnya milikmu. Hanya kamu yang berhak memenuhi wasiat Kaeh tentang perjodohan itu.”

Pandangan Mejedik Haniva menerawang. Sedangkan Farhan merasa bersalah tak sengaja membuat wanita yang sudah sangat berjasa dalam hidupnya mengingat statusnya lagi. Hal itu tak pelak juga membuatnya teringat lagi peristiwa nahas yang menimpa Abuya-nya. Seolah ada ribuan jarum yang menusuk pada ulu hati Farhan. Perih. Tanpa Mejedik Haniva, entah bagaimana nasib dirinya dan pesantren Al-Ishlah. Pesantren yang sudah dibesarkan Kiai Abdullah, kakeknya.

“Tapi bagiku Mejedik bukan orang lain. Mejedik adalah ibu kami,” ujar Farhan kemudian. Membuat kedua mata wanita paru baya itu menghangat.

“Kalau kamu menganggap Mejedik adalah ibu kamu. Tolong penuhi permintaan Mejedik ini.”

Farhan kembali merenung. Pandangannya menyapu lantai. Lalu detik kemudian dengan sangat berat hati ia mengangguk.

“Tapi bolehkah aku menikah setelah mengabdi di pesantren Kiai Hamid Sampang, Mejedik? Aku hanya satu tahun di sana. Sekalian studi banding siapa tahu ada program bagus yang bisa diterapkan di sini.” Farhan meminta negoisasi sekali lagi.

“Baiklah kalau begitu.”

Satu tahun. Semoga cukup untuk mempersiapkan semuanya. Atau mungkin akan ada keajaiban yang bisa membuat perjodohan itu batal, pikir Farhan.

Farhan menoleh ke arah pintu. Sosok lelaki yang berdiri di sana membuyarkan lamunan panjangnya.

Raihan Habib Baihaqi atau biasa dipanggil Habib, menggeleng sambil berdecak ketika mendapati Farhan–sepupunya masih sibuk di depan koper. Memastikan kemeja dan sarung yang ia letakkan di sana semalam. Lalu lelaki berkulit sawo matang itu beralih memilah beberapa kitab klasik untuk dimasukkan ke dalam tas ransel.

Farhan memang sosok perfeksionis dan sangat menjaga penampilan. Baginya lebih baik tidak jadi mengisi ceramah tanpa muthola’ah matang terlebih dulu. Apalagi ini kali pertama ia diundang di acara besar setelah satu bulan sekembalinya dari bumi seribu wali, Tarim.

Berbanding terbalik dengan Habib yang cenderung cuek dan santai. Ia hanya perlu satu stel pakaian muslim, dua potong kaos dan satu celana jeans. Yang penting kamera DSLR dan i-phone sudah masuk ke dalam tas. Dua benda itu sudah seperti napasnya. Jauh-jauh hari ia mendengar bahwa Wonosobo memiliki panorama yang sangat memukau. Juga dataran tinggi Dieng yang menjadi ikon kota ini terdapat banyak objek wisata. Sebagai seorang yang cukup lama menekuni dunia photography, tentu ini momen penting untuk mengabadikan maha karya Sang Pencipta.

“Kita hanya akan pergi ke acara harlah. Bukan untuk untuk umroh, Bung,” ledek Habib. Namun Farhan tak menggubris. Ia tetap fokus pada setumpuk kitab di depannya.

“Kakeh nonggu urrok ah? (Kau yakin akan ikut?).”

Farhan menoleh pada sepupunya yang berdiri di ambang pintu kamarnya. Ia tahu pasti Gutteh Syuaib tak pernah setuju jika putra semata wayangnya itu ikut. Baginya, Habib hanya akan terlihat seperti kacung Farhan. Namun, ibunya bersikeras Habib harus ikut untuk menambah ilmu dan wawasan. Tidak melulu fokus dengan tugas kuliah yang memusingkan.

“Aku bukan anak kecil lagi, Han. Aku bersedia ikut untuk mencari angin segar. Urus saja nasibmu sendiri yang sebentar lagi akan menikah,” ejeknya lagi sambil terkekeh dan berlalu  dari hadapan Farhan.

Farhan menghela napas, berusaha menentramkan hati. Ia tak ingin disibukkan dengan memikirkan calon istrinya yang masih bocil itu. Lebih baik ia memikirkan materi mauidzoh hasanah di acara harlah besok. ( Elin Khanin)

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PCNU-PATI Photo by KamalUddin Dk

    Suara Azan

    • calendar_month Sen, 26 Des 2022
    • account_circle admin
    • visibility 240
    • 0Komentar

    “… Suara azan sebagai bel kesadaran untuk mengingatkan tugas meditasi sehari-hari berupa menoleh ke dalam, kenali diri kemudian bebaskan semua cengkeraman.” Kalimat tersebut diutarakan Gede Prama, penulis dan pelaku meditasi, yang beragama Hindu. Membaca dari refleksi Gede Prama di atas saya begitu tersentuh. Betapa saya tidak pernah menyadari akan pesan yang tersembunyi dari suara azan. […]

  • PCNU_PATI Photo by Mufid Majnun

    Menjaga Marwah Corak Politik Kebangsaan NU

    • calendar_month Sab, 25 Feb 2023
    • account_circle admin
    • visibility 225
    • 0Komentar

    Oleh : Siswanto Dalam menyongsong pesta demokrasi yang tiap lima tahun sekali diadakan, Nahdlatul Ulama (NU) memiliki sumbangsih besar terhadap negara dalam menyumbangkan suaranya melalui umatnya untuk menentukan hak pilihnya sebagai warga negara Indonesia. NU sendiri sebagai ormas terbesar di Indonesia,bahkan terbesar di dunia, tentunya para pengurus paham bentul akan situasi setiap pesta demokrasi telah […]

  • MHI Rutinkan Student Match Setiap Jelang 17-an

    MHI Rutinkan Student Match Setiap Jelang 17-an

    • calendar_month Rab, 14 Agu 2019
    • account_circle admin
    • visibility 188
    • 0Komentar

    GEMBONG-Aroma kemerdekaan sudah tercium dari sekarang. Agustus memang dikenal sebagai bulannya Bangsa Indonesia. Peristiwa bersejarah 17 Agustus 1945 sebagai tonggak kemerdekaan menjadi pengingat beratnya perjuangan merebut kemerdekaan. Meskipun setelah proklamasi masih ada beberapa upaya untuk merebut kedaulatan Indonesia, namun secara de facto, Indonesia telah meredeka sejak tanggal tersebut. Itulah yang disampaikan oleh Sholikhin, S.Pd.I., kepala […]

  • Fida’.

    Fida’.

    • calendar_month Sab, 18 Jun 2022
    • account_circle admin
    • visibility 238
    • 0Komentar

     Telah kita ketahui bersama, bahwa diantara masyarakat kita sering terjadi pelaksanaan bacaan tahlil sebanyak 100.000 kali, atau bacaan sûrat al-ikhlâsh sebanyak 100.000 kali, yang keduanya dikatakan sebagai fida’. Adapun hal tersebut biasanya dimaksudkan untuk mengirim orang yang telah meninggal.   Pertanyaan : Adakah nash Hadits atau keterangan Ulama` yang menerangkan tentang fa’idah tersebut diatas ? […]

  • PCNU-PATI Photo by Chandra Putra

    Perpustakaan Keren Kendari

    • calendar_month Sen, 28 Agu 2023
    • account_circle admin
    • visibility 225
    • 0Komentar

    Oleh : M. Iqbal Dawami Sampai di Kendari hari masih siang. Setelah diajak makan siang oleh panitia, aku diantar ke hotel agar bisa langsung istirahat. Lagi pula mereka masih sibuk mengurus acara hari itu yang selesainya sore hari. Wah, hotelnya bagus banget. Sesampai di kamar aku langsung tepar. Rasanya memang cukup melelahkan bagiku melakukan perjalanan […]

  • Warga Winong Pati Laksanakan Salat Idul Adha di Teras Gereja

    Warga Winong Pati Laksanakan Salat Idul Adha di Teras Gereja

    • calendar_month Kam, 29 Jun 2023
    • account_circle admin
    • visibility 229
    • 0Komentar

    Pcnupati.or.id – Warga Desa Winong, Kecamatan Pati, Kabupaten Pati, laksanakan salat Iduladha di teras Gereja Kristen Muria Indonesia (GKMI), Kamis (29/6/2023) pagi.  Hal itu bukan suasana baru bagi warga desa setempat. Sudah puluhan tahun warga di sana hidup dengan penuh toleransi. Di sana, bagunan gereja GKMI dengan Masjid Al-Muqorrobin, saling berhadapan. Bahkan, kedua tempat ibadah […]

expand_less