Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Ilusi Kaum Kota: Slow Living di Desa

Ilusi Kaum Kota: Slow Living di Desa

  • account_circle admin
  • calendar_month Kam, 6 Feb 2025
  • visibility 229
  • comment 0 komentar

Oleh: Maulana Karim Sholikhin*

Desa memang cenderung lebih unggul dibandingkan kota dalam urusan kualitas udara. Jumlah kendaraan berbahan bakar fosil dan industri makro yang sedikit menjadikan desa tempat yang baik untuk bernapas. Masyarakatnya juga punya kepedulian tinggi dan ramah-ramah. Gedung-gedung belum menjamah sampai ke sana, sehingga view alamnya lebih natural, tanpa solek bangunan tinggi.

Nilai plus lain, Cost hidup di desa sangat terjangkau bagi kalangan berpenghasilan ‘kota’. Makanan, minuman hingga harga tanah akan jauh lebih murah daripada kota dengan komposisi dan ukuran sama. Gaji UMR mungkin butuh waktu hingga ratusan tahun untuk menabung guna membeli sebidang tanah di kota. Akantetapi dengan ukuran yang sama, tanah di desa bisa berpuluh kali lipat lebih terjangkau, sehingga bisa menghemat waktu menabung.

Inilah mengapa trend slow living tinggal di desa menjadi booming. Pesona desa yang tersebar lewat tiktok dan instagram serta memori manis ketika KKN, melahirkan kembali nostalgi nan melankoli, betapa romantiknya jika desa digunakan sebagai destinasi menghabiskan usia.

Hanya saja, sebagai orang yang lahir, tumbuh besar di desa dan pernah merasakan kerasnya kota besar dalam waktu relatif lama, penulis bisa mengomparasikan keabsud-an masyarakat kota maupun desa.

Hidup di sini (baca: desa) memang sangat tricky. Bukan urusan perut dan ekonomi, namun lebih pada fakta sosial. Tinggal di desa untuk selamanya tak bisa dibanding dengan peristiwa manis selama KKN yang hanya satu atau dua bulan. Desa menggenggam tantangannya sendiri, begitupun kota. ‘Kekejaman’ desa tak ubahnya kerasnya kota dalam kemasan sachet dengan rasa yang berbeda.

Pertama, masyarakat desa ancap kali memiliki rasa ingin tau yang tinggi, bahkan sampai merogoh ranah prifasi individu lain. Dengan kata lain, sekat antara A dan B hanyalah garis ilusi. Para hidung belang, jangan harap bisa selingkuh di sini, sebab semua warga akan tahu.

Ke dua, bertautan dengan fakta pertama, kemampuan menganalisa masyarakat desa sangatlah tajam, penggalian data dilakukan secara masif dan canggih. Kita tidak bisa bersembunyi dari mereka, sebab ‘CCTV’ yang terorganisir–seperti bekerja dengan cara magis–bisa mengawasi segala yang kita punya dan kita alami.

Sayangnya, kemampuan ini tidak diiringi dengan pengolahan data dan pengambilan simpulan yang baik, keduanya kacau!. Hal ini terjadi lantaran ‘riset’ yang mereka lakukan amatlah subjektif. Apriori bahwa objek penelitian harus selalu salah, sekaligus menjadi simpulan tanpa pengolahan data terlebih dulu. Sebab, informasi aib lebih laku di pasaran.

Ke tiga, arus informasi, terutama dikalangan emak-emak sangatlah deras. Sebelum ditemukannya jaringan 5G, pasar, sawah, kang sayur sudah menjadi ruang pertukaran informasi dengan kecepatan cahaya. Karenanya, aib yang berhasil dicitrakan akan menyebar liar tanpa kendali dan tidak akan berhenti sebelum seisi desa mengetahui

Ke empat, daya saing masyarakat desa juga lebih tinggi dibandingkan masyarakat kota. Kompetisi selalu terjalin ketat diantara mereka. Ketika satu KK membeli televisi berukuran 41’’, tetangga sebelah melonjak adrenalinnya untuk membeli 52’’. Seorang suami membelikan isterinya sepeda motor, maka isteri tetangga—entah dengan cara apa—juga harus memiliki motor yang sama. Begitu pula dalam urusan fashion sampai teflon untuk menggoreng telur, jika dia punya, akupun harus punya!.

Ke lima, masyarakat desa tanpa disadari menganut marxisme dalam urusan penyetaraan (kecuali kalangan elit desa seperti tuan tanah, ASN, pengusaha atau alumni perantauan Jepang-Korea, mereka punya kelasnya sendiri). Masyarakat bawah yang tampil wah, akan menimbulkan beragam asumsi. Namun segala probabilitas yang muncul tak akan kemana-mana, masih dalam tema: dicurigai memelihara tuyul, babi ngepet atau pesugihan.

Ke enam, Masyarakat desa juga cukup diskriminatif khususnya terhadap kaum miskin. Misal, dalam urusan hajatan saja, orang-orang miskin yang hadir gercep, dicap cari makan gratis. Kalaupun mereka terlambat datang, maka dicap tidak tau diri, kalau mereka tidak datang, apalagi.

Inti dari segala inti, tidak semua warga desa memiliki karakteristik seperti disebutkan tadi, dan tidak ada niatan untuk mendiskreditkan desa (sebab penulis juga orang ndeso). Meski demikian, narasi tersebut bisa dikatakan mendekati valid. Karena, tulisan ini merupakan simpulan dari puluhan bahkan ratusan cerita dari teman-teman yang mukim di desa, dan beberapa diantaranya adalah pengalaman penulis sendiri.

Terakhir, jadikan desa hanya sebagai tempat singgah setiap weekend agar warga metropolitan tidak perlu mumet memikirkan risiko yang harus dihadapi, sekaligus tidak ‘mencemari’ budaya ndeso dengan style kota yang individualis dan materealis. Ujungnya, di desa maupun di kota, slow living selalu bisa digapai hanya dengan mindset stoik yang kuat.

*penulis merupakan pendidik di Ponpes Shofa Az Zahro’ Gembong-Pati

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kembali Dibuka, English Capacity Building Program Ma’arif dan RMI NU Jateng

    Kembali Dibuka, English Capacity Building Program Ma’arif dan RMI NU Jateng

    • calendar_month Sel, 21 Okt 2025
    • account_circle admin
    • visibility 221
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.id Semarang – Lembaga Pendidikan Ma’arif Nahdlatul Ulama (LP Ma’arif NU) dan Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMI NU) Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Tengah kembali membuka kesempatan bagi para guru dan ustadz untuk meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris melalui program NES English Capacity Building Batch 3. Kegiatan ini merupakan hasil kerja sama antara LP […]

  • Biaya Haji 2025 Turun

    Biaya Haji 2025 Turun

    • calendar_month Sel, 7 Jan 2025
    • account_circle admin
    • visibility 207
    • 0Komentar

    pcnupati.or.id. – Kabar bahagia datang dari Senayan. Dalam rapat Kementerian Agama RI dengan Komisi VIII DPR-RI, Senin, (26/1) lalu, ke duanya sepakat untuk menurunkan Biaya Perjalanan Ibadah Haji (BPIH). Semula, BPIH jemaah haji Indonesia 2024 adalah sebesar Rp 93.410.286. Tahun ini atau 1446 H., BPIH  turun empat juta rupiah menjadi Rp 89.410.258. Dari jumlah tersebut, […]

  • PCNU - PATI Photo by Mufid Majnun

    Santri Pemalas Termasuk `Uqûq al-Walidaini.

    • calendar_month Jum, 24 Jun 2022
    • account_circle admin
    • visibility 140
    • 0Komentar

    Seorang santri ketika berangkat ke Pondok Pesantren oleh orang tuanya dipesan untuk seregep (giat) mengaji dan giat muthôla`ah, akan tetapi santri tersebut ketika di Pondok Pesantren termasuk malas ngaji dan muthôla`ah, seandainya orang tuanya tahu, tentu saja akan merasa prihatin dan marah. Pertanyaan : Jika suatu saat di Pondok Pesantren santri tersebut malas (jarang mengaji […]

  • PCNU-PATI

    Gandeng Ranting IPNU Gelang, Tim KKN IPMAFA Selenggarakan Pelatihan Bilal

    • calendar_month Sel, 15 Agu 2023
    • account_circle admin
    • visibility 176
    • 0Komentar

    Jepara – Kelompok Kuliah Kerja Nyata 21 “Tim Wianggeni” Institut Pesantren Mathali’ul Falah (IPMAFA) Pati menggelar Pimpinan Ranting Ikatan Pelajar Nadlatul Ulama (IPNU) mengadakan Pelatihan Bilal, Kamis (10/8/2023). Acara tersebut diikuti oleh peserta didik laki-laki Madrasah Tsanawiyah Tarbiyatul Ulum dan anggota Pimpinan Ranting IPNU Gelang, dengan jumlah peserta 25 orang. Antusiasme peserta sangat terlihat dengan […]

  • Rembuk Merah Putih, FKPT Jateng Ajak Gelorakan Pendidikan Damai Cegah Radikalisme

    Rembuk Merah Putih, FKPT Jateng Ajak Gelorakan Pendidikan Damai Cegah Radikalisme

    • calendar_month Rab, 1 Okt 2025
    • account_circle admin
    • visibility 211
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.id Semarang – Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) RI melalui Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Tengah menggelar kegiatan Rembuk Merah Putih di Wisma Perdamaian, Semarang, Selasa (1/10/2025). Dalam laporannya, Ketua FKPT Jawa Tengah Dr. Hamidulloh Ibda, M.Pd., menyampaikan bahwa kekerasan tidak bisa dilawan dan diselesaikan melalui kekerasan. “Beberapa waktu lalu, kita dihadapkan dengan […]

  • PCNU-PATI

    10.000 Muslimat NU Se Kab Pati Hadiri Peresmian Gedung Baru Muslimat NU

    • calendar_month Sel, 1 Agu 2023
    • account_circle admin
    • visibility 186
    • 0Komentar

    Pcnupati.or.id- Pimpinan Cabang Muslimat NU dan seluruh Muslimat se Kabupaten Pati mengadakan sholawatan dan istigasah dalam rangka peresmian gedung muslimat NU di Gedung Muslimat NU Desa Muktiharjo, Sabtu (29/7). Hadir dalam acara tersebut dihadiri oleh selurus PAC Muslimat se kabupaten Pati baik dari pengurus atau tidak, selain itu juga dihadiri oleh Rois Syuriah Pengurus Cabang […]

expand_less