Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Berita » PGMI UIN Walisongo Gelar Seminar Internasional, Prof Muslih : Agama Tanpa Ilmu Pengetahuan itu Buta

PGMI UIN Walisongo Gelar Seminar Internasional, Prof Muslih : Agama Tanpa Ilmu Pengetahuan itu Buta

  • account_circle admin
  • calendar_month Sab, 8 Apr 2023
  • visibility 159
  • comment 0 komentar

Pcnupati.or.id- Semarang – Jurusan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang melalui Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) PGMI menggelar seminar internasional bertajuk “The Role of Religions and Technology in Growing Character in The Digital Era” pada Selasa (4/4/2023) yang bertempat di Gedung Teater ISDB FITK Kampus 3 UIN Walisongo Semarang. Kegiatan tersebut merupakan rangkaian dari Dies Natalis PGMI ke-16 yang digelar secara tatap muka dan juga melalui Zoom Meeting yang diikuti ratusan peserta dari sejumlah daerah dan luar negeri.

Dalam sambutannya, Wakil Dekan III FITK UIN Walisongo Prof. Dr. H. Muslih M.A., mengatakan apresiasi terhadap kegiatan tersebut karena Jurusan PGMI rutin menggelar kegiatan dies natalis. “Saya mengapresiasi kegiatan ini, karena Jurusan PGMI tiap tahun konsisten menggelar seminar internasional yang menghadirkan para pakar,” katanya.

Dalam sambutannya, pihaknya juga menukil bahwa peran agama dan teknologi dalam membangun karakter di era digital sangat berkesinambungan dan melengkapi. Prof Muslih juga menukil ungkapan ilmuwan Albert Einstein yang menyebut bahwa “science without religion is lame, religion without science is blind” yang artinya ilmu pengetahuan tanpa agama itu cacat, agama tanpa ilmu pengetahuan itu buta.

Maka dari itu, dalam pendidikan, para dokter selain dibekali ilmu-ilmu kedokteran harus dibekali ilmu agama agar tidak menyalahgunakan pengetahuannya. Hal itu juga perlu diperkuat pada ilmu-ilmu matematika, sains, kimia, dan ilmu-ilmu lain.

Dalam kesempatan itu, hadir dua narasumber yaitu dari Universitas Al-Azhar Kairo Mesir Syech Muhammad Athif Iwadh Ramadhan Al-Mishry yang juga dosen ICP Pendidikan Bahasa Arab UIN Walisongo Semarang, dan Wakil Rektor I Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung Hamidulloh Ibda, M.Pd. Hadir juga penerjemah dosen Pendidikan Bahasa Arab Muhammad Fahrun Nadhif, dan moderator Asifatun Hidayah, S.Pd., yang merupakan Ketua Lembaga Pers Mahasiswa UIN tahun 2020.

Dalam paparannya berbahasa Arab, Syech Muhammad Athif Iwadh Ramadhan Al-Mishry mengatakan pentingnya pendidikan Islam dalam membentuk karakter dan generasi yang berkualitas. Hal itu menurutnya harus dimulai dari memilih jodoh untuk berkeluarga, memilih guru, memilih tempat pendidikan baik madrasah, sekolah, pendidikan tinggi.

Pihaknya juga menceritakan tradisi pernikahan di Arab dengan di Indonesia, dan menyampaikan untuk memilih jodoh baik suami atau istri harusnya tidak sekadar dari fulus (materi) saja, namun yang pokok adalah akhlakul karimah karena nanti orang tua khususnya ibu menjadi guru bagi anak-anaknya.

Sementara itu, narasumber kedua Wakil Rektor I Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung Hamidulloh Ibda, dalam paparannya berjudul “Integration of Religion and Science-Technology in Growing Character with The Unity of Science Paradigm” menegaskan bahwa di era digital saat ini banyak sekali kehancuran dan tanda-tanda kehancuran bagi suatu bangsa. Ia menukil 10 indikator kehancuran suatu bangsa dari Thomas Lickona yaitu pertama meningkatnya kekerasan di kalangan remaja. Kedua, penggunaan bahasa dan kata-kata yang buruk. Ketiga, pengaruh peer group yang kuat dalam tindak kekerasan. Keempat, meningkatnya perilaku yang merusak diri seperti narkoba, seks bebas dan alkohol. Kelima, kaburnya pedoman moral baik dan buruk. Keenam, penurunan etos kerja. Ketujuh, rendahnya rasa hormat kepada orangtua dan guru. Kedelapan, rendahnya rasa tanggungjawab baik sebagai individu dan warganegara. Kesembilan, ketidakjujuran yang telah membudaya. Kesepuluh, adanya rasa saling curiga dan kebencian di antara sesama. Kita bangsa ini seakan memilikinya secara lengkap.

Pihaknya menukil idiom kehancuran di dalam Al-Quran yaitu pertama, jahiliyah yang merupakan kerusakan bidang akal/intelektual, seperti zaman Jahiliyah dan sudah ada sejak pra Islam atau pra Rasulullah Saw. “Kedua, adalah fasad, ini merupakan kerusakan di atas jahiliyah, bisa termasuk bidang moral/tindakan manusia. Ketiga adalah zulumat, yaitu kerusakan yang kompleks, kegelapan, kasus akal dan moral. Keempat yang terakhir adalah kiamat, ini merupakan kehancuran segalanya, baik ada yang skala kubro maupun sughro. Jika kita lihat kondisi Indonesia hari ini, kata dia, kira-kira Indonesia pada posisi yang mana?” kata Ibda yang juga International Reviewer di International Journal Ihya’ ‘Ulum al-Din tersebut.

Ibda yang juga International Reviewer di International Journal of Social Learning menegaskan, era disrupsi dan pandemi Covid-19 menjadikan Indonesia mau tidak mau harus mengoperasikan teknologi. Namun di sisi lain, era digital seperti saat ini, menurut Tom Nichols dalam bukunya The Death of Expertise 2017, banyak sekali muncul pakar abal-abal. “Siapa yang membunuh pakar? Kita bisa lihat para Selebgram, Youtuber, Influencer, Buzzer, mereka hanya menguasai teknologi, tapi kebanyakan bukan pakar,” katanya.

Ciri berikunta adalag bisa sedikit, tapi sudah mengaku pakar. “Banyak orang tidak punya basik keilmuwan dan sanad keilmuwan yang jelas, tapi mengaku pakar, dan banyak orang tidak jelas otoritas keilmuan tapi dijadikan rujukan. Inilah tantangan pendidikan khususnya guru MI/SD yang harus bisa menjawabnya. Seperti contoh, hari ini kita mau membuat daftar isi skripsi, saya pastikan hampir 90 persen mahasiswa tidak tanya dosen, namun tanya di Youtube,” kata Ibda yang merupakan International Reviewer Pegem Egitim ve Ogretim Dergisi Turkey tersebut.

Pihaknya menawarkan sejumlah gagasan untuk membentuk generasi yang berkarakter, memegang teguh nilai dan ajaran Islam, perlu merujuk paradigma keilmuwan yang dikembangkan oleh UIN Walisongo Semarang yaitu Unity of Science, Wahdatul Ulum, atau paradigma kesatuan ilmu. “Jika kita merujuk Ian Graeme Barbour dalam bukunya Religion and Science dan Issues in Science and Religion, atau M Amin Abdullah dalam bukunya Islamic Studies di Perguruaan Tinggi, Pendekatan Integratif- Integratif,  di sana dijelaskan bahwa potensi agama – sains dan juga teknologi ada empat, yaitu konflik, independent, dialog dan integrasi. “Hampir semua perguruan tinggi keagamaan Islam mengadopsi skema atau model integrasi termasuk UIN Walisongo Semarang,” beber mahasiswa S3 Pendidikan Dasar UNY tersebut.

Ia juga mengaskan, paradigma Unity of Science yang digagas Abdul Muhaya dan Muhyar Fanani tersebut bisa diimplementasikan dengan menyatukan agama, nilai-nilai agama, karakter yang dijadikan ruh dalam pendidikan, yang dibantu sains-teknologi baik sebagai alat, media, dan materi untuk membangun karakter bagi pelajar dan mahasiswa. 

Usai pemaparan materi, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi dan tanya jawab baik dari peserta yang datang di lokasi maupun yang hadir melalui Zoom. Di akhir sesi, kegiatan diakhiri dengan doa dan foto bersama. Dalam kesempatan itu, hadir Kajur PGMI FITK UIN Walisongo Hj. Zulaikha, M.Ag., M.Pd., dan Sekjur Kristi Liani Purwanti, S.Si., M.Pd., sejumlah dosen, panitia, pengurus HMJ PGMI, dan mahasiswa dari PGMI UIN Walisongo dan sejumlah perguruan tinggi dari luar. (ibd)

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PCNU - PATI

    7 Teladan Mbah Dimyati Rais

    • calendar_month Jum, 10 Jun 2022
    • account_circle admin
    • visibility 194
    • 0Komentar

    Membaca biografi KH. Dimyathi Rais yang baru saja wafat, ada beberapa teladan agung yang bisa dipetik. 1. Spirit thalabul ilmi Beliau adalah sosok pengelana pengetahuan yang haus ilmu. Pondok APIK, Lirboyo, Sarang, dan lain-lain menjadi destinasi keilmuan beliau. Dalam salah satu vidio youtube Beliau menjelaskan salah satu ulama hebat, yaitu Imam Syafii, sosok pengelana pengetahuan […]

  • Kyai Suja’i dan Sutopo Pimpin Kembali MWCNU Kec. Jakenan

    Kyai Suja’i dan Sutopo Pimpin Kembali MWCNU Kec. Jakenan

    • calendar_month Ming, 25 Des 2022
    • account_circle admin
    • visibility 178
    • 0Komentar

    Pcnupati.or.id – KH. Ahmad Suja’i dan Sutopo, S.Pd., MM terpilih kembali menjadi Rais dan Ketua MWCNU Kecamatan Jakenan, masa khidmat 2022-2027. Keduanya, yang merupakan ‘incumbent’ terpilih kembali dalam Konferensi Wakil Cabang MWCNU Kec. Jakenan yang digelar Ahad, 25 Desember 2022 di Gedung Haji IPHI Jakenan.Konferensi Wakil Cabang MWCNU Kecamatan Jakenan, sebagaimana disampaikan oleh Ketua Panitia, […]

  • Menyelam sambil Minum Air, Berikut Rangkaian Pelantikan Pelajar NU Gembong

    Menyelam sambil Minum Air, Berikut Rangkaian Pelantikan Pelajar NU Gembong

    • calendar_month Sel, 15 Feb 2022
    • account_circle admin
    • visibility 107
    • 0Komentar

      Pelantikan PAC IPNU Gembong dipimpin langsung Ketua PC IPNU Pati GEMBONG – PAC. IPNU-IPPNU Gembong sukses adakan pelantikan pada Minggu (13/2) malam di aula lantai dua Ponpes Shofa Az Zahro’. Acara sakral ini, berjalan penuh khidmat dan semangat. Sebab, selain dihadiri oleh ketua PC IPNU-IPPNU Pati, agenda tersebut juga dihadiri oleh para pengurus MWC-NU, […]

  • Jamaah dan Jam’iyyah Harus Sinergi

    Jamaah dan Jam’iyyah Harus Sinergi

    • calendar_month Sen, 8 Jul 2019
    • account_circle admin
    • visibility 115
    • 0Komentar

    Pati, Jajaran Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Pati memaparkan secara garis besar tentang program program selama lima tahun mendatang pada Ahad (7/7/2019) dalam musyawarah kerja cabang. Ketua PCNU Pati Yusuf Hasyim mengemukakan bahwa jamaah dan jam’iyyah dalam NU harus bersinergi.”Kenapa Jamaah jamaah kita diajak bergerak kok susah, ketika kita bertanya kepada jamaah, lha pengurus […]

  • PCNU PATI - Ilustrasi Please Forgive me. Photo by Brett Jordan on Unsplash.

    Maaf dan Terima Kasih

    • calendar_month Jum, 13 Mei 2022
    • account_circle admin
    • visibility 103
    • 0Komentar

    Hidup tak luput dari perselisihan. Bagaimanapun jalannya disana pasti akan berjumpa dengan perselisihan. Salah paham, lebih mengedepankan ego dan sengaja melukai merupakan bibit awal timbulnya perselisihan. Dari perselisihan kita bisa belajar dewasa, sekaligus bijaksana, dalam berbicara dan bertindak. Beberapa waktu lalu saya tengah menghadapi perselisihan dengan seorang kawan. Salah paham dan mengedepankan ego lah penyebabnya. […]

  • bgunn-jpeg-3

    Buruh Pembangunan Gereja

    • calendar_month Sab, 26 Mar 2022
    • account_circle admin
    • visibility 168
    • 0Komentar

      1.       Ada orang bekerja membangun tempat ibadah orang kristen (gereja) dan yang melakukan pekerjaan itu orang Islam.   Pertanyaan : a.      Bagaimana hukumnya melakukan pekerjaan itu ?   Jawaban :Hukumnya diharamkan,karena termasuk muharromah.   Referensi : &  Qulyûbi, vol. 3 hal. 70  

expand_less