Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Fenomena Prostitusi dalam Perspektif Fiqih Sosial Kiai Sahal Mahfudh

Fenomena Prostitusi dalam Perspektif Fiqih Sosial Kiai Sahal Mahfudh

  • account_circle admin
  • calendar_month Sab, 26 Nov 2022
  • visibility 616
  • comment 0 komentar

Oleh : Siswanto

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, prostitusi didefinisikan sebagai pertukaran hubungan seksual dengan uang atau hadiah sebagai suatu transaksi perdagangan atau pelacuran. Aktifitas seksual yang terjadi dalam prostitusi bukan lahir karena hubungan sah suami-istri, melainkan karena adanya transaksi “penjual” dan “pembeli”.

Dari sini sudah jelas sekali, bahwa prostitusi merupakan praktik bisnis perzinaan berbayar yang memberikan keuntungan materi bagi pelacur, dan kepuasan birahi bagi pelanggan. Oleh karena prostitusi merupakan produk komersial dari aktifitas seks di luar nikah, maka seluruh pembahasan hukumnya juga disandarkan pada status hukum zina.

Sedangkan dalam kacamata syari’at, praktik perzinaan tergolong kedalam salah satu dosa besar yang harus dijauhi oleh seorang muslim, berdasarkan firman Allah swt dalam QS Al-Isra’ayat32:

Artinya: Dan janganlah kamu mendekati zina, (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji,dan suatu jalan yang buruk.

Berdasarkan ayat di atas dan juga hadits-hadits terkait persoalan zina, para ulama sepakat mengenai keharaman perzinaan, dan dosa besar yang menimpa pelakunya. Pandangan Islam terhadap masalah prostitusi telah sangat jelas dan baku. Meskipun pada dasarnya hukum fiqh selalu dapat ditinjau ulang untuk mengakomodasi situasi dan kondisi yang melingkupi suatu masyarakat, tetapi seluruh paradigma dan metode penggalian hukum (istinbath al-ahkam) telah menutup pintu rapat-rapat bagi peninjauan ulang hukum zina, karena dasar hukumnya telah sangat gamblang dan kuat.

Pada dasarnya, bukan hanya ajaran Islam saja yang mengharamkan perzinaan, lebih-lebih perzinaan berbayar yang ada dalam praktik prostitusi. Nilai-nilai kemanusiaan, ajaran agama lain selain Islam, tata norma bangsa dan negara, semua memandang bahwa perzinaan merupakan tindakan tercela yang harus dijauhi secara mutlak oleh siapapun tanpa terkecuali. Akan tetapi, status hukum zina yang begitu berat, tidak berbanding lurus dengan kenyataan di lapangan. Pada kenyataannya, kendati larangan keras dan stigma negatif atas perzinaan dan pelacuran selalu ada, tetap saja masih banyak yang setia meneruskan tongkat estafet prostitusi dari masa ke masa.

Prostitusi dalam kacamata sosial, bukan sekedar aktifitas perzinaan antara pelacur dan pelanggan. Lebih dari itu, prostitusi berkaitan dengan berbagai aspek kehidupan di masyarakat, seperti: ekonomi, kesehatan, pendidikan dan lain sebagainya. Apalagi, jika aktifitas prostitusi telah menjadi industri seks yang melibatkan banyak kalangan, tentu dampak negatif yang lahir darinya akan sangat besar. Sebagai contoh, di daerah Dolly dan Jarak Surabaya, industri seks telah menjadi sebuah lahan bisnis yang melibatkan banyak elemen masyarakat sekitar

Aktifitas perzinaan yang telah disepakati oleh para ulama sebagai sebuah dosa besar itu, justru memberikan keuntungan yang sangat besar dari sisi ekonomi kepada masyarakatnya, sehingga penghapusan atas budaya prostitusi yang telah mengurat-nadi di wilayah Dolly dan sekitarnya, sebelum era Wali Kota Tri Rismaharini, sangat sulit dilakukan. Keterlibatan elemen masyarakat yang berlapis-lapis, mulai tingkat atas sampai akar rumput, dalam industri seks di Dolly dan sekitarnya, membuat upaya penghapusan prostitusi di daerah Dolly berulang kali tidak mencapai hasil yang maksimal. Sampai ketika pemerintah kota Surabaya memiliki tekad kuat untuk menutup lokalisasi Dolly-Jarak, yang mendapat dukungan kuat dari seluruh lapisan masyarakat Surabaya, baru kemudian industri seks yang berakar kuat di Dolly dan Jarak itu mampu ditutup dan dibumihanguskan.

Kesenjangan yang begitu tinggi antara dampak negatif zina, dengan kenyataan bahwa aktifitas prostitusi masih digemari oleh sebagian kalangan ini lah yang membuat Kiai Sahal tergerak untuk mengeluarkan gagasan tentang lokalisasi prostitusi.

Gagasan tentang lokalisasi prostitusi sama sekali bukan untuk melegalkan prostitusi, karena dalam kacamata fiqih, tidak ada satu pun ruang kemungkinan untuk melegalisasi prostitusi.

Lokalisasi prostitusi, dimaksudkan oleh Kiai Sahal, untuk membatasi dan mengawasi ruang gerak prostitusi supaya tidak menjalar kemana-mana, sekaligus menjadi pusat rehabilitasi para pelakunya secara gradual dan kontinyu. Langkah solutif yang ditawarkan oleh Kiai Sahal untuk melokalisir prostitusi pada dasarnya merupakan upaya dialektika fiqih dengan realitas, dengan menjadikan fiqih sebagai paradigma pemaknaan sosial, bukan sekedar menjadi alat untuk melihat setiap peristiwa dari kacamata hitam putih.

Gagasan Kiai Sahal tentang lokalisasi prostitusi, sekilas memang tampak kontroversial. Namun jika ditelaah lebih dalam, maka akan muncul sebuah pemahaman bahwa, Kiai Sahal sejatinya tengah menerapkan fiqih yang realistis, yang-dalam bahasa Akhmad Sahal-disebut dengan realisme fiqih. Realisme fiqih ini merupakan salah satu ciri utama dari gagasan fiqih sosial Kiai Sahal.

Sentralisasi lokalisasi prostitusi adalah langkah realistis yang ditawarkan oleh Kiai Sahal sebagai upaya untuk menghapuskan prostitusi secara bertahap dan beradab. Solusi ini dapat dipilih, manakala seluruh pertimbangan dan keberatan normatif tentang prostitusi pada kenyataannya tidak berjalan efektif terhadap upaya penghapusan prostitusi.

Tawaran Kiai Sahal untuk melokalisir prostitusi dan menjauhkannya dari perkampungan penduduk, dengan tujuan untuk meminimalisir kerusakan dan dampak negatif yang lahir dari prostitusi, merupakan aplikasi bermadzhab secara manhaji.

 Bermadzhab secara manhaji adalah bermadzhab dengan mengikuti jalan pikiran dan kaidah penetapan hukum yang telah disusun oleh imam madzhab. Pilihan bermadzhab secara manhaji dijatuhkan oleh Kiai Sahal dalam memandang persoalan prostitusi, karena sudah tidak ada lagi ruang dialektika bagi persoalan zina dalam konteks bermadzhab secara qauli.

 Dalam kajian fiqih, dikenal sebuah kaidah, “Jika ada dua mafsadah saling bertentangan, maka mafsadah yang lebihbesar harus dihindari dengan cara mengambil mafsadah yang lebih ringan.”

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Rakerdin Zona 7, Lembaga Ma'arif NU Diajak Berani Go Internasional

    Rakerdin Zona 7, Lembaga Ma’arif NU Diajak Berani Go Internasional

    • calendar_month Ming, 12 Jan 2025
    • account_circle admin
    • visibility 563
    • 0Komentar

        Pcnupati.or.id-Temanggung – Bertempat di Hall KBIHU Babussalam NU komplek INISNU Temanggung, Lembaga Pendidikan Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah resmi melakukan Rapat Kerja Dinas (Rakerdin) Lembaga Pendidikan Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah Zona 7, Ahad (12/1/2025). Ketua LP Ma’arif PCNU Temanggung Drs. H.Yusuf Purwanto, M.Ag., mengatakan atas nama panitia penyelenggara, pihaknya mengucapkan selamat datang […]

  • PCNU-PATI

    KSPPS BMT USB dan Mahasiswa PMI IPMAFA Sumbangkan Air Bersih ke Desa Terdampak Kekeringan

    • calendar_month Sen, 30 Sep 2024
    • account_circle admin
    • visibility 685
    • 0Komentar

    Pcnupati.or.id- Pati. Koperasi Simpan Pinjam dan Pembiayaan Syariah (KSPPS) BMT Usaha Syariah Bersama (USB) bekerja sama dengan mahasiswa Program Studi Pengembangan Masyarakat Islam (PMI) Institut Pesantren Mathali’ul Falah (IPMAFA) dalam aksi sosial penyaluran air bersih ke desa-desa yang terdampak kekeringan di Kabupaten Pati. Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya kedua lembaga untuk memberikan kontribusi nyata […]

  • Bhineka Tunggal Ika tema Gelar Karya P5

    Bhineka Tunggal Ika tema Gelar Karya P5

    • calendar_month Sab, 9 Nov 2024
    • account_circle admin
    • visibility 411
    • 0Komentar

      Tayu. Bertempat di Aula SMA Negeri 1 Tayu telah di adakan kegiatan Gelar Karya P5 Kelas X dengan tema “Bhinneka Tunggal Ika” Kamis, 7 November 2024 Salah satu tujuan kegiatan tersebut adalah bagaimana mengimplementasikan karakter Pancasila dalam sebuah kreativitas tertentu. Ketua P5 Agus Surono, S.Pd.I. mengemukakan bahwa kegiatan Gelar Karya P5 ini diselenggarakan dalam […]

  • PCNU - PATI

    Ketua PAC IPPNU Gembong: Peremajaan Usia Bukan Solusi yang Tepat

    • calendar_month Kam, 21 Jul 2022
    • account_circle admin
    • visibility 536
    • 0Komentar

    GEMBONG – Ketua PAC IPPNU Gembong, Sri Hayati menilai wacana kebijakan peremajaan usia dalam tubuh IPNU IPPNU tidak tepat. Menurutnya, jika wacana tersebut direalisasikan rasanya kurang pas. Hal ini melihat kondisi lingkungan di Gembong khususnya, masyarakatnya mayoritas belum mengenal apa itu IPNU IPPNU. “Akhir-akhir ini di Gembong banyak yang baru ingin tau apa IPNU IPPNU […]

  • 4 Karakter yang Wajib Dimiliki Seorang Pemimpin. Photo by Hunters Race on Unsplash.

    4 Karakter yang Wajib Dimiliki Seorang Pemimpin

    • calendar_month Sel, 1 Nov 2022
    • account_circle admin
    • visibility 492
    • 0Komentar

    Oleh: Angga Saputra Pcnupati.or.id . – Menjadi seorang pemimpin dalam sebuah organisasi bukanlah hal yang mudah.  Kepemimpinan memiliki beberapa fungsi penting menuju keberhasilan sebuah organisasi. Salah satunya, dengan memberikan visi yang jelas di dalam tubuh organisasi. Dalam hal itu, pemimpin perlu menjelaskan visi yang harus dilakukan para anggota untuk mencapainya. Lebih dari itu, pemimpin harus bisa menginspirasi […]

  • Salah seorang demonstran berorasi di depan Kantor Bupati, Pati. Sebelumnya, mereka juga berunjuk rasa di depan Kantor DPRD

    PMII Cabang Pati Demo di Kantor DPRD, Ini Tuntutannya

    • calendar_month Sen, 11 Apr 2022
    • account_circle admin
    • visibility 487
    • 0Komentar

    PATI-  Puluhan Mahasiswa yang tergabung dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Pati lakukan aksi demo di depan kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) setempat, Senin (11/4). Para mahasiswa mulai datang sekira pukul 10.00 WIB dengan membentangkan berbagai poster bertuliskan bentuk protes terhadap kenaikan harga-harga. Mulanya, puluhan mahasiswa tersebut ditemui oleh Wakil Ketua II DPRD […]

expand_less