Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Tokoh » Kyai Idris Kamali, Menantu Kyai Hasyim yang Jika Namanya Disebut, Jin Lari Tunggang Langgang.

Kyai Idris Kamali, Menantu Kyai Hasyim yang Jika Namanya Disebut, Jin Lari Tunggang Langgang.

  • account_circle admin
  • calendar_month Sen, 25 Apr 2022
  • visibility 635
  • comment 0 komentar
KH. Idris Kamali, salah satu menantu Hadratusy Syaikh Hasyim Asy’ari

KH. Idris Kamali adalah sepupu ibu saya, Afifah binti Harun bin Abdul Jalil. Kalau KH. Idris bin Kamali bin Abdul Jalil. Kiai Abdul Jalil berasal dari Ndoro, Pekalongan. Pergi ke Kedondong Cirebon, mendirikan pondok di Kedondong. Kini pondok tersebut sudah tidak ada. Punya anak namanya Kiai Kamali dan Kiai Harun.

Kiai Kamali berangkat ke Mekkah, mukim di sana. Semua anaknya pun lahir di sana. Setelah pulang, Kiai Idris mesantren (menjadi santri) di Tebuireng Jombang, dan diambil menantu oleh Hadratus Syaikh Kiai Hasyim Asy’ari. Punya putra satu yaitu Gus Abdul Haq.

Setelah istri Kiai Idris wafat, beliau kembali ke Mekkah tahun 1973 dan kembali tahun 1981. Kiai Idris mempunyai kelebihan yang sangat banyak, saya sendiri pernah mengalaminya.

Ketika sowan ke beliau (saya masih nyantri di Lirboyo) tahun 1970, ditanya dengan bahasa Cirebon ;
“Kamu punya uang tidak? Ambil uang itu di toples jajan dalam lemari!”.

Toples jajan itu ternyata benar beirisi uang, seribuan rupiah. Saya Tanya ;
“Berapa uwak?”.

“Ya dua saja….” Jawab beliau.

Konon kata kebanyakan orang, terkadang beliau memberi uang hanya dengan ngronggoli (asal ambil saja). Anehnya setiap beliau mengambil pasti nominalnya pas seperti yang dikehendaki.

Saya sowan ke beliau di Tebuireng dua kali.

Ketika di Mekkah, saya juga menyempatkan diri ikut mengaji kitab Shahih Bukhari dan Ihya’ Ulumuddin ke Kiai Idris. Di Mekkah beliau menghabiskan waktunya di Masjidil Haram setiap waktu.

Beliau memakai dua arloji yang dipakai di kedua tangannya. Yang satu untuk jam istiwa’ dan yang satu untuk waktu biasa. Kalau musim panas, beliau hanya mengenakan kaos dalam saja. Kalau dilihat secara dhohir (kasat mata), itu tidak khusyu’ shalatnya.

Di Mekkah, beliau tinggal di rumah Syaikh Khatib al-Maduri. Beliau tinggal satu rumah dengan Prof. Dr. Djamaluddin Mirri, Rektor Ma’had ‘Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng dan Dekan Fak. Ushuluddin IAIN Surabaya.

Meskipun udzur, waktu jalan beliau tetap tampak semangat dan tidak pakai tongkat. Beliau juga tidak pernah terpeleset. Jika ada pemeriksaaan polisi, anehnya beliau selalu lolos, tidak pernah ditanya izin tinggal di luar negeri. Beliau juga sempat mengajar di Masjidil Haram.

Banyak cerita unik tentang sosok Kiai Idris, salah satunya di Pesantren Kempek Cirebon.

Suatu ketika ada jin yang mengganggu suasana pondok. Semua panik, tanpa pikir panjang saya maju sambil berteriak ; “Saya adukan kamu ke Mbah Idris!”

Mendengar kata – kata saya, jin yang mengganggu itu lari dan tidak berani kembali. Ini terjadi sampai sekarang, kalau nama Kiai Idris disebut maka jin akan takut.

Ayah saya, Aqiel Siradj, adalah santri Kiai Idris. Ayah mengaji kepada Kiai Idris waktu nyantri di Pesantren Kempek.

Suatu ketika di saat bulan Ramadhan, Kiai Idris pergi ke Mesir hanya untuk mengkhatamkan kitab al-Umm di samping makam Imam Syafi’i.

Waktunya mulai pagi sampai sore, kadang sore sampai malam, lalu malamnya dipakai untuk shalat tahajjud. Ketika kembali ke Mekkah, beliau cerita tentang hal itu kepada saya ; “Kalau bacaan saya salah, dibenarkan oleh Imam Syafi’I”.

Subhanalloh..!!

Beliau diantar dan dijemput oleh Pak Syuhada’, seorang yang bekerja di KBRI Arab Saudi. Kiai Idris tidak senang melihat orang kuliah. Suatu kali saya ditanya oleh beliau ;
“Kamu kuliah? Di mana?”

Saya menjawab di Universitas Ummul Qura’. Kiai Idris lalu berkata:
“Masih bagus ngaji di Mekkah, niatnya jiwari baitillah, menjadi mukim yang dekat dengan baitulah. Kalau ngaji insya Allah kamu manfaat, wong kamu kuliah….”.

Kiai Idris adalah sosok yang sederhana dalam hal penampilan, beliau sama sekali tidak terlihat seperti ulama besar yang memakai sorban besar. Beliau hanya memakai imamah (sorban) biasa dan sarung.

Tetapi kalau ada orang yang tahu tentang kema’rifatan Kiai Idris, jika beliau berjalan saja, maka orang pasti akan bersalaman dengan beliau meskipun tidak kenal. Banyak sekali ulama Arab, seperti ulama Mekkah, Syiria, Mesir, Palestina, dan lain-lain. yang menyalami tangan beliau padahal belum pernah ketemu.

Ketika saya cuti kuliah tahun 1983, saya sowan dan mengaji ke Kempek untuk menemui Kiai Idris. Beliau sudah sangat sepuh. Waktu itu Kiai Idris sudah tidak mengajar lagi, kecuali hanya mengajarkan kitab Dalail al-Khayrat.

Beliau juga termasuk kiai yang kaya raya, punya sapi, kambing, sawah dan tanahnya pun berpetak- petak banyaknya. Saya yakin beliau termasuk min jumlatil auliyaillah, maqamnya beliau adalah tajrid. Beliau sudah tidak pernah bertindak dengan menggunakan kausal, tidak menggunakan sabab wa musabab.

Kiai Idris adalah kiai yang hidupnya dikhidmahkan untuk mengaji kitab, mengajar dan beribadah. Beliau telah banyak membaca berbagai kitab disiplin ilmu yang beraneka ragam. Banyak kitab beliau khatamkan berkali-kali.

Saking seringnya mengkhatamkan kitab, seakan-akan beliau hafal isi kitab. Ketika ada santrinya yang membaca kitab kepada beliau, lalu bacaannya salah, maka Kiai Idris tahu kesalahannya, padahal beliau sering kali hanya menyimak bacaan santrinya tanpa melihat kitab. Kelebihan lain, beliau dapat mengetahui jika ada kitab salah cetak.

Ketika masih nyantri di Lirboyo, saya pergi ke Pesantren Tebuireng untuk mengikuti khataman kitab Shahih Bukhari yang dikaji oleh Kiai Idris. Saya sowan dan minta barokah doa. Ketika anak saya yang bernama Muhammad lahir, saya juga sowan menemui Kiai Idris yang pada saat itu sudah sangat sepuh.

*Oleh : Prof. Dr. KH. Said Aqil Siradj* Ketua Umum PBNU, dikutip dari buku ‘Tokoh Besar di Balik Layar, Biografi Almarhum KH. Idris Kamali’

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Diseminasi Karya, Dosen INISNU Jadi Reviewer 31 Jurnal Scopus pada 18 Negara

    Diseminasi Karya, Dosen INISNU Jadi Reviewer 31 Jurnal Scopus pada 18 Negara

    • calendar_month Rab, 8 Jan 2025
    • account_circle admin
    • visibility 506
    • 0Komentar

      Temanggung – Dosen Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung Dr. Hamidulloh Ibda selama tahun 2024 didaulat menjadi reviewer (peninjau) pada jurnal internasional terindeks Scopus sebanyak 31 jurnal. Hal itu terungkap dalam Diseminasi Karya Dosen dan Mahasiswa INISNU Temanggung pada Selasa (7/1/2025). Kegiatan tersebut […]

  • Dukung Toleransi, Mahasiswa UIN Walisongo Gelar Webinar Moderasi Beragama

    Dukung Toleransi, Mahasiswa UIN Walisongo Gelar Webinar Moderasi Beragama

    • calendar_month Kam, 18 Nov 2021
    • account_circle admin
    • visibility 433
    • 0Komentar

    Ruang Zoom Meeting Webinar dengan tema ‘Menguatkan Kerukunan Beragama di Era Pandemi’ yang diselenggarakan oleh Kelompok 107 KKN RDR 77 UIN Walisongo Semarang PATI – Mahasiswa Kelompok 107 KKN RDR 77 tahun 2021 menyelenggarakan Webinar Moderasi Beragama melalui aplikasi Zoom, Minggu (31/10). Acara dengan tema ‘Menguatkan Kerukunan Beragama di Era Pandemi’ ini dihadiri oleh beberapa […]

  • PCNU-PATI

    Menanti Tradisi Sahur Bersama

    • calendar_month Sen, 1 Apr 2024
    • account_circle admin
    • visibility 472
    • 0Komentar

    Oleh Hamidulloh Ibda* Pertanyaannya, mengapa hanya tradisi buka puasa bersama ayng ditetapkan UNESCO sebagai warisan budaya tak benda? Unik dan menarik. Maksud saya di sini, bukan sahur bersamanya, namun tradisi sahur bersama di Nusantara tak populis dan tidak familiar buka puasa bersama. Mengapa ya? Mbuh! Saat bulan Ramadan tiba, ya tentu umat muslim di seluruh […]

  • Rencana Allah Selalu Indah

    Rencana Allah Selalu Indah

    • calendar_month Sen, 15 Feb 2016
    • account_circle admin
    • visibility 478
    • 0Komentar

    Allah dalam menciptakan suatu kehidupan tak lain berpasang-pasang. Demikian pun makhluknya manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan dan lainnya. Ada bumi ada langit, sehat dengan sakit, ada yang miskin ada yang kaya, ada laki-laki ada pula perempuan dan seterusnya. Begitulah Allah maha Adil untuk ciptaannya dalam kehidupan alam semesta ini. Dalam kehidupan manusia sejak pertama kali diciptakan oleh […]

  • NU dan Muhammadiyah Bersatu Mengawal Perda  No 8 Tahun 2013

    NU dan Muhammadiyah Bersatu Mengawal Perda No 8 Tahun 2013

    • calendar_month Sab, 4 Jul 2015
    • account_circle admin
    • visibility 410
    • 0Komentar

    Kabar NU. Sabtu 27 Juni 2015 di ruang rapat Pragola Setda Kab Pati. Ormas terbesar di Kabupaten Pati Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah, Ansor dan Banser mengadakan Audiensi  dengan Forkompinda perihal Perda No 8 tahun 2013  yang telah habis masa toleransinya awal bulan Juli nanti.             “Terima kasih banyak Pak Bupati telah memberikan waktu untuk kami […]

  • Ketua MWC NU Gembong : Pengurus NU Jangan 'Omdo'

    Ketua MWC NU Gembong : Pengurus NU Jangan ‘Omdo’

    • calendar_month Ming, 19 Jan 2025
    • account_circle admin
    • visibility 555
    • 0Komentar

      pcnupati.or.id. – Pengurus Lembaga Amil Zakat Infaq dan Sedekah (Lazisnu) MWC-NU Gembong menggelar Diskusi Upzis – Lazisnu di MI Hidayatul Islam (MHI). Kegiatan ini dilaksanakan pada Ahad (19/1) siang. Shodiq, Ketua Lazisnu Gembong, dalam pengantarnya pengantar menyatakan bahwa, agenda ini dilaksanakan untuk me-refresh kepengurusan Upzis di tingkat Ranting NU. “Maka kami hadirkan para Pengurus […]

expand_less