Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Berita » Kanjengan Meriahkan Haul Syekh Mutamakkin

Kanjengan Meriahkan Haul Syekh Mutamakkin

  • account_circle admin
  • calendar_month Rab, 8 Sep 2021
  • visibility 658
  • comment 0 komentar

 

Potret Desa Kajen dan Masjid Kajen dari udara. Sumber : kajen-margoyoso.desa.id

Sekelompok pemuda Desa Kajen yang tergabung dalam komunitas budaya Kaneman Kajen Jonggringan (Kanjengan) turut memeriahkan Haul Waliyullah Syekh Ahmad Mutamakkin.

Kanjengan menggelar serangkaian acara yakni bincang buku, peluncuran buku, kidungan manuskrip dan ngaji bareng di puncak acara.

“Karena pandemi, semua dilaksanakan secara daring melalui kanal youtube Kanjengan TV. Rangkaiannya selama bulan Muharram/Syuro, atau sepanjang Agustus-September,” ujar Ahmad Falih Nur Hidayat, Ketua Panitia.

Falih mengatakan, sebanyak 11 buku yang diperbincangkan adalah karya-karya yang berkaitan dengan Mbah Mutamakkin atau pun Desa Kajen.

Sementara dua buku yang diluncurkan adalah kajian artefak masjid Kajen dan riwayat serta perjuangan Mbah Mutamakkin.

“Satu buku berbahasa Arab, membedah makna simbolik ornamen Masjid Kajen yang kaya ajaran dan filosofi. Dan satunya lagi cetakan ulang dari buku pertama yang membahas cerita tutur dari para sesepuh tentang Mbah Mutamakkin,” jelas Falih.

Di puncak acara, kata Falih, digelar kidungan Teks Pakem Kajen atau Suluk Alif. Setelah itu ada pengajian daring yang diisi oleh Gus Ulil Abshar Abdalla.

Sementara itu, koordinator Kanjengan Farid Abbad mengatakan, tema Festival Kajen ke-VII kali ini mengangkat tema “Sangkan Paraning Kajen: Ngaji, Ngajeni, Kajen.”

Harapannya, kata Farid, tema tersebut dapat menjadi ikhtiar bersama khususnya warga Desa Kajen untuk mengerti asal usul dan tujuan hidupnya.

“Ini merupakan hasil kerja-kerja kebudayaan yang dilakukan oleh kaneman Kajen secara kontinyu.”

“Kami telah melakukan penelusuran sejarah, mengumpulkan manuskrip, diskusi, kajian, dan sesekali anjangsana ke wilayah-wilayah yang ada kaitannya dengan jejak dakwah Mbah Mutamakkin,” ujar Wakil Pengasuh Ponpes Al-Roudloh Kajen ini.

Farid menjelaskan, ikhtiar tersebut sebagai bentuk komitmen Kanjengan untuk merawat dan terus melestarikan tradisi kampung halaman.

“Mbah Mutamakkin dan Desa Kajen meninggalkan banyak warisan. Sebagai ahli waris, ibarat diberi sebidang tanah, pilihannya ada dua. Tanah itu dijual, atau ditanami tumbuh-tumbuhan supaya ngrembaka dan lebih bermanfaat. Kanjengan memilih yang kedua,” ujar mahasiswa S2 Antropologi UI ini.

“Di puncak acara nanti, terkait Sangkan Paran Kajen ini akan dibahas oleh Gus Ulil Abshar Abdalla pada Selasa 07 September malam,” imbuhnya.

Kidungan Teks Pakem Kajen

Manuskrip yang ditulis pada tahun 1891 ini terakhir ditembangkan pada tahun 1950-an di Pasareyan Mbah Mutamakkin alias Kiai Cabolek alias Pangeran Hadikusuma, cucu Raja Pajang, Joko Tingkir alias Mas Karebet alias Sultan Hadiwijaya. Penulis manuskrip adalah Kiai Abdul Karim dari Margotuhu Ngerojo.

Terakhir, sebab panambangnya setelah itu meninggal dunia. Kaneman Kajen mencoba merevitalisasinya kembali: menembangkan satu-satunya manuskrip yang menyimpan ajaran Dewa Ruci versi Mbah Mutamakkin. Satu-satunya. Sebab dalam manuskrip-manuskrip yang lain, misalnya Serat Cabolek (yang ada belasan versi itu), Ketib Anom lah yang membabar Dewa Ruci.

Kisah lain, Mbah Mutamakkin adalah guru spiritual Pukubuwana II. Ada pertemuan empat mata antara Mbah Mutamakkin dan Pakubuwa II.  Ada ‘bisikan rahasia’ Mbah Mutamakkin yang disampaikan. Bisikan itu agaknya memengaruhi langkah politik-kebangsaan Pakubuwana II kala itu di Jawa, yang sedang gonjang-ganjing.

Kemudian, manuskrip ini juga menceritakan pengalaman seorang santri yang ngaji kepada Mbah Mutamakkin. Namanya Ki Kedung Gede. Awalnya ia hendak melabrak Mbah Mutamakkin karena dianggap sesat. Namun ketika berjumpa, dan mengetahui kapasitas keilmuan Mbah Mutamakkin, Ki Kedung Gede justru malah ingin berguru. Ki Kedung Gede pun mengakui bahwa Mbah Mutamakkin tidak hanya mengajarkan agama Islam, tapi juga ilmu-ilmu kuno.

Lantas, mengapa ditembangkan?

Mbah Yai Ruba’i, generasi kelima yang menyimpan manuskrip tersebut merindukan suasana masa kecilnya. Kira-kira 70-an tahun yang lalu. Kala itu, Mbah Yai Ruba’i bersama ayahandanya, Kiai Syamsuri, setiap tahun mengikuti acara rutin Syuronan di Pasareyan Mbah Mutamakkin. 

Salah satunya tetembangan Teks Pakem Kajen alias Suluk Alif. Warga setempat menyebutnya sebagai ‘kidungan’. Namun kidungan itu hanya berlangsung beberapa tahun. Sebab panambangnya sudah sepuh dan setelah itu meninggal dunia.

Kami sebagai generasi yang berbakti, lantas mencoba mengidungkannya kembali. Salah satunya untuk menebus kerinduan Mbah Yai Ruba’i. Meskipun dengan segala keterbatasan. Sesederhana itu alasannya.

“Menurut kami, ada pertimbangan-pertimbangan yang tidak bisa menggantikan lelaku tradisi yang kadung dianggap kuno. Padahal, tradisi yang bersangkutan dulunya adalah laku hidup sehari-hari. Di masa kini, terutama ada pertimbangan-pertimbangan kultural dan spiritual, yang menurut kami keduanya tidak bisa diwakili oleh teknologi digital dalam melakukan sebuah tradisi,” ujar Taufiq Hakim yang mengidungkan Teks Pakem Kajen. Saat kidungan berlangsung pada 28 Agustus lalu, spontan ada warga Kajen yang ikut mengidungkan. Ia adalah Mbah Yasir. Menurut pengakuannya, Mbah Yasir juga merindukan suasana seperti itu.

Di sisi lain, kata Taufiq, menulis jurnal, buku, esai, adalah penting sebagai eksistensi tradisi di ranah studi dan kontestasi pengembangan studi. Kami juga melakukannya. 

“Tetapi, merevitalisasi tradisi yang telah lama hilang juga tak kalah penting: ‘mengembalikan tradisi’ kepada ahli warisnya. Kedua lelaku tersebut musti berjalan beriringan,” ujar mahasiswa Magister Sastra UGM ini.(sis/ltn)

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • closed brown wooden door

    Sejauh Mana Weton Menghalangimu?

    • calendar_month Jum, 10 Jan 2025
    • account_circle admin
    • visibility 926
    • 0Komentar

      pncupati.or.id – Menelisik lebih jauh tentang peranan weton atau satuan yang masih sangat dipercaya hampir mayoritas orang Jawa. Secara pengertian weton berasal dari bahasa Jawa yang memiliki makna hari kelahiran. Dalam keseharian orang Jawa weton memiliki konsep penting dalam budaya yang sering dikaitkan dengan perhitungan kalender dan ramalan nasib. Kita ketahui bersama, kalau di […]

  • PCNU-PATI Photo by Microsoft 365

    Menjadi Guru untuk Diri Sendiri, Syukur-syukur Orang Lain

    • calendar_month Sen, 19 Des 2022
    • account_circle admin
    • visibility 452
    • 0Komentar

    Oleh : M. Iqbal Dawami Dulu, saya sering resah saat memberi ceramah, entah itu bentuknya khutbah jumat, idul fitri, idul adha, maupun kultum. Resah karena merasa tidak pantas menceramahi orang, sedang diri sendiri masih belangsakan. Tapi setelah mendapat nasihat dari dua orang guru, perasaan itu menjadi hilang. Guru pertama mengatakan bahwa penceramah sama halnya profesi […]

  • Prabowo Dijadwalkan Hadiri Kongres XVIII Muslimat NU

    Prabowo Dijadwalkan Hadiri Kongres XVIII Muslimat NU

    • calendar_month Rab, 15 Jan 2025
    • account_circle admin
    • visibility 442
    • 0Komentar

      pcnupati.or.id. – Kongres XVIII Muslimat NU yang akan diselenggarakan di Jatim Expo, 12 Februari 2025 diperkirakan akan berlangsung meriah. Dalam Kongres organisasi ibu-ibu NU tersebut, rencananya akan dihadiri oleh Ketua PBNU, KH. Yahya Cholil Staquf dan beberapa jajarannya. Tak hanya petinggi NU, Bahkan Presiden RI, Prabowo Subianto pun dijadwalkan akan hadir dalam agenda besar […]

  • SMK Milik NU Ini Masuk Nominasi Pusat Keunggulan Tahun Ini

    SMK Milik NU Ini Masuk Nominasi Pusat Keunggulan Tahun Ini

    • calendar_month Sen, 15 Sep 2025
    • account_circle admin
    • visibility 477
    • 0Komentar

    Pati. – Berita menggembirakan datang dari SMK NU Gembong. Sekolah yang berada di bawah naungan Yayasan Al Ma’arif Gembong tersebut masuk nominasi Sekolah Menengah Kejuruan Pusat Keunggulan (SMK PK). Di Kabupaten Pati sendiri, ada dua SMK yang masuk nominasi tersebut selama periode ini. Ke duanya adalah SMKNU Gembong dan SMK Pelayaran Tayu. Sementara SMKNU merupakan […]

  • Ramadan itu Bulan Macul Langit

    Ramadan itu Bulan Macul Langit

    • calendar_month Kam, 20 Mar 2025
    • account_circle admin
    • visibility 728
    • 0Komentar

      Oleh Hamidulloh Ibda*   Pacul itu cangkul. Tapi dalam bahasa Jawa, macul  berarti mencangkul. Lalu, bagaimana jika macul langit? Langit kok dipacul.   Sebenarnya, macul itu bermakna luas. Dalam bulan Ramadan, ibaratnya kita “banjir” pahala karena Ramadan menjadi bulan yang dinanti-nanti oleh umat Islam ini membawa keberkahan, kedamaian, dan peluang bagi setiap hamba untuk […]

  • Ketua PCNU Ajak Warga Pati Jaga Kondusifitas, Polresta Ingatkan Masyarakat Tidak Terprovokasi

    Ketua PCNU Ajak Warga Pati Jaga Kondusifitas, Polresta Ingatkan Masyarakat Tidak Terprovokasi

    • calendar_month Ming, 31 Agu 2025
    • account_circle admin
    • visibility 415
    • 0Komentar

      Pati – Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Pati, KH. Yusuf Hasyim, menyerukan kepada masyarakat untuk tetap menjaga persatuan dan kedamaian di tengah dinamika yang terjadi di wilayah Pati. Menurutnya, menjaga ketenteraman adalah wujud nyata dari menjalankan perintah Allah SWT dalam bingkai persaudaraan dan persatuan. “Kita semua harus yakin bahwa Pati ini cinta […]

expand_less