Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Berita » Bahasan Suluk Maleman Kali ini Sujud di Tengah Guncangan Zaman

Bahasan Suluk Maleman Kali ini Sujud di Tengah Guncangan Zaman

  • account_circle admin
  • calendar_month Ming, 15 Mar 2026
  • visibility 10.105
  • comment 0 komentar

Pcnupati.or.id Sujud secara semantik bermakna ketundukan mutlak, kepatuhan dan merendahkan diri baik secara jasadi mau pun ruhani. Bila Islam dimaknai penyerahan mutlak kepada Allah, maka sujud adalah manifestasi puncaknya. Bila Islam dimaknai kedamaian, maka sujud adalah bentuk paling sempurna untuk meraihnya.
Ini diungkapkan Anis Sholeh Ba’asyin sebagai simpul penjelasannya dalam Suluk Maleman bertajuk “Sujud, Semesta Sujud; Manusia, Kalang Kabut” pada Sabtu (14/3) kemarin. Dia menjelaskan bahwa semesta, mulai dari materi, tumbuhan hingga binatang, bahkan seluruh unsur pembentuk tubuh kita sebagai manusia tidak pernah tidak dalam kondisi bersujud; hanya kesadaran manusia yang punya dua kemungkinan: ikut bersujud bersama bersama seluruh elemen semesta, atau berjalan mendongak dengan kepongahannya.
Anis kemudian menjelaskan bahwa sejak awal, peradaban modern dibangun dengan dua keangkuhan: pertama, mengganggap manusia sebagai pusat semesta. Kedua, materi sebagai satu-satunya fakta. Kedua landasan ini membuat kerapuhan bawaan peradaban yang di bangun manusia, menjadi tampak semakin nyata.
“Dua landasan yang sangat rapuh tersebut, hanya menegaskan kembali bahwa apa-apapun yang dibangun manusia, bila tidak mengikatkannya dengan Allah, akan selalu bernasib persis rumah laba-laba,” tegas Anis.
Seperti diketahui, konstruksi rumah laba-laba adalah kontruksi bangunan terkuat. Mampu menahan beban berlipat meski disusun dengan jaringan yang lebih tipis dari benang. Tapi kenyataannya, cukup dengan sentuhan ringan tangan bayi sekali pun, rumah tersebut akan porak-poranda. Menurut Anis, dari sinilah asal-usul istilah kalang-kabut dalam bahasa Indonesia, yakni kal-ankabut, seperti laba-laba.
Anis menyebut bahwa peradaban modern banyak menanamkan ilusi dalam kesadaran kita semua. Salah satu ilusinya adalah kebahagiaan bisa diraih dengan kelimpahan material, dengan kekayaan. Padahal salah satu teori ekonomi menyebut bahwa kesenangan hanya akan didapat ketika manusia memperoleh sesuatu untuk pertama kali.
Pertama punya motor orang akan senang, tapi yang kedua, ketiga dan seterusnya kesenangan itu sudah hilang, Demikian juga untuk barang-barang lain. Itu pun masih dengan mereduksi makna kebahagiaan hanya sekadar kesenangan.
“Dunia mengajarkan kita untuk mengejar ilusi bermegah-megahan. Bermegah-megahan kita anggap akan memberi kebahagiaan. Padahal itu hanya fatamorgana. Saat dikejar tidak akan pernah sampai, bila kita terus mengejarnya hanya akan memperoleh lelah sampai ajal menjemput,” terang dia.
Obsesi mengejar ilusi, membuat manusia lupa pada anak, keluarga, tetangga, bahkan negara.
“Para maling koruptor itu lupa pada negaranya. Mereka hanya memperkaya diri dan keluarganya. Mereka hanya ingin bermegah-megahan sampai lupa bahwa di depannya lubang kubur menantinya,” satir Anis.
“Ramadan adalah momentum terbaik untuk bermuhasabah, untuk mengembalikan kemanusiaan di tengah carut marut peradaban saat ini. Salah satunya, kita diajari untuk berhenti mengejar dunia; karena itu hanya akan membuat kita kalang kabut dan akhirnya dibuat hina di dunia,” lanjut Anis.
Anis menambahkan, salah satu cara agar tak terjerumus yakni dengan sujud.
“Sujud meletakkan kepala di tanah atau tempat paling rendah menjadi ekspresi paling sempurna dari ungkapan keIslaman dimana berarti menyerah pada Allah dan membuat diri kita damai,” ucap dia.
Pria yang juga banyak membuat karya sastra itu menyebut, dengan mengingat Allah, maka dapat membuat hati menjadi tenang.
“Bukan berarti lepas dari dunia, namun semua dilakukan dengan tetap mengingat Allah. Sementara puncak keterhubungan dengan Allah adalah ketika sujud. Karena saat sujud, kita kembali disadarkan bahwa pada dasarnya kita bukan siapa-siapa,” tambah dia.
Dalam kesempatan tersebut, Anis juga menyinggung serangan Amerika dan Israel terhadap Iran. Menurut Anis, peperangan ini banyak mengajarkan hal yang besar bagi kita. Salah satunya: Amerika yang dianggap super power dalam pertahanan, justru kewalahan saat melawan Iran. Bangsa yang telah diembargo selama 45 tahun tapi justru mampu berdaulat.
“Puluhan tahun diembargo, tapi tekhnologi Iran mampu berkembang luar biasa. Tanpa perlu tekhnologi Amerika dan Eropa. Dan itu ditunjukkan dalam perang ini, Amerika yang dianggap penguasa militer dunia cukup kerepotan. Salah satunya contohnya, misil-misil yang dibuat dengan biaya murah, hanya puluhan juta, harus dicegat dengan misil-misil bernilai ratusan juta dollar Amerika,” imbuh dia.
Anis menyebut hal itu bisa terjadi karena di Iran nasionalismenya cukup kuat dan ini dikombinasikan dengan semangat keagamaan yang juga mengakar kuat. Adanya serangan dari luar justru membuat rakyatnya semakin bersatu.
“Negeri kita sebenarnya juga punya sejarah kebangsaan yang cukup mengakar. Kita juga punya banyak anak bangsa yang cerdas, kita punya kekayaan alam yang melimpah. Tinggal ke kemauan politik para pemimpin saja yang justru membuat semua potensi ini nyaris terbuang percuma,” ucap dia.
Hampir 3,5 jam pengajian yang digelar di Rumah Adab Indonesia Mulia tersebut berlangsung, membuat jamaah yang mengikutinya secara langsung maupun melalui berbagai kanal media sosial terlarut menyimaknya. Musik Sampak GusUran juga menjadi penghangat jalannya Suluk Maleman tersebut.

Keterangan foto:
Anis Sholeh Ba’asyin dan Bambang Mursito dalam NgAllah Suluk Maleman “Sujud, Semesta Sujud; Manusia, Kalang Kabut” yang digelar di Rumah Adab Indonesia Mulia, Sabtu (14/3).

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Peraih Umroh PGSI: Hadiah Ini untuk Ibu Agar Bisa ke Baitullah

    Peraih Umroh PGSI: Hadiah Ini untuk Ibu Agar Bisa ke Baitullah

    • calendar_month Ming, 18 Agu 2019
    • account_circle admin
    • visibility 626
    • 0Komentar

    JAKEN-Sri Muhsinah, guru RA yang mendapatkan doorprize umroh berencana menghadiahkan paket umroh tersebut untuk ibu tercinta. Sehingga Sang Ibu tercinta dapat menunaikan ibadah umroh ke Baitullah. Paket umroh ini merupakan hadiah utama dalam acara Jalan Sehat yang digelar oleh Persatuan Guru Seluruh Indonesia (PGSI) pada Minggu (18/8) kemarin. Sebagaimana diberitakan pcnupati.or.id sebelumnya, Persatuan Guru Seluruh Indonesia […]

  • Luar Biasa! LP Maarif Magelang Bekali Guru SD dengan Pelatihan Coding dan AI

    Luar Biasa! LP Maarif Magelang Bekali Guru SD dengan Pelatihan Coding dan AI

    • calendar_month Jum, 1 Agu 2025
    • account_circle admin
    • visibility 531
    • 0Komentar

      pcnupati.or.id Kabupaten Magelang – Lembaga Pendidikan (LP) Maarif NU PCNU Kabupaten Magelang saat ini baru mengadakan pelatihan koding dan Artificial Intelligence (AI) bagi wakil guru SD se-Kabupaten Magelang. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kemampuan guru dalam mengintegrasikan teknologi ke dalam proses pembelajaran. Pelatihan yang berlangsung mulai Senin,28 Juli sd Jumat,1 Agustus 2025 ini diikuti oleh […]

  • Pendidikan Responsif Gender

    Pendidikan Responsif Gender

    • calendar_month Jum, 30 Jul 2021
    • account_circle admin
    • visibility 379
    • 0Komentar

     Oleh : Sulistiani* Gender merupakan perlabelan atas laki-laki dan perempuan. Kontruksi ini tidak lagi membedakan laki-laki dan perempuan atas perbedaan seks yang dimiliki. Secara mendasar gender berbeda dari jenis kelamin biologis. Jenis kelamin biologis merupakan pemberian, kita dilahirkan sebagai seorang laki-laki atau seorang perempuan. Seperti halnya yang di kemukakan Hartian Silawati dalam buku Gender & […]

  • Menggalakkan Tradisi Menulis di Kalangan Pesantren Pati

    Menggalakkan Tradisi Menulis di Kalangan Pesantren Pati

    • calendar_month Sen, 9 Mar 2015
    • account_circle admin
    • visibility 397
    • 0Komentar

    Peradaban Islam adalah “peradaban buku”. Tidaklah berlebihan dengan pernyataan itu, mengingat Al-Qur’an—sebagai kitab suci—dapat disebut sebagai teks sentral dalam sejarah peradaban Islam. Hal itu bisa dibuktikan lewat sejarah. Penanda pertama ditandai dengan turunnya ayat Al-Qur’an yang pertama kali, berbunyi: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan […]

  • gysd-jpg-2

    Belajar dari Gus Dur

    • calendar_month Jum, 25 Mar 2022
    • account_circle admin
    • visibility 473
    • 0Komentar

      “Dengan lelucon, kita sejenak melupakan kesulitan hidup. Dengan humor, pikiran kita jadi sehat.” Kalau ada orang yang mendapatkan gelar bertitel “Doktor Honoris Causa” itu sudah biasa.  Sedangkan kalau ada orang yang mendapatkan gelar bertitel “Doktor Humoris causa” itu baru luar biasa. Kira-kira itulah gelar yang pas untuk disematkan kepada KH. Abdurrahman Wahid atau yang […]

  • PCNU-PATI

    BPUN Pati Resmi Dibuka, Harapkan Pemerintah Berikan Dukungan

    • calendar_month Sel, 11 Apr 2023
    • account_circle admin
    • visibility 463
    • 0Komentar

    Pcnupati.or.id- TRANGKIL – Bimbingan Persiapan Masuk Perguruan Tinggi Negeri (BPUN) Pati resmi dibuka pada Senin (10/4). Bimbingan yang diselenggarakan oleh PC IPNU IPPNU Pati bersama Majelis Alumni Sanlat (MAS) BPUN Pati ini digelar di Madrasah Mansyaul Ulum, Kadilangu, Trangkil Pati. Hadir dalam kesempatan itu, Ketua PC IPNU Pati sekaligus Manajer BPUN Pati 2023 Mastna Zakiyyatus […]

expand_less