Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Berita » Bahasan Suluk Maleman Kali ini Sujud di Tengah Guncangan Zaman

Bahasan Suluk Maleman Kali ini Sujud di Tengah Guncangan Zaman

  • account_circle admin
  • calendar_month Ming, 15 Mar 2026
  • visibility 10.029
  • comment 0 komentar

Pcnupati.or.id Sujud secara semantik bermakna ketundukan mutlak, kepatuhan dan merendahkan diri baik secara jasadi mau pun ruhani. Bila Islam dimaknai penyerahan mutlak kepada Allah, maka sujud adalah manifestasi puncaknya. Bila Islam dimaknai kedamaian, maka sujud adalah bentuk paling sempurna untuk meraihnya.
Ini diungkapkan Anis Sholeh Ba’asyin sebagai simpul penjelasannya dalam Suluk Maleman bertajuk “Sujud, Semesta Sujud; Manusia, Kalang Kabut” pada Sabtu (14/3) kemarin. Dia menjelaskan bahwa semesta, mulai dari materi, tumbuhan hingga binatang, bahkan seluruh unsur pembentuk tubuh kita sebagai manusia tidak pernah tidak dalam kondisi bersujud; hanya kesadaran manusia yang punya dua kemungkinan: ikut bersujud bersama bersama seluruh elemen semesta, atau berjalan mendongak dengan kepongahannya.
Anis kemudian menjelaskan bahwa sejak awal, peradaban modern dibangun dengan dua keangkuhan: pertama, mengganggap manusia sebagai pusat semesta. Kedua, materi sebagai satu-satunya fakta. Kedua landasan ini membuat kerapuhan bawaan peradaban yang di bangun manusia, menjadi tampak semakin nyata.
“Dua landasan yang sangat rapuh tersebut, hanya menegaskan kembali bahwa apa-apapun yang dibangun manusia, bila tidak mengikatkannya dengan Allah, akan selalu bernasib persis rumah laba-laba,” tegas Anis.
Seperti diketahui, konstruksi rumah laba-laba adalah kontruksi bangunan terkuat. Mampu menahan beban berlipat meski disusun dengan jaringan yang lebih tipis dari benang. Tapi kenyataannya, cukup dengan sentuhan ringan tangan bayi sekali pun, rumah tersebut akan porak-poranda. Menurut Anis, dari sinilah asal-usul istilah kalang-kabut dalam bahasa Indonesia, yakni kal-ankabut, seperti laba-laba.
Anis menyebut bahwa peradaban modern banyak menanamkan ilusi dalam kesadaran kita semua. Salah satu ilusinya adalah kebahagiaan bisa diraih dengan kelimpahan material, dengan kekayaan. Padahal salah satu teori ekonomi menyebut bahwa kesenangan hanya akan didapat ketika manusia memperoleh sesuatu untuk pertama kali.
Pertama punya motor orang akan senang, tapi yang kedua, ketiga dan seterusnya kesenangan itu sudah hilang, Demikian juga untuk barang-barang lain. Itu pun masih dengan mereduksi makna kebahagiaan hanya sekadar kesenangan.
“Dunia mengajarkan kita untuk mengejar ilusi bermegah-megahan. Bermegah-megahan kita anggap akan memberi kebahagiaan. Padahal itu hanya fatamorgana. Saat dikejar tidak akan pernah sampai, bila kita terus mengejarnya hanya akan memperoleh lelah sampai ajal menjemput,” terang dia.
Obsesi mengejar ilusi, membuat manusia lupa pada anak, keluarga, tetangga, bahkan negara.
“Para maling koruptor itu lupa pada negaranya. Mereka hanya memperkaya diri dan keluarganya. Mereka hanya ingin bermegah-megahan sampai lupa bahwa di depannya lubang kubur menantinya,” satir Anis.
“Ramadan adalah momentum terbaik untuk bermuhasabah, untuk mengembalikan kemanusiaan di tengah carut marut peradaban saat ini. Salah satunya, kita diajari untuk berhenti mengejar dunia; karena itu hanya akan membuat kita kalang kabut dan akhirnya dibuat hina di dunia,” lanjut Anis.
Anis menambahkan, salah satu cara agar tak terjerumus yakni dengan sujud.
“Sujud meletakkan kepala di tanah atau tempat paling rendah menjadi ekspresi paling sempurna dari ungkapan keIslaman dimana berarti menyerah pada Allah dan membuat diri kita damai,” ucap dia.
Pria yang juga banyak membuat karya sastra itu menyebut, dengan mengingat Allah, maka dapat membuat hati menjadi tenang.
“Bukan berarti lepas dari dunia, namun semua dilakukan dengan tetap mengingat Allah. Sementara puncak keterhubungan dengan Allah adalah ketika sujud. Karena saat sujud, kita kembali disadarkan bahwa pada dasarnya kita bukan siapa-siapa,” tambah dia.
Dalam kesempatan tersebut, Anis juga menyinggung serangan Amerika dan Israel terhadap Iran. Menurut Anis, peperangan ini banyak mengajarkan hal yang besar bagi kita. Salah satunya: Amerika yang dianggap super power dalam pertahanan, justru kewalahan saat melawan Iran. Bangsa yang telah diembargo selama 45 tahun tapi justru mampu berdaulat.
“Puluhan tahun diembargo, tapi tekhnologi Iran mampu berkembang luar biasa. Tanpa perlu tekhnologi Amerika dan Eropa. Dan itu ditunjukkan dalam perang ini, Amerika yang dianggap penguasa militer dunia cukup kerepotan. Salah satunya contohnya, misil-misil yang dibuat dengan biaya murah, hanya puluhan juta, harus dicegat dengan misil-misil bernilai ratusan juta dollar Amerika,” imbuh dia.
Anis menyebut hal itu bisa terjadi karena di Iran nasionalismenya cukup kuat dan ini dikombinasikan dengan semangat keagamaan yang juga mengakar kuat. Adanya serangan dari luar justru membuat rakyatnya semakin bersatu.
“Negeri kita sebenarnya juga punya sejarah kebangsaan yang cukup mengakar. Kita juga punya banyak anak bangsa yang cerdas, kita punya kekayaan alam yang melimpah. Tinggal ke kemauan politik para pemimpin saja yang justru membuat semua potensi ini nyaris terbuang percuma,” ucap dia.
Hampir 3,5 jam pengajian yang digelar di Rumah Adab Indonesia Mulia tersebut berlangsung, membuat jamaah yang mengikutinya secara langsung maupun melalui berbagai kanal media sosial terlarut menyimaknya. Musik Sampak GusUran juga menjadi penghangat jalannya Suluk Maleman tersebut.

Keterangan foto:
Anis Sholeh Ba’asyin dan Bambang Mursito dalam NgAllah Suluk Maleman “Sujud, Semesta Sujud; Manusia, Kalang Kabut” yang digelar di Rumah Adab Indonesia Mulia, Sabtu (14/3).

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pimpin Upacara 17-an di Pati, Ini Pesan Taj Yasin

    Pimpin Upacara 17-an di Pati, Ini Pesan Taj Yasin

    • calendar_month Ming, 17 Agu 2025
    • account_circle admin
    • visibility 397
    • 0Komentar

      pcnupati.or.id – Upacara Hari Kemerdekaan ke-80 Republik Indonesia di Kabupaten Pati, diselenggarakan Ahad (17/8) pagi tadi. Agenda sakral itu dilaksanakan di halaman pendopo kabupaten. Dilansir dari jateng.nu.or.id, upacara kemerdekaan di Kabupaten Pati tahun ini dipimpin langsung oleh Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen. Pria yang akrab disapa Gus Yasin tersebut mengaku mendapatkan mandat […]

  • Berbagi dan Bersyukur

    Berbagi dan Bersyukur

    • calendar_month Sen, 6 Jan 2025
    • account_circle admin
    • visibility 362
    • 0Komentar

    Oleh: M. Iqbal Dawami Saya menonton kiriman video dari Pak Djoko Kusumowidagdo tentang Harjanto Halim yang menceritakan perayaan ulang tahun ayah mertuanya yang ke-88. Begitu mengesankan saya menontonnya. Tampak suasana yang sangat hangat. Meskipun acara berlangsung meriah, dengan banyak tamu yang hadir, yang paling mencuri perhatian adalah pesan yang disampaikan oleh sang ayah yang sedang […]

  • PCNU-PATI

    Rangkul Komunitas Produsen Kopi, KKN Tempura IPMAFA Lakukan Pendampingan Marketing UMKM Kopi Desa Tempur

    • calendar_month Sel, 5 Sep 2023
    • account_circle admin
    • visibility 493
    • 0Komentar

    Pcnupati.or.id-Tempur, 01/09/2023. KKN Tempura melaksanakan program di bidang ekonomi yang berkaitan dengan pendampingan marketing kepada para pelaku usaha kopi. Kegiatan dikemas secara santai berupa kopdar, bersama dengan komunitas UMKM kopi desa Tempur bernama Klaster Kopi Tempur yang diketuai oleh Khusnul Ulum yang sekaligus pemilik The Real Kopi Tempur serta tim KKN Tempura IPMAFA. Klaster Kopi […]

  • Koin Kemandirian NU

    Koin Kemandirian NU

    • calendar_month Rab, 31 Jan 2018
    • account_circle admin
    • visibility 320
    • 0Komentar

    RABU, 31 Januari 2018, Nahdlatul Ulama memeringati Hari Lahir (Harlah) ke-92. Berdiri sejak 31 Januari 1926, kontribusi NU pada bangsa tidak terhitung jumlahnya, baik dalam konteks pembinaan moral, peningkatan kualitas pendidikan, pemberdayaan ekonomi umat, serta internalisasi nasionalisme dan patriotisme. NU berdiri dari tiga embiro gerakan, yaitu Nahdlatul Wathan yang bergerak di bidang nasionalisme (1916), Tashwirul […]

  • PCNU-PATI

    Tradisi Buka Puasa Bersama

    • calendar_month Ming, 31 Mar 2024
    • account_circle admin
    • visibility 335
    • 0Komentar

    Oleh Hamidulloh Ibda* Baru-baru ini ditetapkan, tradisi buka puasa bersama ditetapkan UNESCO sebagai warisan budaya tak benda. Menarik memang. UNESCO mencatat bahwa budaya berbuka puasa bersama menjadi daftar warisan budaya tak benda yang secara resmi diakui sejak 2023 lalu dan diklaim sebagai budaya warisan milik seluruh umat muslim di dunia. Menurut UNESCO, berbuka puasa diartikan […]

  • PCNU-PATI Photo by Jason Leung

    Bagai Pungguk Menjerat Bulan Part 2

    • calendar_month Ming, 9 Jul 2023
    • account_circle admin
    • visibility 300
    • 0Komentar

    Oleh: Elin Khanin “Nga-ngapunten, Bu Nyai. Maaf, ini santri baru, Bu Nyai. Tolong dimaafkan. Biar nanti saya yang beri hukuman,” ucap lelaki berkacamata terbata—santri senior yang bertugas sebagai pengawas kelompok. Jika tidak salah dengar tadi namanya Kang Awan. Ya, Kang Awan. Dari suaranya, kentara sekali jika dia sedang menahan ketakutan. Sangat berbanding terbalik dengan sikap […]

expand_less