Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Berita » Bahasan Suluk Maleman Kali ini Sujud di Tengah Guncangan Zaman

Bahasan Suluk Maleman Kali ini Sujud di Tengah Guncangan Zaman

  • account_circle admin
  • calendar_month Ming, 15 Mar 2026
  • visibility 10.169
  • comment 0 komentar

Pcnupati.or.id Sujud secara semantik bermakna ketundukan mutlak, kepatuhan dan merendahkan diri baik secara jasadi mau pun ruhani. Bila Islam dimaknai penyerahan mutlak kepada Allah, maka sujud adalah manifestasi puncaknya. Bila Islam dimaknai kedamaian, maka sujud adalah bentuk paling sempurna untuk meraihnya.
Ini diungkapkan Anis Sholeh Ba’asyin sebagai simpul penjelasannya dalam Suluk Maleman bertajuk “Sujud, Semesta Sujud; Manusia, Kalang Kabut” pada Sabtu (14/3) kemarin. Dia menjelaskan bahwa semesta, mulai dari materi, tumbuhan hingga binatang, bahkan seluruh unsur pembentuk tubuh kita sebagai manusia tidak pernah tidak dalam kondisi bersujud; hanya kesadaran manusia yang punya dua kemungkinan: ikut bersujud bersama bersama seluruh elemen semesta, atau berjalan mendongak dengan kepongahannya.
Anis kemudian menjelaskan bahwa sejak awal, peradaban modern dibangun dengan dua keangkuhan: pertama, mengganggap manusia sebagai pusat semesta. Kedua, materi sebagai satu-satunya fakta. Kedua landasan ini membuat kerapuhan bawaan peradaban yang di bangun manusia, menjadi tampak semakin nyata.
“Dua landasan yang sangat rapuh tersebut, hanya menegaskan kembali bahwa apa-apapun yang dibangun manusia, bila tidak mengikatkannya dengan Allah, akan selalu bernasib persis rumah laba-laba,” tegas Anis.
Seperti diketahui, konstruksi rumah laba-laba adalah kontruksi bangunan terkuat. Mampu menahan beban berlipat meski disusun dengan jaringan yang lebih tipis dari benang. Tapi kenyataannya, cukup dengan sentuhan ringan tangan bayi sekali pun, rumah tersebut akan porak-poranda. Menurut Anis, dari sinilah asal-usul istilah kalang-kabut dalam bahasa Indonesia, yakni kal-ankabut, seperti laba-laba.
Anis menyebut bahwa peradaban modern banyak menanamkan ilusi dalam kesadaran kita semua. Salah satu ilusinya adalah kebahagiaan bisa diraih dengan kelimpahan material, dengan kekayaan. Padahal salah satu teori ekonomi menyebut bahwa kesenangan hanya akan didapat ketika manusia memperoleh sesuatu untuk pertama kali.
Pertama punya motor orang akan senang, tapi yang kedua, ketiga dan seterusnya kesenangan itu sudah hilang, Demikian juga untuk barang-barang lain. Itu pun masih dengan mereduksi makna kebahagiaan hanya sekadar kesenangan.
“Dunia mengajarkan kita untuk mengejar ilusi bermegah-megahan. Bermegah-megahan kita anggap akan memberi kebahagiaan. Padahal itu hanya fatamorgana. Saat dikejar tidak akan pernah sampai, bila kita terus mengejarnya hanya akan memperoleh lelah sampai ajal menjemput,” terang dia.
Obsesi mengejar ilusi, membuat manusia lupa pada anak, keluarga, tetangga, bahkan negara.
“Para maling koruptor itu lupa pada negaranya. Mereka hanya memperkaya diri dan keluarganya. Mereka hanya ingin bermegah-megahan sampai lupa bahwa di depannya lubang kubur menantinya,” satir Anis.
“Ramadan adalah momentum terbaik untuk bermuhasabah, untuk mengembalikan kemanusiaan di tengah carut marut peradaban saat ini. Salah satunya, kita diajari untuk berhenti mengejar dunia; karena itu hanya akan membuat kita kalang kabut dan akhirnya dibuat hina di dunia,” lanjut Anis.
Anis menambahkan, salah satu cara agar tak terjerumus yakni dengan sujud.
“Sujud meletakkan kepala di tanah atau tempat paling rendah menjadi ekspresi paling sempurna dari ungkapan keIslaman dimana berarti menyerah pada Allah dan membuat diri kita damai,” ucap dia.
Pria yang juga banyak membuat karya sastra itu menyebut, dengan mengingat Allah, maka dapat membuat hati menjadi tenang.
“Bukan berarti lepas dari dunia, namun semua dilakukan dengan tetap mengingat Allah. Sementara puncak keterhubungan dengan Allah adalah ketika sujud. Karena saat sujud, kita kembali disadarkan bahwa pada dasarnya kita bukan siapa-siapa,” tambah dia.
Dalam kesempatan tersebut, Anis juga menyinggung serangan Amerika dan Israel terhadap Iran. Menurut Anis, peperangan ini banyak mengajarkan hal yang besar bagi kita. Salah satunya: Amerika yang dianggap super power dalam pertahanan, justru kewalahan saat melawan Iran. Bangsa yang telah diembargo selama 45 tahun tapi justru mampu berdaulat.
“Puluhan tahun diembargo, tapi tekhnologi Iran mampu berkembang luar biasa. Tanpa perlu tekhnologi Amerika dan Eropa. Dan itu ditunjukkan dalam perang ini, Amerika yang dianggap penguasa militer dunia cukup kerepotan. Salah satunya contohnya, misil-misil yang dibuat dengan biaya murah, hanya puluhan juta, harus dicegat dengan misil-misil bernilai ratusan juta dollar Amerika,” imbuh dia.
Anis menyebut hal itu bisa terjadi karena di Iran nasionalismenya cukup kuat dan ini dikombinasikan dengan semangat keagamaan yang juga mengakar kuat. Adanya serangan dari luar justru membuat rakyatnya semakin bersatu.
“Negeri kita sebenarnya juga punya sejarah kebangsaan yang cukup mengakar. Kita juga punya banyak anak bangsa yang cerdas, kita punya kekayaan alam yang melimpah. Tinggal ke kemauan politik para pemimpin saja yang justru membuat semua potensi ini nyaris terbuang percuma,” ucap dia.
Hampir 3,5 jam pengajian yang digelar di Rumah Adab Indonesia Mulia tersebut berlangsung, membuat jamaah yang mengikutinya secara langsung maupun melalui berbagai kanal media sosial terlarut menyimaknya. Musik Sampak GusUran juga menjadi penghangat jalannya Suluk Maleman tersebut.

Keterangan foto:
Anis Sholeh Ba’asyin dan Bambang Mursito dalam NgAllah Suluk Maleman “Sujud, Semesta Sujud; Manusia, Kalang Kabut” yang digelar di Rumah Adab Indonesia Mulia, Sabtu (14/3).

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • RMI NU Gandeng AWS Gelar Kompetisi Santri Berhadiah Rp 40 Juta

    RMI NU Gandeng AWS Gelar Kompetisi Santri Berhadiah Rp 40 Juta

    • calendar_month Rab, 14 Jul 2021
    • account_circle admin
    • visibility 389
    • 0Komentar

    Pamflet Kompetisi Santri 4.0  buah Kerja sama RMI NU dan Amazon Web Service. JAKARTA- Robithoh Maahid Islamiyyah Nahdlatul Ulama (RMI-NU) merupakan lembaga di bawah payung NU yang menaungi pesantren-pesantren NU di Indonesia. Baru-baru ini, RMI NU menyelenggarakan program yang cukup mengesankan.  Dengan menggandeng Amazon Web Service (AWS) anak perusahaan teknologi multinasional asal Amerika, Amazon Inc., […]

  • PCNU-PATI Photo by Anita Austvika

    Perempuan itu Makhluk Bebas

    • calendar_month Jum, 2 Des 2022
    • account_circle admin
    • visibility 341
    • 0Komentar

    Oleh: Inayatun Najikah Tadi malam saat tengah bersantai, tiba-tiba handphone saya bergetar. Rupanya ada panggilan video call masuk dari teman-teman semasa kuliah. Bermaksud untuk melepas kerinduan. Kami saling berbagi kabar dan bercerita perihal kesibukan masing-masing. Selain itu mereka juga saling curhat perihal apa saja, yang salah satunya tentang asmara. Dan saya hanya sebagai pendengar setia, […]

  • PCNU PATI - Ilustrasi Reuni. Photo by Priscilla Du Preez on Unsplash.

    Reuni

    • calendar_month Rab, 11 Mei 2022
    • account_circle admin
    • visibility 372
    • 0Komentar

    Sebenarnya saya adalah termasuk orang yang malas untuk menghadiri acara acara yang melibatkan banyak orang. Salah satunya reuni atau halal bihalal, dan lain sebagainya. Lha kemarin saya terpaksa mengikuti acara reuni, sebab suatu hal yang tak bisa saya jelaskan disini, kenapa saya harus menghadiri? Kenapa tak izin saja, toh masih banyak segudang alasan untuk tak […]

  • Ini Komentar NU Soal Prokes dan PPKM

    Ini Komentar NU Soal Prokes dan PPKM

    • calendar_month Sab, 3 Jul 2021
    • account_circle admin
    • visibility 442
    • 0Komentar

    KH. Afifuddin Muhajir, Rois Syuriyah PBNU KOTA-Masa pandemi yang telah mencapai satu tahun lebih, membuat sebagian kalangan masyarakat mulai jenuh. Salah satu wujud kejenuhan mereka adalah dengan mengabaikan protokol kesehatan.  Beberapa warga mulai tidak mengenakan masker saat keluar rumah. Padahal pandemi corona masih mengintai masyarakat luas.  Peraturan yang ketat dan tepat sudah selayaknya digalakkan. Dengan […]

  • Keren! MHI Gembong Serahkan Ribuan Paket Logistik kepada Korban Banjir

    Keren! MHI Gembong Serahkan Ribuan Paket Logistik kepada Korban Banjir

    • calendar_month Rab, 21 Jan 2026
    • account_circle admin
    • visibility 7.739
    • 0Komentar

      pcnupati.pr.id. – MI Hidayatul Islam atau MHI Gembong Pati menyerahkan bantuan logistik kepada korban banjir di dua titik di Kecamatab Jakenan, Kabupaten Pati. Kegiatan ini dilangsungkan pada Selasa (22/1) lalu. Dua lokasi tersebut adalah Desa Tondomulyo dan Ngastorejo yang telah terendam banjir lebih dari sepekan yang lalu. Pihak MHI menjangkau lokasi ini didampingi oleh […]

  • Siswa Salafiyah Lakukan Rukyah di Pantai Kartini

    Siswa Salafiyah Lakukan Rukyah di Pantai Kartini

    • calendar_month Sel, 29 Okt 2019
    • account_circle admin
    • visibility 423
    • 0Komentar

    PATI-Puluhan Santri Madrasah Aliyah (MA) Salafiyah Kajen melakukan praktek rukyah secara langsung. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan siswa dalam penguasaan ilmu falak. Diharapkan, dengan pengalaman itu, para peserta didik mampu mempelajari tentang perbintangan, penanggalan dan perhitungan tahun, seperti mempelajari penentuan masuknya awal bulan Hijriah. Dalam prakteknya, para siswa kelas XII jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial […]

expand_less