Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Ngabuburit: Religiusitas dan Budaya Mbadog

Ngabuburit: Religiusitas dan Budaya Mbadog

  • account_circle admin
  • calendar_month Kam, 6 Mar 2025
  • visibility 407
  • comment 0 komentar

 

Oleh Hamidulloh Ibda*

 

Saya tidak tahu, sejak kapan ada tradisi ngabuburit. Namun, sebenarnya tradisi ini makin populer ketika sejumlah televisi menjadikannya sebagai acara tiap menjelang berbuka puasa saat Ramadan. Akhirnya, tradisi ini membudaya di kalangan remaja muslim dengan beragam ekspresi.

 

Ngabuburit merupakan istilah khas dalam budaya Sunda yang bermakna “ngalantung ngadagoan burit,” atau bersantai-santai menunggu waktu sore. Kata “burit” sendiri berarti senja, waktu yang dimaksud dalam konteks Ramadan adalah selepas salat Asar hingga menjelang Magrib. Waktu ini biasanya antara usai salat Asar hingga sebelum matahari terbenam. Ngabuburit menurut bahasa adalah menunggu azan Magrib menjelang berbuka puasa pada waktu bulan Ramadan. Namun, kebanyakan budaya makan (mbadog) itu berlebihan saat berbuka puasa.

 

Dalam budaya masyarakat Indonesia, ngabuburit bukan sekadar menunggu waktu berbuka, tetapi juga menjadi tradisi sosial yang memperkuat kebersamaan, refleksi spiritual, dan sayangnya, dalam beberapa kasus, diwarnai oleh budaya makan berlebihan atau “mbadog” saat berbuka puasa.

 

Ngabuburit dan Religiusitas

Secara esensial, ngabuburit adalah kesempatan untuk memperbanyak ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah. Waktu menjelang berbuka seharusnya dimanfaatkan dengan kegiatan positif seperti membaca Al-Qur’an, berzikir, mendengarkan kajian agama, atau berbuat kebajikan. Tradisi ini selaras dengan nilai-nilai Islam yang menekankan pentingnya mengisi waktu dengan hal-hal bermanfaat.

 

Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa ngabuburit sering kali dijadikan momen untuk sekadar berjalan-jalan, nongkrong di tempat keramaian, atau bahkan sekadar berburu takjil tanpa menambah aspek ibadah di dalamnya. Padahal, Nabi Muhammad saw. menganjurkan agar umatnya memaksimalkan ibadah di waktu-waktu yang penuh berkah ini.

 

Secara etimologis, ngabuburit berasal dari bahasa Sunda yang berarti menunggu waktu sore. Dalam konteks Ramadan, ngabuburit diartikan sebagai kegiatan menunggu azan Magrib untuk berbuka puasa. Namun, ngabuburit tidak hanya sekadar menunggu waktu. Lebih dari itu, ngabuburit dapat menjadi momentum untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT.

 

Beberapa kegiatan ngabuburit yang bernilai religius sangat melimpah. Pertama, membaca, tadarus atau nderes Al-Quran. Mengisi waktu ngabuburit dengan membaca Al-Quran dapat menenangkan hati dan pikiran. Selain itu, membaca Al-Quran juga dapat menambah pahala di bulan Ramadan. Kedua, mengikuti kajian, entah bersifat bandongan atau sorogan. Saat ini, banyak sekali kajian yang diadakan secara daring maupun luring, termasuk saat ngabuburit. Mengikuti kajian dapat menambah wawasan keagamaan dan memperkuat keimanan. Ketiga, berzikir dan berdoa. Waktu ngabuburit adalah waktu yang mustajab untuk berdoa. Perbanyaklah berzikir dan berdoa kepada Allah SWT agar diberikan kemudahan dalam menjalankan ibadah puasa.

 

Budaya Mbadog: Euforia Berbuka yang Berlebihan

Ironisnya, setelah seharian berpuasa menahan lapar dan haus, sebagian masyarakat justru terjebak dalam budaya “mbadog,” atau makan secara berlebihan saat berbuka. Fenomena ini terlihat dari beragam menu berbuka yang tersaji dalam jumlah berlebih, serta kebiasaan membeli makanan dalam porsi besar tanpa mempertimbangkan kebutuhan tubuh. Islam sendiri mengajarkan prinsip keseimbangan dalam makan dan minum. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an: “Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.” (QS. Al-A’raf: 31).

 

Berbuka dengan sederhana sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah saw. justru lebih menyehatkan dan mengajarkan kontrol diri. Rasulullah hanya berbuka dengan kurma dan air sebelum melanjutkan makan malam dengan porsi yang wajar. Hal ini menandakan bahwa esensi puasa bukanlah menahan lapar semata, tetapi juga mengendalikan hawa nafsu, termasuk dalam urusan konsumsi.

 

Salah satu tradisi yang seringkali menyertai ngabuburit adalah berburu takjil dan makanan untuk berbuka puasa. Namun, tak jarang budaya mbadog atau makan berlebihan saat berbuka puasa menjadi sebuah kebiasaan yang kurang baik. Padahal, makan berlebihan dapat mengganggu kesehatan dan mengurangi kekhusyukan dalam beribadah. Allah SWT berfirman, yang artinya: “Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (waktu dan tempat) kamu salat, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.” (QS. Al-A’raf: 31).

 

Oleh karena itu, penting bagi kita untuk tetap menjaga pola makan yang sehat dan tidak berlebihan saat berbuka puasa.

 

Mengembalikan Makna Ngabuburit yang Sejati

Agar ngabuburit lebih bermakna, perlu ada upaya untuk mengarahkan tradisi ini kembali ke jalurnya. Ngabuburit dapat menjadi kegiatan yang menyenangkan dan bermanfaat jika diisi dengan kegiatan yang positif. Banyak cara yang bisa dilakukan agar ngabuburit tetap religius dan tidak berujung pada budaya mbadog. Pertama, mengisi waktu dengan ibadah. Daripada sekadar berjalan-jalan tanpa tujuan, gunakan waktu menjelang berbuka untuk membaca Al-Qur’an, mendengar ceramah agama, atau berdiskusi tentang ilmu Islam.

 

Kedua, berburu takjil dengan bijak. Jika ingin membeli makanan berbuka, pilihlah dengan porsi yang cukup dan tidak berlebihan agar tidak terjebak dalam konsumsi yang berlebihan. Ketiga, berbuka secara sederhana. Mulailah berbuka dengan kurma dan air putih, lalu makan dengan porsi secukupnya setelah salat Magrib. Keempat, meningkatkan kepedulian sosial. Memanfaatkan ngabuburit untuk berbagi dengan sesama, misalnya dengan ikut serta dalam kegiatan berbagi takjil gratis atau memberikan makanan kepada mereka yang membutuhkan.

 

Kelima, berolahraga ringan. Sambil menunggu waktu berbuka, Anda bisa melakukan olahraga ringan seperti berjalan kaki atau bersepeda. Keenam, menulis atau menggambar. Jika Anda memiliki hobi menulis atau menggambar, ngabuburit bisa menjadi waktu yang tepat untuk menyalurkan kreativitas Anda. Saya sendiri pun konsisten menulis artikel di pcnupati.or.id untuk mengisi waktu luang selama Ramadan. Ketujuh, berkebun. Bagi Anda yang memiliki halaman rumah, berkebun bisa menjadi kegiatan yang menyenangkan dan bermanfaat saat ngabuburit.

 

Ngabuburit adalah tradisi yang memiliki nilai-nilai religius dan sosial yang kuat. Namun, kita juga perlu bijak dalam menyikapi budaya mbadog yang berlebihan. Mari jadikan ngabuburit sebagai momentum untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dan mengisi waktu dengan kegiatan yang sehat dan produktif.

 

Ngabuburit seharusnya menjadi momen untuk memperkuat spiritualitas dan menyiapkan diri menyambut berbuka dengan penuh kesadaran. Sayangnya, tradisi ini kerap berubah menjadi ajang konsumsi berlebihan yang bertolak belakang dengan nilai utama puasa. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk mengembalikan makna ngabuburit yang sesungguhnya: bukan sekadar menunggu berbuka dengan aktivitas hiburan semata, tetapi juga memperbanyak ibadah dan menjaga keseimbangan dalam pola makan. Dengan demikian, Ramadan benar-benar menjadi bulan penuh berkah yang membawa perubahan positif dalam kehidupan kita

 

*Dr. Hamidulloh Ibda, penulis lahir di Pati, dosen dan Wakil Rektor I Institut Islam Nahdlatul Ulama (Inisnu) Temanggung (2021-2025), Koordinator Gerakan Literasi Ma’arif (GLM) Plus LP. Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah (2024-2029), reviewer 31 Jurnal Internasional terindeks Scopus, Editor Frontiers in Education terindeks Scopus Q1 (2023-sekarang), dan dapat dikunjungi di website Hamidullohibda.com.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PCNU-PATI

    Lazisnu Pati Gelar Rakor, Tekankan Profesionalisme Pengurus

    • calendar_month Sen, 16 Jan 2023
    • account_circle admin
    • visibility 274
    • 0Komentar

    Pcnupati.or.id- PATI – Lazisnu Pati menggelar Rapat Koordinasi (Rakor) di Hotel Safin, Sabtu (14/1/2023). Sederet nama pakar zakat di Kabupaten Pati, bahkan Jawa tengah tampak hadir dalam acara tersebut. Di antaranya Dr. KH. Jamal Makmur dan KH. Faishol Muzammil selaku perwakilan PCNU Pati, serta Wibowo dari Lazisnu Jateng. Pihak Lazisnu Pati sengaja mengundang mereka untuk […]

  • PCNU- PATI Photo by flutie8211

    Me (Manfaat) kan

    • calendar_month Rab, 18 Jan 2023
    • account_circle admin
    • visibility 242
    • 0Komentar

    Oleh : Niam At Majha Tahun telah berganti, akan tetapi banjir tetap tak terganti. Di setiap tahunnya di penghujung tahun atau pun awal tahun; banjir tetap sama, siklus tahunan yang menjadi sirkus hiburan. Sebuah ironi  memilukan. Para relawan yang tak pernah lelah, para penyaji makanan di setiap dapur umum tak mempunyai kepenting apa-apa. Mereka bergerak […]

  • PCNU-PATI

    LP3IA Tegaskan Tak Ada Izin Ndalem terkait Penerbitan Buku ‘Bahagia Beragama Bersama Gus Baha’

    • calendar_month Kam, 19 Jan 2023
    • account_circle admin
    • visibility 363
    • 0Komentar

    Pcnupati.or.id- REMBANG – Ponpes Tahfudzul Qur’an LP3iA, Narukan, Kragan, Rembang, baru-baru mengeluarkan maklumat terkait penerbitan buku yang mencatut nama Gus Baha’, pengasuh pesantren tersebut. Hal itu disebarluaskan melalui postingan akun Instagram @ceramahgusbaha pada Rabu (18/1) petang. Adapun isi dari Maklumat tersebut di antaranya: 1. Pihak pesantren dan pihak ndalem tidak pernah menginginkan hal-hal materiil apapun […]

  • PCNU-PATI

    Banjir Bandang Terparah Sepanjang Sejarah, Selamatkan Diri hingga Naik ke Atas Genting

    • calendar_month Jum, 2 Des 2022
    • account_circle admin
    • visibility 305
    • 0Komentar

    Pcnupati.or.id- Banjir bandang menerjang sejumlah desa di Kecamatan Tambakromo, Kabupaten Pati, Rabu (30/11/2022) malam. Desa Sinomwidodo menjadi yang terparah akibat terjangan banjir itu.  Akibatnya, 200-an keluarga harus mengungsi ke masjid karena rumah mereka belum bisa ditempati karena sempat tergenang air yang tingginya bervariasi, bahkan ada yang mencapai 2 meter lebih. Dapur umum dan posko tanggap […]

  • Gus Mus: Sejak Kapan Pemilihan Rais Aam Seperti Pilkada?

    Gus Mus: Sejak Kapan Pemilihan Rais Aam Seperti Pilkada?

    • calendar_month Jum, 16 Jan 2015
    • account_circle admin
    • visibility 233
    • 0Komentar

    Pati, NU OnlineAlmaghfurlah KH MA Sahal Mahfudh merupakan Rais Aam PBNU terakhir. Kedalaman ilmu dan keberpihakannya kepada masyarakat menjadi teladan bagi semua. Sulit rasanya mencari pengganti tokoh sekaliber Kiai Sahal untuk duduk di kursi Rais Aam.Pejabat Rais Aam Syuriah PBNU KH A Mustofa Bisri (Gus Mus) menuturkan hal tersebut saat memberi taushiyah pada Haul ke-1 […]

  • PCNU-PATI

    Satu Abad NU : Muhasabah Sego Berkat

    • calendar_month Kam, 19 Jan 2023
    • account_circle admin
    • visibility 266
    • 0Komentar

    Oleh : Maulana Karim Sholikhin*  Tahun ini, NU telah mencapai yuswa satu abad menurut hijriyah version. Mampu survive ditengah goncangan selama seratus tahun saja sudah merupakan prestasi, apalagi bisa memberi dampak bagi ummat.  Diiyakan ataupun diingkari, kontribusi NU untuk bangsa memang sudah tak terhitung, dan memang banyak peneliti, pengamat dan penulis yang analisa ihwal  tersebut. […]

expand_less