Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Ngabuburit: Religiusitas dan Budaya Mbadog

Ngabuburit: Religiusitas dan Budaya Mbadog

  • account_circle admin
  • calendar_month Kam, 6 Mar 2025
  • visibility 757
  • comment 0 komentar

 

Oleh Hamidulloh Ibda*

 

Saya tidak tahu, sejak kapan ada tradisi ngabuburit. Namun, sebenarnya tradisi ini makin populer ketika sejumlah televisi menjadikannya sebagai acara tiap menjelang berbuka puasa saat Ramadan. Akhirnya, tradisi ini membudaya di kalangan remaja muslim dengan beragam ekspresi.

 

Ngabuburit merupakan istilah khas dalam budaya Sunda yang bermakna “ngalantung ngadagoan burit,” atau bersantai-santai menunggu waktu sore. Kata “burit” sendiri berarti senja, waktu yang dimaksud dalam konteks Ramadan adalah selepas salat Asar hingga menjelang Magrib. Waktu ini biasanya antara usai salat Asar hingga sebelum matahari terbenam. Ngabuburit menurut bahasa adalah menunggu azan Magrib menjelang berbuka puasa pada waktu bulan Ramadan. Namun, kebanyakan budaya makan (mbadog) itu berlebihan saat berbuka puasa.

 

Dalam budaya masyarakat Indonesia, ngabuburit bukan sekadar menunggu waktu berbuka, tetapi juga menjadi tradisi sosial yang memperkuat kebersamaan, refleksi spiritual, dan sayangnya, dalam beberapa kasus, diwarnai oleh budaya makan berlebihan atau “mbadog” saat berbuka puasa.

 

Ngabuburit dan Religiusitas

Secara esensial, ngabuburit adalah kesempatan untuk memperbanyak ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah. Waktu menjelang berbuka seharusnya dimanfaatkan dengan kegiatan positif seperti membaca Al-Qur’an, berzikir, mendengarkan kajian agama, atau berbuat kebajikan. Tradisi ini selaras dengan nilai-nilai Islam yang menekankan pentingnya mengisi waktu dengan hal-hal bermanfaat.

 

Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa ngabuburit sering kali dijadikan momen untuk sekadar berjalan-jalan, nongkrong di tempat keramaian, atau bahkan sekadar berburu takjil tanpa menambah aspek ibadah di dalamnya. Padahal, Nabi Muhammad saw. menganjurkan agar umatnya memaksimalkan ibadah di waktu-waktu yang penuh berkah ini.

 

Secara etimologis, ngabuburit berasal dari bahasa Sunda yang berarti menunggu waktu sore. Dalam konteks Ramadan, ngabuburit diartikan sebagai kegiatan menunggu azan Magrib untuk berbuka puasa. Namun, ngabuburit tidak hanya sekadar menunggu waktu. Lebih dari itu, ngabuburit dapat menjadi momentum untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT.

 

Beberapa kegiatan ngabuburit yang bernilai religius sangat melimpah. Pertama, membaca, tadarus atau nderes Al-Quran. Mengisi waktu ngabuburit dengan membaca Al-Quran dapat menenangkan hati dan pikiran. Selain itu, membaca Al-Quran juga dapat menambah pahala di bulan Ramadan. Kedua, mengikuti kajian, entah bersifat bandongan atau sorogan. Saat ini, banyak sekali kajian yang diadakan secara daring maupun luring, termasuk saat ngabuburit. Mengikuti kajian dapat menambah wawasan keagamaan dan memperkuat keimanan. Ketiga, berzikir dan berdoa. Waktu ngabuburit adalah waktu yang mustajab untuk berdoa. Perbanyaklah berzikir dan berdoa kepada Allah SWT agar diberikan kemudahan dalam menjalankan ibadah puasa.

 

Budaya Mbadog: Euforia Berbuka yang Berlebihan

Ironisnya, setelah seharian berpuasa menahan lapar dan haus, sebagian masyarakat justru terjebak dalam budaya “mbadog,” atau makan secara berlebihan saat berbuka. Fenomena ini terlihat dari beragam menu berbuka yang tersaji dalam jumlah berlebih, serta kebiasaan membeli makanan dalam porsi besar tanpa mempertimbangkan kebutuhan tubuh. Islam sendiri mengajarkan prinsip keseimbangan dalam makan dan minum. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an: “Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.” (QS. Al-A’raf: 31).

 

Berbuka dengan sederhana sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah saw. justru lebih menyehatkan dan mengajarkan kontrol diri. Rasulullah hanya berbuka dengan kurma dan air sebelum melanjutkan makan malam dengan porsi yang wajar. Hal ini menandakan bahwa esensi puasa bukanlah menahan lapar semata, tetapi juga mengendalikan hawa nafsu, termasuk dalam urusan konsumsi.

 

Salah satu tradisi yang seringkali menyertai ngabuburit adalah berburu takjil dan makanan untuk berbuka puasa. Namun, tak jarang budaya mbadog atau makan berlebihan saat berbuka puasa menjadi sebuah kebiasaan yang kurang baik. Padahal, makan berlebihan dapat mengganggu kesehatan dan mengurangi kekhusyukan dalam beribadah. Allah SWT berfirman, yang artinya: “Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (waktu dan tempat) kamu salat, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.” (QS. Al-A’raf: 31).

 

Oleh karena itu, penting bagi kita untuk tetap menjaga pola makan yang sehat dan tidak berlebihan saat berbuka puasa.

 

Mengembalikan Makna Ngabuburit yang Sejati

Agar ngabuburit lebih bermakna, perlu ada upaya untuk mengarahkan tradisi ini kembali ke jalurnya. Ngabuburit dapat menjadi kegiatan yang menyenangkan dan bermanfaat jika diisi dengan kegiatan yang positif. Banyak cara yang bisa dilakukan agar ngabuburit tetap religius dan tidak berujung pada budaya mbadog. Pertama, mengisi waktu dengan ibadah. Daripada sekadar berjalan-jalan tanpa tujuan, gunakan waktu menjelang berbuka untuk membaca Al-Qur’an, mendengar ceramah agama, atau berdiskusi tentang ilmu Islam.

 

Kedua, berburu takjil dengan bijak. Jika ingin membeli makanan berbuka, pilihlah dengan porsi yang cukup dan tidak berlebihan agar tidak terjebak dalam konsumsi yang berlebihan. Ketiga, berbuka secara sederhana. Mulailah berbuka dengan kurma dan air putih, lalu makan dengan porsi secukupnya setelah salat Magrib. Keempat, meningkatkan kepedulian sosial. Memanfaatkan ngabuburit untuk berbagi dengan sesama, misalnya dengan ikut serta dalam kegiatan berbagi takjil gratis atau memberikan makanan kepada mereka yang membutuhkan.

 

Kelima, berolahraga ringan. Sambil menunggu waktu berbuka, Anda bisa melakukan olahraga ringan seperti berjalan kaki atau bersepeda. Keenam, menulis atau menggambar. Jika Anda memiliki hobi menulis atau menggambar, ngabuburit bisa menjadi waktu yang tepat untuk menyalurkan kreativitas Anda. Saya sendiri pun konsisten menulis artikel di pcnupati.or.id untuk mengisi waktu luang selama Ramadan. Ketujuh, berkebun. Bagi Anda yang memiliki halaman rumah, berkebun bisa menjadi kegiatan yang menyenangkan dan bermanfaat saat ngabuburit.

 

Ngabuburit adalah tradisi yang memiliki nilai-nilai religius dan sosial yang kuat. Namun, kita juga perlu bijak dalam menyikapi budaya mbadog yang berlebihan. Mari jadikan ngabuburit sebagai momentum untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dan mengisi waktu dengan kegiatan yang sehat dan produktif.

 

Ngabuburit seharusnya menjadi momen untuk memperkuat spiritualitas dan menyiapkan diri menyambut berbuka dengan penuh kesadaran. Sayangnya, tradisi ini kerap berubah menjadi ajang konsumsi berlebihan yang bertolak belakang dengan nilai utama puasa. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk mengembalikan makna ngabuburit yang sesungguhnya: bukan sekadar menunggu berbuka dengan aktivitas hiburan semata, tetapi juga memperbanyak ibadah dan menjaga keseimbangan dalam pola makan. Dengan demikian, Ramadan benar-benar menjadi bulan penuh berkah yang membawa perubahan positif dalam kehidupan kita

 

*Dr. Hamidulloh Ibda, penulis lahir di Pati, dosen dan Wakil Rektor I Institut Islam Nahdlatul Ulama (Inisnu) Temanggung (2021-2025), Koordinator Gerakan Literasi Ma’arif (GLM) Plus LP. Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah (2024-2029), reviewer 31 Jurnal Internasional terindeks Scopus, Editor Frontiers in Education terindeks Scopus Q1 (2023-sekarang), dan dapat dikunjungi di website Hamidullohibda.com.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Media Sosial Penghubung Sikap Toleransi

    Media Sosial Penghubung Sikap Toleransi

    • calendar_month Sen, 25 Jan 2016
    • account_circle admin
    • visibility 608
    • 0Komentar

    Guru mengajarkan kalau dunia itu ada dua; fana, yaitu dunia yang bisa rusak dan dunia baka, yaitu dunia setelah manusia meninggal. Dan yang tidak pernah terbayangkan oleh manusia ternyata ada dunia baru. Dunia baru antara dunia fana dan dunia baka itu adalah dunia maya (virtual world), yaitu dunia online yang sangat luas sekali, yang berisi […]

  • LP. Ma'arif NU PCNU Kabupaten Semarang Gelar Rapat Kerja

    LP. Ma’arif NU PCNU Kabupaten Semarang Gelar Rapat Kerja

    • calendar_month Ming, 18 Mei 2025
    • account_circle admin
    • visibility 500
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.id- Bergas – Rapat Kerja sekaligus Dialog dengan tema ” Meningkatkan Mutu layanan Pendidikan LP Ma’arif NU” melalui sinergritas dengan Kementerian Agama dan Dinas Pendidikan Kab. Semarang terlaksana pada Sabtu 17 Mei 2025 yang digelar LP. Ma’arif PCNU Kabupaten Semarang. Zaenal selaku Ketua LP Ma’arif NU PCNU Kab. Semarang menyampaikan kegiatan hari ini diikuti […]

  • PCNU-PATI

    Memahami Konsep Fikih Sosial Kiai Sahal Mahfudh

    • calendar_month Sab, 29 Apr 2023
    • account_circle admin
    • visibility 481
    • 0Komentar

    Oleh : Siswanto Secara etimologi, fikih berasal dari kata bahasa Arab faqiha-yafqahu-fikihan, yang berarti mengerti atau memahami. Orang-orang Arab memaknai fikih dalam konteks kebahasaan dengan mā daqqa wa ghamudha, yang artinya: sesuatu yang samar dan sulit untuk dipahami. Berdasarkan pengertian etimologis kata fikih ini, orang-orang Arab mengatakan faqihtu ma’na kalāmika liannahu qad yaduqqu wa yaghmadhu, […]

  • PCNU-PATI

    Fatayat-Muslimat NU Dukuhseti Bikin Gebrakan, Libatkan 1400 Anggota

    • calendar_month Jum, 3 Mar 2023
    • account_circle admin
    • visibility 508
    • 0Komentar

    pcnupati.or.id DUKUHSETI – Ribuan ibu-ibu berkostum hijau merubung Habib Muhsin bin Abdul Qodir Al Aydrus Jumat (3/2) pagi. Mereka adalah para anggota PAC Muslimat dan Fatayat NU Kecamatan Dukuhseti.  Agenda tersebut merupakan rangkaian peringatan HUT Muslimat NU ke-77 dan Fatayat NU ke-73 yang dihelat di Ranting Desa Wedusan.  Bukan hanya sholawat bersama Habib Muhsin dan Hadroh […]

  • Rencanakan Advokasi Kesehatan Masyarakat, Fatayat NU Pati Gandeng DPRD

    Rencanakan Advokasi Kesehatan Masyarakat, Fatayat NU Pati Gandeng DPRD

    • calendar_month Sab, 21 Agu 2021
    • account_circle admin
    • visibility 517
    • 0Komentar

    Para pengurus Fatayat NU Pati sedang melakukan audiensi dengan DPRD Kabupaten Pati terkait rencana Fatayat yang akan mengadakan program advokasi kesehatan masyarakat PATI – Pengurus Cabang (PC) Fatayat Nahdlatul Ulama Kabupaten Pati adakan audiensi dengan komisi D Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Pati, Sabtu (21/8). Audiensi itu dilaksanakan dalam rangka meminta dukungan kepada DPRD setempat […]

  • PCNU-PATI

    NU dan Modernisasi Bangsa

    • calendar_month Sab, 17 Des 2022
    • account_circle admin
    • visibility 568
    • 0Komentar

    Oleh : Siswanto Nahdlatul Ulama (NU) merupakan salah satu organisasi sosial kemasyarakatan dan keagamaan terbebesar di Indonesia, bahkan menurut Gus Dur NU adalah sebuah organisasi terbesar di dunia. Sedangkan enurut Greg Fealy (2003), hadirnya NU sebagai organisasi sosial keagamaan yang mendorong lahirnya tatanan kehidupan bernegara yang berkeadaban. Karena karakteristik NU sebagai organisasi Islam tradisional adalah […]

expand_less