Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Tokoh » Mbah Reban

Mbah Reban

  • account_circle admin
  • calendar_month Kam, 28 Sep 2023
  • visibility 134
  • comment 0 komentar

Oleh: Annisa Barokatus

Mbah Reban adalah seorang ulama yang lahir di Desa Tambahmulyo Dukuh Tambak Kapas sekitar tahun 1944 M pada hari Rabu dan meninggal pada hari Rabu pula di rumah beliau Desa Tambahmulyo, pada tanggal 15 Jumadil Ula 1431 H pada usia 65 tahun. Nama Mbah Reban diambil dari hari lahirnya yaitu Rabu.

Mbah Reban merupakan seorang alim yang berasal dari keturunan ulama. Mbah Reban lahir dari pasangan Mbah Marno dan Mbah Manirah. Mbah Marno memiliki ayah bernama Mbah Soto yang merupakan keturunan ke 15 dari Brawijaya V. Ibu dari Mbah Reban adalah Mbah Manirah binti Kyai Surat bin Kyai Yahya. Kyai Yahya inilah orang pertama yang menyebarkan Agama Islam di Desa Tambahmulyo. Kyai Yahya berhasil memenangkan sayembara menangkap perampok dan perusuh di Desa Tambahmulyo saat itu. Kyai Yahya merupakan orang pertama yang mendirikan musholla di Desa Tambahmulyo dan sekarang menjadi Masjid Jami’ Desa Tambahmulyo.

Mbah Reban adalah anak bungsu dan sepuluh bersaudara. Pada usia Mbah Reban 1 tahun sang Ibu meninggal dan sang ayahpun wafat pada usianya yang ke 6 tahun. Kemudian beliau diasuh oleh kakak pertamanya yaitu Mbah Sarjan. Mbah Sarjan adalah seorang ulama penyebar agama Islam di Desa Tambahmulyo. Mbah Sarjan mendirikan Masjid Al Mubarokah Desa Tambahmulyo tepatnya di Dukuh Bangleyan.

Mbah Reban mengenyam pendidikan di SR (Sekolah Rakyat) setara SD (Sekolah Dasar) dengan berbekal hasil penjualan tanah warisan dari orang tua. Kemudian beliau melanjutkan belajar ke sebuah pondok pesantren di Desa Sumberejo Kecamatan Jaken. Mbah Reban belajar kepada K.H Syamsul Hadi, seorang ulama Mursyid Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah pengasuh pondok pesantren tersebut. Mbah Reban muda bergelut dengan ilmu Syari’at dan Tarekat. Beliau mengambil baiat kepada Mbah Thohir, menantu K.H Syamsul Hadi. Mbah Reban juga mengambil baiat tabarruk kepada Mbah Dullah Salam Kajen dan dilanjutkan kepada K.H Rohmat Noor. Selanjutnya, Mbah Reban mengambil Baiat Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah kepada K.H Lutfi Hakim dari Mranggen Kabupaten Demak. Mbah Reban adalah sosok yang rajin mencari ilmu. Mbah Reban menjadi murid Maulana Habib Lutfi Bin Yahya dari Pekalongan dimana beliau selalu hadir di jama’ah taklim Jum’at Kliwon hingga akhir hayatnya.

Mbah Reban adalah seorang alim yang selalu melaksanakan salat 5 waktu berjama’ah dan tidak lupa dengan wiridannya. Beliau tidak hentinya membaca manaqib Syekh Abdul Qadir Al Jailani pada tanggal 11 setiap bulan Hijriyah (dikenal dengan sebutan sewelasan). Mbah Reban melanggengkan selawat atas Nabi Muhammad saw setiap saat. Beliau mencintai Ulama dan Habib dengan meneladani ucapan, perilaku, amal saleh serta ibadahnya demi mendapat berkah.

Mbah Reban menyebarkan agama Islam dengan penuh kesantunan. Beliau mengajarkan agama Islam melalui bidang perekonomian. Mbah Reban diperintahkan oleh sang guru K.H Syamsul Hadi untuk membeli mesin jahit dan mempelajari pola-pola jahitan secara autodidak mellaui pembedahan jahitan baju yang sudah jadi. Atas ijin Allah, Mbah Reban bisa menjahit dan mulai membuka jasa jahit. Beliau menjadi orang pertama di kecamatan Jakenan yang membuka jasa jahit sehingga dikenal sebagai Mbah Reban Jahit. Banyak orang yang akhirnya mengenal sosok Mbah Reban.

Mbah Reban berkesempatan untuk menyampaikan ajaran agama Islam secara damai. Murid pertama beliau bernama Mbak Ngas Jahit. Mbah Reban mengajar agama Islam bersamaan dengan mengajar cara menjahit. Murid berikutnya adalah anak dari Mbak Ngas Jahit yaitu Mbak Tun Jahit. Beberapa tukang jahit di kecamatan Jakenan adalah hasil didikan beliau seperti halnya Penjahit Maulana di Desa Sembaturagung Kecamatan Jakenan. Murid-murid Mbah Reban semakin banyak, tetapi Beliau tidak menarik upah atas jasa mengajarnya. Sering kali murid-murid menyodorkan amplop berisi uang dan selalu ditolak oleh Mbah Reban. Beliau sangat senang dapat mengajarkan ilmunya kepada semua orang.

Mbah Reban sering kali melakukan perjalanan untuk berziarah ke makam para waliullah. Pada suatu hari Mbah Reban berziarah bersama murid-muridnya, Mereka memperhatikan saku Mbah Reban hanya terdapat siwak, tasbih dan sedikit uang saja. Namun pada saat Beliau melintasi peminta sedekah, Mbah Reban merogoh sakunya dan dikeluarkannya uang untuk diberikan kepada peminta sedekah. Murid-murid yang mengetahui hal tersebut merasa aneh. Kejadian serupa terulang beberapa kali disetiap menemui peminta sedekah. Dengan bergegas Mbah Reban langsung merogoh saku dan memberi mereka uang. Saku Mbah Reban seperti menjadi sumber uang untuk disedekahkan.

Mbah Reban menjadi guru yang penuh tauladan; kehidupannya sederhana, perkataannya santun, perbuatan baik, amalannya istikamah dan ibadahnya khusyuk. Mbah Reban mendorong kepada semua murid tidak hanya untuk belajar ilmu agama Islam tetapi juga untuk belajar mandiri mencari pekerjaan. Beberapa murid Mbah Reban mulai merantau ke luar kota, ke luar pulau Jawa bahkan ke luar negeri. Setiap kali murid-murid Mbah Reban hendak pergi merantau mereka meminta do’a restu dari sang guru. Pada hari wafatnya Mbah Reban, keluarga tidak dapat memberi kabar duka kepada murid-murid yang tempatnya jauh. Selang beberapa hari murid-murid tersebut menghubungi anak Mbah Reban. Mereka menanyakan kabar Beliau.

Kemudian anak Mbah Reban memberitahu berita duka kepada mereka. Mendengar hal tersebut mereka mengungkapkan bahwa tubuh mereka lemas beberapa hari terakhir padahal mereka sudah memeriksakan kesehatan ke dokter. Menurut dokter tidak ada gangguan pada tubuh mereka. Murid-murid Mbah Reban menyimpulkan bahwa lemasnya tubuh tanpa penyakit dikarenakan wafatnya sang guru. Mereka menjadi kuat karena penuh dengan do’a sang guru yang diijabah Allah Swt.

Setelah pemakaman Mbah Reban, anak Mbah Reban mendapat wasiat dari Beliau bahwa dalam mimpinya seolah-olah Mbah Reban masih hidup. Mbah Reban sebagai seorang alim mengajarkan agama Islam pada masa hidupnya dan memberi tauladan kepada keluarga, murid-murid, dan masyarakat sekitar untuk senantiasa bertakwa kepada Allah Swt. (MTs Tarbiyatul Islamiyah Jakenan)

Naskah ini di ikutkan dalam Lomba Menulis Biografi Kiai Lokal  Porsema XII PC LP Maarif Pati

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PCNU - PATI

    Buku Saku AD & ART Nahdlatul Ulama Ke 34

    • calendar_month Sel, 2 Agu 2022
    • account_circle admin
    • visibility 101
    • 0Komentar

    Kekuatan jam’iyah Nahdlatul Ulamasebenarnya sangat luar biasa. Tapi, selamaini, banyak warga Nahdlatul Ulama yanghanya memosisikan diri sebagai jamaah,belum ber-jam’iyah. Inilah yang perlu kitajam’iyah-kan. Dan, pemahaman terhadapAD/ART merupakan pintu gerbang dalamproses men-jam’iyah-kan jamaah tersebut

  • Makesta IPNU-IPPNU di SMK Pelayaran Tayu

    Makesta IPNU-IPPNU di SMK Pelayaran Tayu

    • calendar_month Sab, 13 Agu 2016
    • account_circle admin
    • visibility 61
    • 0Komentar

    Pati. Pengurus Cabang IPNU-IPPNU mengadakan Makesta (Masa Kesetiaan Anggota) di SMK Pelayaran Tayu, 29/7 kemarin, acara tersebut bertujuan untuk menguatkan perihal keanggotaan dalam IPNU-IPPNU, berdakwah, berfikir, beramal melalui organisasi. “Inti dari Makesta yaitu memberikan pemahaman tentang sebenarnya IPNU-IPPNU itu seperti apa, dan sejarah pendiriannya pun sudah jelas, lha tujuan kami sebagai Pengurus Cabang secara bertahap […]

  • Struktur dan Pola Pikir Keilmuan Bahasa Indonesia MI/SD Perlu Direformulasi

    Struktur dan Pola Pikir Keilmuan Bahasa Indonesia MI/SD Perlu Direformulasi

    • calendar_month Sen, 8 Apr 2024
    • account_circle admin
    • visibility 78
    • 0Komentar

    Pcnupati.or.id- Yogyakarta – Dalam Seminar Nasional Online (Sensasi Online) ke-7 yang digelar Perkumpulan Dosen PGMI Indonesia bertajuk “Reformasi Struktur dan Pola Pikir Keilmuan Bahasa Indonesia untuk MI/SD” secara virtual melalui Zoom Meeting pada Sabtu (6/4/2024), disimpulkan bahwa struktur dan pola pikir keilmuan Bahasa Indonesia untuk MI/SD perlu direformulasi. Narasumber kegiatan tersebut yaitu dosen PGMI INISNU […]

  • Tabligh, Dekadensi Moral Pemuda Akibat Narkoba

    Tabligh, Dekadensi Moral Pemuda Akibat Narkoba

    • calendar_month Kam, 30 Mar 2017
    • account_circle admin
    • visibility 74
    • 0Komentar

    Jajaran Sie Pendidikan Panti Asuhan Darul Hadlanah Yayasan Muslimat NU Pati, menggelar tabligh dengan mengambil tema Dekadensi Moral Pemuda Akibat Narkoba, Senin , 27 Maret 2017, malam.             Tema tersebut di ambil karena banyak pertimbangan, apabila kita mengamati realita yang ada ditengah masyarakat, budaya mengkonsumsi narkoba sudah menjadi hal yang biasa, bahkan tidak hanya dikonsumsi […]

  • Menebar Dakwah Lewat Kisah

    Menebar Dakwah Lewat Kisah

    • calendar_month Sen, 20 Nov 2017
    • account_circle admin
    • visibility 65
    • 0Komentar

    Berdakwah paling efektif, mengena disukai kebanyakan masyarakat umum adalah dengan menggunakan metode bercerita, sebab pada dasarnya  setiap orang suka bercerita dan suka mendengarkan cerita. Oleh sebab itu, di dalam kitab suci, cerita menjadi unsur yang menonjol, kalau tidak dikatakan dominan. Tidaklah mengherankan jika cerita menjadi gaya penyampaian ajaran agama yang barangkali paling menarik, bahkan mungkin […]

  • PCNU-PATI Photo by pixel2013

    Tuan Muda Albana

    • calendar_month Ming, 18 Sep 2022
    • account_circle admin
    • visibility 56
    • 0Komentar

    Oleh : Elin Khanin Sepasang mata berbingkai kacamata itu sedikit membeliak ketika menemukan wajah pucat tapi cantik dari jarak yang begitu dekat. “Lepas!” Gadis berhidung mancung itu berteriak dengan suara parau yang berat. “Kalau takut ngapain mau bunuh diri? Sudah gila kamu? Sudah nggak punya iman?” Balas lelaki itu tak kalah emosional. Lelaki bersarung biru […]

expand_less