Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Tokoh » Mbah Reban

Mbah Reban

  • account_circle admin
  • calendar_month Kam, 28 Sep 2023
  • visibility 752
  • comment 0 komentar

Oleh: Annisa Barokatus

Mbah Reban adalah seorang ulama yang lahir di Desa Tambahmulyo Dukuh Tambak Kapas sekitar tahun 1944 M pada hari Rabu dan meninggal pada hari Rabu pula di rumah beliau Desa Tambahmulyo, pada tanggal 15 Jumadil Ula 1431 H pada usia 65 tahun. Nama Mbah Reban diambil dari hari lahirnya yaitu Rabu.

Mbah Reban merupakan seorang alim yang berasal dari keturunan ulama. Mbah Reban lahir dari pasangan Mbah Marno dan Mbah Manirah. Mbah Marno memiliki ayah bernama Mbah Soto yang merupakan keturunan ke 15 dari Brawijaya V. Ibu dari Mbah Reban adalah Mbah Manirah binti Kyai Surat bin Kyai Yahya. Kyai Yahya inilah orang pertama yang menyebarkan Agama Islam di Desa Tambahmulyo. Kyai Yahya berhasil memenangkan sayembara menangkap perampok dan perusuh di Desa Tambahmulyo saat itu. Kyai Yahya merupakan orang pertama yang mendirikan musholla di Desa Tambahmulyo dan sekarang menjadi Masjid Jami’ Desa Tambahmulyo.

Mbah Reban adalah anak bungsu dan sepuluh bersaudara. Pada usia Mbah Reban 1 tahun sang Ibu meninggal dan sang ayahpun wafat pada usianya yang ke 6 tahun. Kemudian beliau diasuh oleh kakak pertamanya yaitu Mbah Sarjan. Mbah Sarjan adalah seorang ulama penyebar agama Islam di Desa Tambahmulyo. Mbah Sarjan mendirikan Masjid Al Mubarokah Desa Tambahmulyo tepatnya di Dukuh Bangleyan.

Mbah Reban mengenyam pendidikan di SR (Sekolah Rakyat) setara SD (Sekolah Dasar) dengan berbekal hasil penjualan tanah warisan dari orang tua. Kemudian beliau melanjutkan belajar ke sebuah pondok pesantren di Desa Sumberejo Kecamatan Jaken. Mbah Reban belajar kepada K.H Syamsul Hadi, seorang ulama Mursyid Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah pengasuh pondok pesantren tersebut. Mbah Reban muda bergelut dengan ilmu Syari’at dan Tarekat. Beliau mengambil baiat kepada Mbah Thohir, menantu K.H Syamsul Hadi. Mbah Reban juga mengambil baiat tabarruk kepada Mbah Dullah Salam Kajen dan dilanjutkan kepada K.H Rohmat Noor. Selanjutnya, Mbah Reban mengambil Baiat Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah kepada K.H Lutfi Hakim dari Mranggen Kabupaten Demak. Mbah Reban adalah sosok yang rajin mencari ilmu. Mbah Reban menjadi murid Maulana Habib Lutfi Bin Yahya dari Pekalongan dimana beliau selalu hadir di jama’ah taklim Jum’at Kliwon hingga akhir hayatnya.

Mbah Reban adalah seorang alim yang selalu melaksanakan salat 5 waktu berjama’ah dan tidak lupa dengan wiridannya. Beliau tidak hentinya membaca manaqib Syekh Abdul Qadir Al Jailani pada tanggal 11 setiap bulan Hijriyah (dikenal dengan sebutan sewelasan). Mbah Reban melanggengkan selawat atas Nabi Muhammad saw setiap saat. Beliau mencintai Ulama dan Habib dengan meneladani ucapan, perilaku, amal saleh serta ibadahnya demi mendapat berkah.

Mbah Reban menyebarkan agama Islam dengan penuh kesantunan. Beliau mengajarkan agama Islam melalui bidang perekonomian. Mbah Reban diperintahkan oleh sang guru K.H Syamsul Hadi untuk membeli mesin jahit dan mempelajari pola-pola jahitan secara autodidak mellaui pembedahan jahitan baju yang sudah jadi. Atas ijin Allah, Mbah Reban bisa menjahit dan mulai membuka jasa jahit. Beliau menjadi orang pertama di kecamatan Jakenan yang membuka jasa jahit sehingga dikenal sebagai Mbah Reban Jahit. Banyak orang yang akhirnya mengenal sosok Mbah Reban.

Mbah Reban berkesempatan untuk menyampaikan ajaran agama Islam secara damai. Murid pertama beliau bernama Mbak Ngas Jahit. Mbah Reban mengajar agama Islam bersamaan dengan mengajar cara menjahit. Murid berikutnya adalah anak dari Mbak Ngas Jahit yaitu Mbak Tun Jahit. Beberapa tukang jahit di kecamatan Jakenan adalah hasil didikan beliau seperti halnya Penjahit Maulana di Desa Sembaturagung Kecamatan Jakenan. Murid-murid Mbah Reban semakin banyak, tetapi Beliau tidak menarik upah atas jasa mengajarnya. Sering kali murid-murid menyodorkan amplop berisi uang dan selalu ditolak oleh Mbah Reban. Beliau sangat senang dapat mengajarkan ilmunya kepada semua orang.

Mbah Reban sering kali melakukan perjalanan untuk berziarah ke makam para waliullah. Pada suatu hari Mbah Reban berziarah bersama murid-muridnya, Mereka memperhatikan saku Mbah Reban hanya terdapat siwak, tasbih dan sedikit uang saja. Namun pada saat Beliau melintasi peminta sedekah, Mbah Reban merogoh sakunya dan dikeluarkannya uang untuk diberikan kepada peminta sedekah. Murid-murid yang mengetahui hal tersebut merasa aneh. Kejadian serupa terulang beberapa kali disetiap menemui peminta sedekah. Dengan bergegas Mbah Reban langsung merogoh saku dan memberi mereka uang. Saku Mbah Reban seperti menjadi sumber uang untuk disedekahkan.

Mbah Reban menjadi guru yang penuh tauladan; kehidupannya sederhana, perkataannya santun, perbuatan baik, amalannya istikamah dan ibadahnya khusyuk. Mbah Reban mendorong kepada semua murid tidak hanya untuk belajar ilmu agama Islam tetapi juga untuk belajar mandiri mencari pekerjaan. Beberapa murid Mbah Reban mulai merantau ke luar kota, ke luar pulau Jawa bahkan ke luar negeri. Setiap kali murid-murid Mbah Reban hendak pergi merantau mereka meminta do’a restu dari sang guru. Pada hari wafatnya Mbah Reban, keluarga tidak dapat memberi kabar duka kepada murid-murid yang tempatnya jauh. Selang beberapa hari murid-murid tersebut menghubungi anak Mbah Reban. Mereka menanyakan kabar Beliau.

Kemudian anak Mbah Reban memberitahu berita duka kepada mereka. Mendengar hal tersebut mereka mengungkapkan bahwa tubuh mereka lemas beberapa hari terakhir padahal mereka sudah memeriksakan kesehatan ke dokter. Menurut dokter tidak ada gangguan pada tubuh mereka. Murid-murid Mbah Reban menyimpulkan bahwa lemasnya tubuh tanpa penyakit dikarenakan wafatnya sang guru. Mereka menjadi kuat karena penuh dengan do’a sang guru yang diijabah Allah Swt.

Setelah pemakaman Mbah Reban, anak Mbah Reban mendapat wasiat dari Beliau bahwa dalam mimpinya seolah-olah Mbah Reban masih hidup. Mbah Reban sebagai seorang alim mengajarkan agama Islam pada masa hidupnya dan memberi tauladan kepada keluarga, murid-murid, dan masyarakat sekitar untuk senantiasa bertakwa kepada Allah Swt. (MTs Tarbiyatul Islamiyah Jakenan)

Naskah ini di ikutkan dalam Lomba Menulis Biografi Kiai Lokal  Porsema XII PC LP Maarif Pati

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PCNU-PATI

    Radikus Makankakus

    • calendar_month Kam, 8 Des 2022
    • account_circle admin
    • visibility 479
    • 0Komentar

    Dika Angkasaputra Moerwani atau lebih dikenal dengan Raditya Dika (lahir di jakarta, 28 Desember 198. Umur 31 tahun) adalah seorang penulis, pelawak, aktor, pemeran, model dan sutradara asal Indonesia. Di indonesia, Raditya Dika dikenal sebagai buku jenaka. Tulisan-tulisan itu berasal dari blog pribadiny yang kemudian dibukukan. Buku pertamanya berjudul Kambing Jantan masuk kategori best seller. […]

  • PMII Komisariat Syekh Mutamakkin Laksanakan Kewajiban Tahunan

    PMII Komisariat Syekh Mutamakkin Laksanakan Kewajiban Tahunan

    • calendar_month Sab, 2 Nov 2019
    • account_circle admin
    • visibility 422
    • 0Komentar

    TAYU-Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat Syekh Mutamakkin menyelenggarakan Masa Penerimaan Anggota Baru (Mapaba). Ini merupakan tahap paling dini dalam organisasi PMII. Dengan mengikuti Mapaba, para calon anggota telah secara resmi menjadi bagian formal dari PMII. Paska Mapaba, masih ada beberapa step lagi untuk menunjang jiwa organisasia anggota. M. Shofyan al Nashr, salah satu pemantik […]

  • PCNU-PATI Photo by Yusuf Onuk

     Penyabar dan Ringan Tangan, Sosok Kiai Haji Anwar

    • calendar_month Jum, 6 Okt 2023
    • account_circle admin
    • visibility 1.135
    • 0Komentar

    Oleh: Umi Nur Hasanah Kyai Haji Anwar merupakan salah satu ulama karismatik yang ada di kawasan Pucakwangi Pati. Ia memiliki perhatian besar pada dakwah Islam di kalangan masyarakat pedesaan. Sosok kyai kelahiran 1871 di Dukuh Nganguk Desa Sidomulyo Kecamatan  Jakenan- Pati tersebut, berpindah ke Dukuh Gragalan Desa Sokopuluhan Pucakwangi karena mengikuti sang Istri, yakni Nyai […]

  • Mahabbah dan Ittiba’

    Mahabbah dan Ittiba’

    • calendar_month Kam, 12 Mar 2015
    • account_circle admin
    • visibility 524
    • 0Komentar

      الحمد لله رب العالمين الودود الذي يتودد إلى خلقه برحمته، والشكر لله رب العالمين الذي أوجد الكائنات بحكمته، وأشهد أن لا إله الله وحده لا شريك له، لا ينفعه ظمأ الظمئانين ولا جوع الجائعين لكن من ظميء لله يوماً كان حق على الله أن يسقيه في يوم ظمئه، ومن جاع لله تعالى يوماً كان […]

  • Dari Upacara sampai Khataman, Geliat Banser Peringati HUT-RI

    Dari Upacara sampai Khataman, Geliat Banser Peringati HUT-RI

    • calendar_month Rab, 18 Agu 2021
    • account_circle admin
    • visibility 451
    • 0Komentar

    Upacara bendera oleh anggota banser di halaman MTs al Khalifah, Ngepung, Kecamatan Pati. Dalam rangka memperingati HUT ke-76 kemerdekaan RI anggota Banser Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kecamatan Pati mengadakan upacara Hari Kemerdekaan RI Selasa (17/08). Upacara tersebut digelar di halaman MTs Al Khalifah Desa Ngepung, Kecamatan Pati Widodo, ketua PAC periode […]

  • Wisuda ke-32 INISNU, Rektor Laporkan Lonjakan Kinerja Akademik, Akselerasi Internasionalisasi, dan Kesiapan Alih Bentuk Institusi

    Wisuda ke-32 INISNU, Rektor Laporkan Lonjakan Kinerja Akademik, Akselerasi Internasionalisasi, dan Kesiapan Alih Bentuk Institusi

    • calendar_month Sel, 7 Jul 2026
    • account_circle admin
    • visibility 171
    • 0Komentar

    TEMANGGUNG — Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung sukses menyelenggarakan Sidang Senat Terbuka Wisuda ke-32 pada Selasa, 7 Juli 2026 di Gedung Pemuda Temanggung. Momentum sakral ini tidak sekadar menjadi panggung seremoni kelulusan bagi 122 wisudawan, melainkan bertransformasi menjadi forum akuntabilitas publik yang komprehensif. Di hadapan para tokoh penting Nahdlatul Ulama, koordinator Kopertais, serta jajaran […]

expand_less