Suluk Maleman Kali ini Membahas Bangsa Yang Kehilangan Kuda Kuda
- account_circle admin
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 15.788
- comment 0 komentar

Keterangan foto: Anis Sholeh Ba’asyin, Bambang Mursito dan Nur Cahyo dalam NgAllah Suluk Maleman “Bersama Kita Gila” yang digelar di Rumah Adab Indonesia Mulia, Sabtu (20/6).
Penggagas Suluk Maleman, Anis Sholeh Ba’asyin menyoroti persoalan hilangnya cara pandang bangsa dalam melihat kemanusiaan. Padahal sejarah menunjukkan banyaknya perjuangan melawan penjajah justru didasari nilai-nilai dasar yang sudah lama menjadi menjadi bagian hidup bangsa. Nilai-nilai yang secara diametral bertentangan dengan nilai yang dibawa penjajah.
Perenungan itu muncul saat digelarnya Ngaji Budaya Suluk Maleman yang digelar pada Sabtu (20/6). Ironisnya, Anis menyebut era hujan narasi informasi seperti sekarang ini justru rentan mengubah perilaku bangsa.
Anis mencontohkan di abad 16, ketika koloniasme bergerak, gerakan perlawanan sangat kuat di negara-negara muslim seperti di Afrika, Asia dan sebagian Kawasan di Timur Tengah. Perlawanan itu juga muncul di nusantara seperti dari Demak, Aceh, Kalimantan dan Sulawesi.
“Kenapa mereka melakukan perlawanan? Hipotesa kami karena mereka menganggap nilai pandangan hidup para penjajah berbeda dan bertentangan dengan nilai-nilai yang mereka yakini,” tambah dia.
Anis menyebut dalam pandangan hidup tersebut, para pejuang melihat kolonialisme tak hanya soal keadilan dalam penyedotan ekonomi. Melainkan bagaimana berfikir akan keadilan menumbuh-kembangkan nilai-nilai dasar yang diyakini masyarakat Indonesia.
“Kolonialisme bukan hanya soal penyedotan kekayaan alam, tapi yang lebih mendasar adalah masalah peremehan nilai-nilai peradaban yang sudah hidup di kalangan rakyat,” imbuh dia.
Anis juga mengingatkan nilai pandang kemanusiaan yang hidup di kalangan para santri. Hal itu begitu terlihat dari banyaknya gerakan perlawanan terhadap penjajah yang juga muncul dari pondok pesantren.
“Kalau dilihat, ada tiga kelompok yang kemudian membentuk tentara, yakni mantan KNIL, mantan PETA, serta mantan laskar Hizbullah yang dipimpin santri dan kyai. Bahkan Hizbullah yang bergabung itu merupakan mayoritas,” terang dia.
Hanya saja, dia menyayangkan setelah kemerdekaan, perlahan-lahan cara pandang yang dipakai justru berubah. Ada banyak cara pandang yang justru menganut dan melanggengkan cara pandang kolonial.
“Seperti undang-undang dan aturan banyak yang masih mengadopsi peninggalan Belanda. Sistem pendidikan juga seperti itu. Kenapa dipilih sistem pendidikan yang bahkan infrastrukturnya pun waktu itu belum banyak kecuali sekadar peninggalan politik etis? Harus diingat SD inpres sendiri baru ada di tahun 70an,” ujar dia.
Anis justru melihat bangsa Iran saat ini dengan berani mendemontrasikan cara hidupnya. Sikap satu bangsa bisa bersatu ketika melawan paham yang berbeda.
“Bahkan oposisi ketika ada musuh dari luar justru bisa bersatu dengan baik,” ujar dia.
Budayawan yang juga akademisi, Bambang Mursito juga mempertanyakan sistem pendidikan saat ini yang terbukti tidak mempertimbangan keseimbangan otak, hati dan spiritual. Bahkan mata pelajaran agama dalam seminggu tak lebih dari tiga jam.
“Padahal tentunya Kementerian Kebudayaan pasti punya dewan pakar dan ahli. Dulu kurikulum sebelum 84 pasti ada penataran guru, buku paketnya disiapkan sekarang ganti Menteri ganti kurikulum dan terkesan amburadul,” ucap dia.
Ratusan masyarakat tampak menikmati diskusi tersebut. Suasana kian hangat setelah diiringi kelompok musik Sampak GusUran.
- Penulis: admin

Saat ini belum ada komentar