Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Pesan Literasi Nuzulul Quran

Pesan Literasi Nuzulul Quran

  • account_circle admin
  • calendar_month Jum, 6 Mar 2026
  • visibility 9.867
  • comment 0 komentar

 

Oleh Hamidulloh Ibda

 

Sekira tahun 610 M dulu, bertepatan 17 Ramadan telah terjadi peristiwa besar yang dialami Kanjeng Nabi Muhammad Saw, yaitu Nuzulul Quran di Gua Hira. Telah terjadi turun wahyu pertama kepada Kanjeng Nabi Muhammad Saw. Allah memerintahkan Kanjeng Nabi untuk membaca, belajar, dan menulis lewat Surat Al-aAlaq ayat 1-5 sebagai wahyu pertama yang diturunkan Allah Swt.

 

Kejadian tersebut tak sebatas momentum historis dalam tradisi Islam, namun menjadi momentum “proklamasi intelektual” soal urgensi ilmu pengetahuan bagi peradaban. Seruan untuk membaca menjadi substansi wahyu pertama, dan bukan perintah ritual fisik belaka. Dari aspek teologis, hal ini kompatibel dengan pemikiran Ismail Raji Al-Faruqi lewat karya jadulnya Tawhid: Its Implications for Thought and Life (1982), menyatakan wahyu (wahy) dan akal (‘aql) merupakan 2 (dua) sumber kebenaran saling melengkapi dalam membentuk integritas umat manusia.

 

Perintah itu langgeng (abadi) dalam QS. Al-‘Alaq ayat 1–5 yang diawali dengan kata Iqra’ alias bacalah. Idiom tersebut menjadi simbol revolusi literasi. Penegasan penggunaan qalam (pena) dalam ayat itu mengungkap sejak awal Islam mengintegrasikan tradisi lisan dengan tradisi tulisan. Jack Goody dalam buku The Domestication of the Savage Mind (2013), mencoba menjelaskan transisi dari tradisi lisan ke tulisan secara fundamental dapat mengubah struktur kognitif umat manusia. Hal itu juga memungkinkan lahirnya pemikiran lebih rasional, analitis, metodologis, dan sistematis.

 

Literasi: Fondasi Peradaban

Literasi dalam perspektif modern sudah melampaui batas teknis membaca dan menulis saja, apalagi dengan munculnya literasi baru yaitu literasi data, literasi teknologi, dan literasi manusia (Ahmadi & Ibda, 2019). Konsep multiliteracies juga sangat kompatibel seperti di dalam Al-Quran yang digagas Bill Cope & Mary Kalantzis (ed) (2015) lewat A Pedagogy of Multiliteracies: Learning by Design. Studi ini melihat literasi merupakan kemampuan menafsirkan beragam bentuk representasi makna dalam konteks sosial beragam yang tentu sudah diperintahkan Al-Quran jauh-jauh hari. Ini bukti kalau Al-Quran itu kontekstual, relevan, dan melampuai zamannya.

 

Dalam konteks ini, Al-Quran memerintah umat muslim membaca ayat qauliyah (teks suci) sekaligus ayat kauniyah (alam semesta) yang merupakan bentuk literasi holistik yang tak memisahkan teks dari realitas objektif. Bentuk transformasi literasi ini mencakup lima kompetensi utama yaitu membaca, menulis, informasi, kritis, dan digital.

 

Lahirnya kompetensi lima di atas hakikatnya sudah lama berakar pada semangat Iqra’  sesuai perintah pertama Allah dalam Al-Quran melalui momentum Nuzulul Quran. Dalam Islam, membaca tak hanya berupa aktivitas kognitif pasif, namun membaca merupakan proses aktif dalam memahami dunia.

 

Hal ini selaras dengan gagasan Walter J. Ong dalam buku Orality and Literacy: The Technologizing of the Word (1982) yang menguatkan pendapat ini dengan menjelaskan kemampuan literasi memperluas kapasitas memori umat manusia, memungkinkan akumulasi ilmu pengetahuan lintas generasi yang menjadi prasyarat kemajuan ilmu pengetahuan. Artinya, literasi baru dan modern yang menjadi fondasi peradaban dunia sudah dikonsepkan secara akademis di Al-Quran dan menjadi poros utama karena menjadi perintah pertama kali Allah kepada Kanjeng Nabi Muhammad Saw.

 

Literasi, Tradisi Islam, dan Spiritualitas

Pandangan bahwa literasi menjadi “alat pembebasan” pada akhirnya menemukan titik temunya melalui teori Paulo Freire dalam buku klasik Pedagogy of the Oppressed (1970). Dalam buku ini, Freire berpandangan literasi sejati merupakan reading the word and reading the world. Literasi pada intinya tak sebatas mengeja huruf, namun menjadi alat membebaskan manusia dari ketidaktahuan, kebodohan, dan kejumudan.

 

Substansi Iqra’ mempunyai napas sama, yaitu ia turun di tengah kegelapan jahiliyah tak sekadar memberikan teks baru, namun dalam rangka memberikan kacamata baru bagi manusia dalam melihat ketidakadilan dan kebodohan di sekitarnya. Perintah ini melahirkan zaman keemasan Islam sebagai bentuk bahwa Islam sangat kuat dengan tradisi keilmuan.  Sebut saja tradisi literasi yang kuat memungkinkan tokoh besar Ibn Khaldun dan Ibn Sina menjembatani gagasan Yunani kuno dengan sains modern dan kontemporer. Hal ini membuktikan tesis Marshall McLuhan dalam karyanya The Gutenberg Galaxy (1962) yang mempertegas medium tulisan menciptakan ruang untuk pemikiran individual yang mendalam dan objektif, menjadi motor penggerak bagi inovasi peradaban dunia.

 

Sementara itu, dimensi spiritual dan intelektual dalam tradisi Islam tak lepas pula dari tradisi literasi dalam Al-Quran. Melalui budaya tradisi intelektual Islam, literasi merupakan jembatan menuju makrifat. Imam Al-Ghazali lewat Ihya’ Ulum al-Din menegaskan ilmu adalah nur (cahaya) yang diletakkan Allah di dalam hati. Artinya, tanpa literasi yang benar, nur itu akan tertutup oleh kabut prasangka yang buruk. Ibn Khaldun dalam Muqaddimah juga memberikan pandangan, bahwa penguasaan ilmu pengetahuan sebagai indikator prioritas dalam kemakmuran bangsa. Bagi Ibnu Khaldun, runtuhnya suatu peradaban sering kali diawali dengan apatisnya masyarakat pada tradisi litersi, budaya belajar dan berpikir kritis.

 

Nuzulul Quran pada Ramadan 1447 H ini harus menjadi wahana refleksi untuk meninjau sejauh mana kedekatan kita dengan “pena” dan “buku/kitab”. Dalam Islam, literasi merupakan manifestasi dari penghambaan kepada Allah dan sekaligus bentuk pengabdian kepada kemanusiaan melalui ilmu pengetahuan.

 

Tantangan literasi di tengah banjir informasi saat ini makin kompleks dan njelehi. Umat Islam tentunya menghadapi apa yang disebut Howard Rheingold dalam buku Net Smart: How to Thrive Online (2012) sebagai kebutuhan akan crap detection (deteksi omong kosong) dan digital literacy (literasi digital). Berapa juta orang membaca dengan cepat, namun masih dangkal. Ini adalah fenomena yang dikritik tajam Nicholas Carr lewat karyanya, The Shallows: What the Internet Is Doing to Our Brains (2014) yang menegaskan teknologi digital bisa mengikis kompetensi manusia dalam berpikir mendalam (deep thinking).

 

Pertanyaannya, apakah Nuzulul Quran hanya akan menjadi sebuah peringatan dan ritus religius belaka?

Dr. Hamidulloh Ibda, M.Pd., adalah Rektor Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung 2025-2029, Koordinator Gerakan Literasi Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah 2024-2029, Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Tengah 2025-2027, Ketua Dewan Pengawas Lembaga Penyiaran Publik Lokal (LPPL) Temanggung TV 2024-2028, Koordinator Bidang Penelitian dan Pengembangan Pimpinan Cabang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kabupaten Temanggung 2025-2029.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • NU Sukolilo Pilih Ketua Baru

    NU Sukolilo Pilih Ketua Baru

    • calendar_month Sen, 29 Nov 2021
    • account_circle admin
    • visibility 333
    • 0Komentar

    Suasana konferensi MWC NU Sukolilo  SUKOLILO – MWC NU Kecamatan Sukolilo menggelar konferensi pada Minggu (28/11) lalu. Kegiatan yang dihelat di Gedung MWC NU tersebut berbarengan dengan Konferensi Anak Cabang Ansor dan Muslimat NU.  Agenda sakral ini diselenggarakan dalam rangka menentukan nakhoda NU Sukolilo lima tahun ke depan. Beberapa nama muncul ke permukaan, namun konferensi […]

  • PCNU PATI - Ilustrasi Pijat; Cara Tradisional Pulihkan Kebugaran Tubuh. Photo by Camille Brodard on Unsplash.

    Pijat; Cara Tradisional Pulihkan Kebugaran Tubuh

    • calendar_month Jum, 27 Mei 2022
    • account_circle admin
    • visibility 345
    • 0Komentar

    Dua hari yang lalu saya merasakan ketidaknyamanan pada kondisi tubuh saya. Bukan karena sedang lapar, tapi diseluruh badan terasa lesu dan lemas. Mungkin sebab musababnya karena saya jatuh saat hendak menyalakan motor saat pagi sebelum berangkat bekerja. Pagi itu saya hendak menyalakan motor dengan menstandarkan dua penyangganya. Tapi sesuatu hal terjadi. Motor saya tiba-tiba rubuh […]

  • Pelantikan Ranting  NU Sukobubuk Kec Margorejo

    Pelantikan Ranting NU Sukobubuk Kec Margorejo

    • calendar_month Jum, 10 Jun 2016
    • account_circle admin
    • visibility 319
    • 0Komentar

    Pati. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Pati secara resmi melantik Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama Desa Sukobubuk Kecamatan Margorejo, bertempat di Mushola An-Nasir Desa Sukobubuk, Ahad 5/6 kemarin. Pelantikan tersebut dilakukan agar kordinasi dari tingkat Ranting hingga Cabang akan terus terjalin. “Maka sejak tahun ini pengurus cabang akan datang ke ranting-ranting NU untuk memperbarui para pengurusnya,”ujar Ali […]

  • PCNU - PATI

    Atlas Wali Songo

    • calendar_month Jum, 8 Jul 2022
    • account_circle admin
    • visibility 326
    • 0Komentar

    Dalam keserbaterbatasan segala hal, alhamdulillah buku ATLAS WALI SONGO dengan pendekatan multidisiplin: historis; arkeologi; aetiologis; etno-historis, dan kajian budaya dapat terselesaikan. Isi buku ini sangat membumi dengan proses sinkretisasi-asimilatif dan bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Fakta mencengangkan di buku ini adalah bahwa kerajaan Islam pertama di Jawa bukanlah Kerajaan Demak (abad 15), melainkan Kerajaan Lumajang yang […]

  • Kepala Desa Wonosekar Sah Jadi Ketua Ranting NU

    Kepala Desa Wonosekar Sah Jadi Ketua Ranting NU

    • calendar_month Jum, 10 Nov 2023
    • account_circle admin
    • visibility 538
    • 0Komentar

    pcnupati.or.id – Kabar menggembirakan datang dari Desa Wonosekar, Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati. Pasalnya, Muhammad Zaenuri, Kepala Desa Wonosekar terpilih sebagai Ketua Ranting NU desa tersebut melalui musyawarah ranting beberapa waktu lalu. Sebelumnya, Nur Kholis, ketua ranting periode sebelumnya, naik sebagai Wakil Ketua MWC-NU Gembong. Sedangkan tampuk kepemimpinan dipegang oleh wakilnya. Namun, dalam pemilihan ketua Ranting […]

  • Mengenal Matsna, Pimpinan Baru IPNU Pati

    Mengenal Matsna, Pimpinan Baru IPNU Pati

    • calendar_month Sel, 31 Agu 2021
    • account_circle admin
    • visibility 420
    • 0Komentar

    PATI – Matsna Zakiyyatus Salwa sosok gigih yang saat ini menjabat sebagai ketua cabang IPNU Pati hingga 2023 nanti. Pria kelahiran 05 Desember 1999 ini mengusung visi ‘Sinergitas pelajar NU yang berilmu, humanis dan mandiri’ dalam mengemban tugas barunya ini. Untuk mewujudkan visi tersebut, pria berkacamata yang berasal dari Desa Pagerharjo, Kecamatan Wedarijaksa, Kabupaten Pati […]

expand_less