Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Literasi Digital Bulan Ramadan

Literasi Digital Bulan Ramadan

  • account_circle admin
  • calendar_month Ming, 22 Feb 2026
  • visibility 9.245
  • comment 0 komentar

 

Oleh Hamidulloh Ibda

Masih pentingkah literasi digital saat bulan Ramadan? Ya, penting lah. Jawaban singkat ini saya jawab sendiri dari pertanyaan yang saya buat sendiri. Meski bulan suci Ramadan selalu datang membawa jeda, koma, waktu rehat sejenak, atau sebutan lain. Apa maksudnya? Jeda dari tradisi makan dan tradisi minum, dari marah, dari kesibukan dunia, kerja, rumah tangga yang sering tak kenal rem.

Akan tetapi di era digital, jeda itu kerap bocor. Kok bisa? Puasa fisik dijalani, namun jari tetap rakus alias gragas, yaitu menggulir layar tanpa henti, menelan informasi tanpa filter, dan membagi konten tanpa mikir panjang. Nah, di sini literasi digital menemukan sumbunya, tidak sekadar kecakapan teknis, melainkan sikap etis dan spiritual.

Paul Gilster dalam buku Digital Literacy (1997) tidak sekadar kemampuan menerapkan peranti digital, namun kemampuan dalam memahami dan menggunakan informasi dalam berbagai format dari berbagai sumber ketika informasi tersebut disajikan melalui komputer. Artinya, dalam konteks bulan suci Ramadan, pemahaman ini meluas, yaitu bagaimana umat beriman memahami, menilai, dan mengelola arus informasi digital untuk selaras dengan nilai puasa, pengendalian diri, kejujuran, dan kebijaksanaan.

Ramadan: Bulan Disiplin Informasi

Latihan dan latihan. Hidup itu memang penuh latihan. Ya, puasa Ramadan hakikatnya memang latihan pengendalian. Lebih tepatnya latihan ngerem awak. Dalam Kitab Iḥyā’ ‘Ulūm ad-Dīn, Imam Al-Ghazali memetakan puasa dalam tiga tingkatan: puasa awam, puasa khusus, dan puasa khususul khusus alias sangat khusus. Tingkat paling pucuk, puasa tidak sekadar menahan nasfu perut dan bawah perut, akan tetapi menjaga pancaindra dan hati dari hal-hal merusak dan sia-sia. Pada konteks dunia digital, mata dan telinga itu kini bermigrasi ke layer gawai.

Dari perspektif teori self-regulation, Zimmerman dalam Becoming a Self-Regulated Learner: An Overview berpendapat individu yang matang mampu mengatur perilaku, pikiran, dan emosinya untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam hal ini, Ramadan merupakan bulan yang menjadi momentum penguatan regulasi diri, termasuk di dalamnya adalah konsumsi informasi. Literasi digital memudahkan seorang bertanya sebelum mengklik: apakah ini bermanfaat? apakah ini benar? apakah ini perlu dibagikan? Ngono!

Tanpa literasi, medsos ibaratnya menjadi ladang ghibah modern, wahana cerita ngalor-ngidul tak jelas arahnya, menjadi wahana penyebaran hoaks berbalut dalil, dan kemarahan kolektif yang rentan viral. Puasa pun tereduksi menjadi ritual biologis belaka, bukan proses penyucian jiwa yang hakiki.

Dari Hoaks ke Hikmah

UNESCO (2011) melalui Media and Information Literacy Curriculum for Teachers menyebut literasi digital merupakan bagian dari media and information literacy (MIL), yang mencakup kemampuan mengakses, mengevaluasi, dan menciptakan informasi secara kritis dan etis. Ramadan menuntut ketiganya harus terlaksana semua. Begitu!

Dalam kegiatan sehari-hari secara teknis di bulan Ramadan, ketika mengakses informasi keislamanan, misalnya, tak cukup sekadar viral atau diklaim “kata ulama”, “kata kiai”, “kata gus” dan lainnya. Maka di sini evaluasi menjadi keharusan, yaitu sumbernya siapa, sanad ilmunya jelas atau tidak, konteksnya sesuai atau dipelintir, relevan dengan Al-Quran dan Assunnah atau tidak. Dalam tradisi Islam, prinsip tabayyun (QS. Al-Hujurat: 6) menjadi fondasi literasi informasi jauh sebelum istilah digital populer.

Di sisi lain, produksi konten berupa status, suara, gambar, komentar, juga bagian dari tanggung jawab literasi. Tiap unggahan merupakan jejak digital sekaligus jejak moral seseorang. Teori digital citizenship dalam buku Digital Citizenship in Schools: Nine Elements All Students Should Know, Mike Ribble (2015) menekankan etika, tanggung jawab, dan empati dalam ruang digital. Artinya, Ramadan mengajarkan hal sama: berkata baik atau diam, termasuk di kolom komentar. Seharusnya demikian!

Tantangan literasi digital di bulan Ramadan yang penting yaitu information overload. Teori cognitive load melalui buku Cognitive Load Theory (2011), John Sweller, Paul Ayres, Slava Kalyuga menjelaskan otak manusia memiliki kapasitas terbatas. Artinya, ketika terlalu banyak informasi terlebih emosional dan kontradiktif, akan berdampak melelahkan mental dan mengganggu kekhusyukan ibadah.

Maka dari itu, literasi digital di bulan Ramadan dapat dimaknai sebagai keberanian untuk berpuasa dari kebisingan digital, yaitu membatasi waktu layar, memilih konten yang meneduhkan, dan menghindari debat kusir yang menguras energi spiritual. Hal ini bukan antiteknologi, namun dalam buku Mindful Tech: How to Bring Balance to Our Digital Lives, David M. Levy (2017) menegaskan hal itu menjadi bentuk mindful technology use yaitu menggunakan teknologi dengan kesadaran penuh.

Akhirnya, dalam hal ini literasi digital di bulan Ramadan bermuara pada kesalehan digital. Artinya, bukan soal seberapa sering membagikan ayat atau poster dakwah, namun seberapa konsisten nilai puasa tercermin dalam perilaku online, yaitu jujur, santun, adil, dan bertanggung jawab.

Bisa saya sebut, bahwa Ramadan memberi kita peluang langka. Mengapa? Karena Ramadan dapat menyelaraskan iman dengan algoritma, takwa dengan teknologi. Sangat keren. Ketika perut dilatih menahan lapar dan dahaga, maka jari pun patut dilatih menahan diri dari “godaan scroll”. Pasalnya, di era digital, kualitas puasa bukan sekadar diukur dari terbit hingga terbenam matahari, namun juga dari apa yang kita klik, ketik, dan sebarkan. Begitu!

–Dr. Hamidulloh Ibda, M.Pd., adalah Rektor Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung 2025-2029, Koordinator Gerakan Literasi Ma’arif NU PCWNU Jawa Tengah 2024-2029, Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Tengah 2025-2027, Ketua Dewan Pengawas Lembaga Penyiaran Publik Lokal (LPPL) Temanggung TV 2024-2028, Koordinator Bidang Penelitian dan Pengembangan Pimpinan Cabang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kabupaten Temanggung 2025-2029.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Bupati Haryanto (baju hitam) memberikan sambutan dalam sambangannya di Masjid Besar Baitul Muttaqin Gembong

    Safari ke Gembong, Bupati Disambut Mustasyar PCNU

    • calendar_month Sen, 11 Apr 2022
    • account_circle admin
    • visibility 454
    • 0Komentar

    GEMBONG – Bupati Pati, Haryanto menyambangi Masjid Besar Baitul Muttaqin Gembong pada Senin (11/4) bertepatam dengan hari ke-sembilan Ramadhan. Kehaditannya kali ini dalam rangka safari ramadhan dengan kegiatan inti, Shalat Tarawih berjama’ah. Kehadiran Bupati, disambut langsung oleh Ketua Takmir, yang juga Mustasyar PCNU Pati, KH. Imam Shofwan serta ketua MWC NU Gembong, K. Sholikhin, sekaligus […]

  • Berbagi dan Bersyukur

    Berbagi dan Bersyukur

    • calendar_month Sen, 6 Jan 2025
    • account_circle admin
    • visibility 503
    • 0Komentar

    Oleh: M. Iqbal Dawami Saya menonton kiriman video dari Pak Djoko Kusumowidagdo tentang Harjanto Halim yang menceritakan perayaan ulang tahun ayah mertuanya yang ke-88. Begitu mengesankan saya menontonnya. Tampak suasana yang sangat hangat. Meskipun acara berlangsung meriah, dengan banyak tamu yang hadir, yang paling mencuri perhatian adalah pesan yang disampaikan oleh sang ayah yang sedang […]

  • Serba-serbi Festival Ramadhan IPNU-IPPNU Wedarijaksa Ke 13

    Serba-serbi Festival Ramadhan IPNU-IPPNU Wedarijaksa Ke 13

    • calendar_month Jum, 29 Apr 2022
    • account_circle admin
    • visibility 513
    • 0Komentar

    WEDARIJAKSA – Pimpinan Anak Cabang (PAC) IPNU-IPPNU Kecamatan Wedarijaksa mengadakan Festival Ramadhan yang ke-13 bertempat di Madrasah Diniyah Tibyanul Falah, Desa Sidoharjo Kecamatan Wedarijaksa. Pagelaran ini dibuka dan dihadiri oleh Ketua Tanfidziyah, Kiai Nabhan Ulinnuha MWC NU Wedarijaksa, Majelis IPNU-IPPNU Wedarijaksa, juga tampak hadir Pimpinan Cabang IPNU-IPPNU Kabupaten Pati. Acara yang berlangsung 26-28 April 2022, […]

  • Terinspirasi Meriam Kekaisaran Ottoman Turki, Siswa MTs Salafiyah Kajen Ciptakan Robot Basilica

    Terinspirasi Meriam Kekaisaran Ottoman Turki, Siswa MTs Salafiyah Kajen Ciptakan Robot Basilica

    • calendar_month Sel, 1 Nov 2022
    • account_circle admin
    • visibility 577
    • 0Komentar

    pcnupati.or.id – Memanfaatkan sejumlah barang bekas, Siswa Madrasah Tsanawiyah (MTs) Salafiyah Kajen, Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati, berhasil menciptakan sebuah robot yang  dinamakan Basilica.  Siswa itu adalah Muhammad Ridwan Arsyad dan Anargya Fahmi Ilmi Nugraha. Keduanya dibimbing oleh Angelia, guru MTs Salafiyah dan tim Madrasah Robotic Competition (MRC).  Bahkan, berkat ketelatenan dari kedua siswa itu, mereka […]

  • NU Gabus Galakkan Peran Lazisnu

    NU Gabus Galakkan Peran Lazisnu

    • calendar_month Ming, 24 Apr 2022
    • account_circle admin
    • visibility 513
    • 0Komentar

    GABUS – Dalam rangka meningkatkan kualitas pelayanan zakat, infaq dan shodaqoh, Lazisnu MWC NU Kecamatan Gabus menggelar Pelatihan Amil Zakat dan Sosialisasi Program Lazisnu, Minggu (24/4) pagi tadi. Kegiatan yang dilangsungkan di Balaidesa Tanjunganom tersebut, dihadiri langsung oleh Wakil Katib Syuriyah dan Ketua Tanfidziyah PCNU Pati, KH. Abdur Rohman dan K. Yusuf Hasyim. Selain itu, […]

  • Safari Sastra Yudhistira Ke-5, Puisi Gugat Politisi

    Safari Sastra Yudhistira Ke-5, Puisi Gugat Politisi

    • calendar_month Sel, 16 Jan 2024
    • account_circle admin
    • visibility 475
    • 0Komentar

      Jakarta, Safari Sastra Yudhistira ke- 5 dengan tema Puisi GUGAT POLITISI berlangsung di Aula Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB.Jassin, Lantai 4, Gedung Panjang Ali Sadikin, Pusat Kesenian Jakarta (PKJ), Taman Ismail Marzuki (TIM) di Jakarta, Senin siang (15/1/2024). Pada kesempatan tersebut Penyair Yudhistira ANM Massardi mengajak Rocker Renny Djajoesman dan Yuka Mandiri membaca puisi […]

expand_less