Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Personalitas dan Identitas Indonesia

Personalitas dan Identitas Indonesia

  • account_circle admin
  • calendar_month Sel, 17 Agu 2021
  • visibility 327
  • comment 0 komentar
Oleh : Maulana Luthfi Karim*

Cinta tanah air adalah sunnatullah. Demikianlah mukaddimah singkat yang penulis sampaikan untuk membuka tulisan ini. 

Dalam berbagai riwayat disebutkan bahwa nabi Muhammad SAW benar-benar cinta mati kepada Makkah dan Madinah. Bukti pertama, beliau pernah berbisik kepada sobat karibnya, Abu Bakar bahwa Makkah adalah tempat yang paling dicintainya seandainya para penduduk Makkah tidak mengusirnya. 

Setelah Hijrah dan berdomisili di Madinah, nabi beberapa kali meninggalkan kota ini untuk suatu urusan. Ketika perjalanan pulang dan telah mendekati Madinah, menyaksikan dinding-dinding kota tersebut, Sang Rasul mempercepat laju ontanya karena rasa rindu pada kota yang telah menjadi rumah kedua baginya. 

Tidak ada yang aneh dalam dua riwayat ini, namun meminjam istilah Gus Muwaffiq, kita juga harus mendalami sisi psikologi nabi saat itu. Maksud penulis, ketika membaca sejarah, kita harus turut merasakan apa yang dialami oleh subjek sejarah. Sehingga pemaknaan terhadap kisah tertentu bisa dengan mudah direlevansikan dengan konteks sekarang. 

Kalau kita fahami betul kedua riwayat di atas, menunjukkan bahwa sifat manusiawinya nabi begitu kental. Cinta dan rindu tanah air menjadi semacam kerak yang melekat di hati, susah dihilangkan. 

Penulis ingin sebut, bahwa cinta tanah air adalah sunnatullah untuk manusia. Dalam terminologi jawa kita kenal ‘gawan bayi’ atau sesuatu yang bersifat personalitas. 

Begini, misalkan kita meninggalkan kampung halaman untuk berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun, dapat dipastikan akan muncul rasa rindu. Kerinduan ini tentunya bersumber dari cinta. Namun darimana cinta itu berasal? Inilah yang penulis sebut personalitas cinta. 

Istilah keren ini penulis dapatkan ketika mengikuti Maiyah di Jogjakarta sekitar tahun 2014. Cak Nun, sang pengasuh Majelis Maiyah membeberkan perbedaan antara personalitas dan identitas. Menurutnya, personalitas ialah segala sesuatu yang menempel dalam diri kita sejak lahir dan kita tidak memiliki kemampuan untuk memilih. Contoh, jenis kelamin, dimana kita lahir dan dari ayah-ibu yang mana kita dilahirkan. Sementara identitas, nyaris sama, hanya saja kita memiliki wewenang untuk memilih, seperti dimana kita tinggal, dan agama apa yang hendak kita pilih. Bagi manusia, keduanya merupakan satu komponen tak terpisahkan yang harus diperkuat demi membangun karakter.

Nah, kembali pada pembahasan awal, rasa cinta terhadap tanah air (bagi pribumi), menurut penulis juga bagian kecil dari personalitas, sama halnya menyayangi orang tua yang telah melahirkan kita. Maka menjadi ambigu jika seseorang tidak merasa mencintai tumpah darahnya. Parahnya, inilah yang sekarang sedang kita hadapi bersama.

Penetrasi lifestyle ala-ala barat, atau yang lagi ngetrend, mode-mode korea makin galak perkembangannya di Indonesia. Bahkan pemuda pemudi juga tak jarang berpenampilan kearab-araban agar terlihat syar’i. Apapun alasannya, alam bawah sadar kita sedang dijajah oleh bangsa lain. Jika di terus-teruskan, krisis identitas bisa bisa menyerang kita kapan saja. Dampaknya bisa lebih seram dari Covid-19.

Satu contoh, Turki Otoman, menjelang kehancuran kerajaan ini, Mustafa Kemal Attaturk memaksakan diri untuk berlagak barat. Akibatnya, Otoman yang pernah jaya, harus ambruk di tangan Attaturk.

Tentunya banyak faktor lain yang mempengaruhi tumbangnya kerajaan ini, namun krisis identitas yang terjadi mau tidak mau harus bertanggung jawab atas keruntuhan Turki Otoman. 

Jauh ke belakang, ada dinasti Abasiyah jilid dua. Ketika kekuasaannya pindah ke Mesir, Dinasti Abasyiyah malah seperti dinasti boneka. Pengendalinya, tentu si tuan rumah, Dinasti Mamluk. Namun para punggawa Dinasti Mamluk merelakan diri mereka untuk dipimpin orang-orang pelarian dari Dinasti Abasyiyah Damaskus, karena namanya terlanjur mentereng. 

Faktanya, Dinasti Mamluk hanya menggunakan popularitas dan pengaruh Dinasti Abasyiyah yang masih cukup kuat pada masa itu sebagai tameng. Penguasa sejatinya, tetaplah Mamluk punya. Intinya, kekuasaan Abasyiyah di Mesir tak lebih dari formalitas.

Pada fase ini, Abasyiyah mengalami krisis identitas yang membuatnya perlahan-lahan bubar barisan tanpa penghormatan. Formasi kerajaan Dinasti Abasyiyah di Mesir yang diharapkan bisa bertahan lama ternyata hanya ajang gladi untuk tidur panjang yang tak pernah usai.

Fakta lainnya, Indonesia selama ratusan tahun dipaksa untuk memuliakan bangsa asing. Dampaknya pun masih terasa sampai sekarang. Kita ancap kali tidak PD dengan ke-Indonesia-an yang menempel dalam diri kita. 

Namun, krisis identitas ini bisa dibangun dengan satu hal, dominasi personalitas. Artinya simbol-simbol ke-Indonesia-an sebagai identitas bangsa, jika mau, bisa dilestarikan melalui penyadaran jamak, dimana kita terlahir, dan tentunya memupuk rasa cinta terhadap kampung halaman, Indonesia. 

Sangat disayangkan memang, personalitas cinta Indonesia agaknya sudah mulai luntur. Ngerinya, salah satu kafilah yang perlahan mulai mencopot jubah nasionalismenya adalah mereka yang mengaku paling agamis. Tentu tidak semuanya, tapi hampir rata-rata. 

Padahal pertentangan antara agama versus bangsa sebenarnya sudah clear sejak zaman nabi.  Jika mengikuti sunnah nabi, jelas kita harus cinta tanah air. Penulis sempat mengorek sebuah hadits, yang kurang lebih bunyinya, “cintailah arab karena tiga hal…”. Validitas hadits ini memang masih menuai perdebatan, tapi banyak pula dari kalangan ummat islam di negara kita yang mempergunakannya untuk lebih mencintai bangsa lain (dalam hal ini Arab) daripada Indonesia.

Jika kita jeli, dan jika benar-benar ini adalah hadits shahih, maka kita akan menemukan fakta bahwa nabi sedang memerintahkan untuk mencintai dan memperjuangkan tanah air.

Alasannya jelas, nabi orang Arab, yang diajak bicara juga mayoritas Arab, atau imigran  yang mukim di sana. Artinya, dalam hadits tersebut, Nabi seolah ingi berpesan, “cintailah tanah airmu, carilah alasan kuat untuk mencintainya. Ini bukan berarti kita tidak boleh mempelajari dan mencintai budaya lain, namun untuk apa mengetahui budaya orang, sedangkan pengetahuan terhadap budaya sendiri nol besar. Kan aneh? 

Kita yang sudah terlanjur basah, tentu punya alasan kuat untuk lebih sering tampil kearab-araban atau kekorea-koreaan, maka sudah saatnya kita cari alasan yang lebih kuat untuk mencintai Indonesia. Meskipun hemat penulis, ini adalah cara paling absurd, sebab tidak perlu alasan untuk mencintai tumpah darah, cinta pada Indonesia, cinta tak bersyarat. Entah Indonesia sebagai personalitas (bagi penduduk asli) ataupun identitas (naturalisasi), Indonesia tetap prioritas (titik).

*Ketua Kader Penggerak NU Gembong, Mudir Ponpes Shofa Az Zahro’

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PCNU-PATI Photo by The Cleveland Museum of Art

    Islam Ukhuwah Sebagai Ikhtiar Membangun Kesalehan Sosial

    • calendar_month Sab, 2 Des 2023
    • account_circle admin
    • visibility 218
    • 0Komentar

    Oleh : Siswanto Manusia pada dasarnya adalah satu, tidak ada perbedaan satu sama lain, yang ada adalah hanyalah variasi dari kesatuannya. Namun sayangnya, manusia kini terpilah ke dalam banyak kelompok suku, kelompok, ras, etnik, adat-istiadat, agama, dan negara. Agama yang semula berniat menyatukan manusia yang telah terpilah dalam suku dan nafsu di bawah satu Tuhan […]

  • hoto by MATAQ Darul Ulum

    Pesantren sebagai Lembaga Tafaqquh fi Ad-din

    • calendar_month Sab, 17 Feb 2024
    • account_circle admin
    • visibility 352
    • 0Komentar

    Oleh : Siswanto, MA Secara historis pesantren sudah ada semenjak proses adanya bangsa Indonesia, bahkan pesantren ikut terlibat dalam perjuangan kemerdekaan. Pesantren memiliki usia setua bangsa Indonesia. Dan bahkan jauh lebih tua jika bangsa Indonesia ini diasumsikan lahir sesudah proklamasi. Lebih dari dengan fakta historis diatas, pesantren dapat dikalim pula sebagai sistem pendidikan asli Indonesia. […]

  • Rodhiyah Mantab Pimpin Fatayat NU Pucakwangi Hingga 2025

    Rodhiyah Mantab Pimpin Fatayat NU Pucakwangi Hingga 2025

    • calendar_month Sel, 2 Nov 2021
    • account_circle admin
    • visibility 296
    • 0Komentar

    Suasana pembukaan Konferensi PAC Fatayat NU Pucakwangi PUCAKWANGI – Kepemimpinan PAC Fatayat NU Pucakwangi periode 2016-2021 resmi usai. Melalui forum tertinggi, Konferensi Fatayat NU tingkat PAC, Umi Kalsum sah demisioner pada Minggu (31/10) di Gedung Serbaguna Pucakwangi.  Acara yang pembukaannya dihadiri seluruh elemen NU tersebut menandai fase baru PAC Fatayat NU Pucakwangi. Sebagai kalimat pamungkas, […]

  • Meneguhkan Dakwah Lewat Tulisan

    Meneguhkan Dakwah Lewat Tulisan

    • calendar_month Rab, 5 Apr 2017
    • account_circle admin
    • visibility 247
    • 0Komentar

    Pati. Jajaran Pengurus Anak Cabang IPNU & IPPNU Wedarijaksan mengadakan pelatihan jurnalistik dengan mendatangkan Mely Lestari dan Rida Yulia penulis lepas asal Pati, bertempat di aula Kantor MWCNU Wedarijaksa, Jumat, 31/3 kemarin. Ketua IPNU Cabang Pati, Muhammad Maksum memaparkan perlu adanya  Gerakan Ayo Menulis buat kader-kader NU salah satunya melalui IPNU&IPPNU. “ Karena gerakan tersebut […]

  • GP Ansor Pati Kota Gelar PKD dan Diklatsar Banser

    GP Ansor Pati Kota Gelar PKD dan Diklatsar Banser

    • calendar_month Sab, 16 Nov 2019
    • account_circle admin
    • visibility 336
    • 0Komentar

    PATI-Pimpinan Anak Cabang Gerakan Pemuda Ansor Pati Kota menggelar Pelatihan Kader Dasar dan Diklatsar Banser di MTs. Alkholifah Desa Ngepungrojo Kecamatan Pati mulai hari Jum’at (15/11) hingga Ahad (17/11) pagi besok. Acara dibuka dan dihadiri oleh Ketua Pimpinan Cabang GP Ansor Itqonul Hakim dan Kasatkorcab Banser Arbain. Suasana Diklatsar Banser yang diselenggarakan oleh PAC Ansor […]

  • MAN 1 Pati memperoleh Predikat *Sekolah / Madrasah Teraktif Literasi 2024*

    MAN 1 Pati memperoleh Predikat *Sekolah / Madrasah Teraktif Literasi 2024*

    • calendar_month Sab, 4 Jan 2025
    • account_circle admin
    • visibility 347
    • 0Komentar

    Pcnupati.or.id – Dalam ajang Festival Literasi tingkat Kabupaten Pati tahun 2024, Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Pati memperoleh predikat sebagai Sekolah/ Madrasah  teraktif Literasi. Penghargaan diserahkan oleh Perwakilan dari Pemerintah Daerah Kab Pati di Pendopo Kantor Bupati Pati pada Sabtu, (4/1/2025). Dalam ajang yang diikuti hampir seluruh sekolah madrasah  di Pati tersebut, MAN 1 Pati […]

expand_less