Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Fenomena FOMO Ramadan

Fenomena FOMO Ramadan

  • account_circle admin
  • calendar_month Ming, 23 Mar 2025
  • visibility 152
  • comment 0 komentar

Oleh Hamidulloh Ibda*

 

Apa to sakjane FOMO kuwi? Fear of Missing Out atau FOMO pada intinya perasaan cemas ketinggalan pengalaman atau aktivitas tertentu yang sering muncul saat Rmadan. Fenomena Ramadan intinya perasaan cemas atau takut ketinggalan momen-momen berharga selama bulan Ramadan. Fenomena ini seringkali dipicu oleh media sosial, ya Facebook, Instagram, TikTok, X, di mana orang-orang membagikan aktivitas Ramadan mereka, seperti buka bersama, tarawih berjemaah, atau kegiatan sosial lainnya.

 

FOMO merupakan sebuah istilah psikologis yang menggambarkan perasaan cemas atau takut akan kehilangan sesuatu yang penting atau berharga. Di bulan Ramadan, FOMO muncul ketika seseorang merasa khawatir tidak dapat memaksimalkan ibadah mereka atau merasa tidak cukup beramal shalih dibandingkan dengan orang lain. Misalnya, merasa cemas karena tidak bisa mengaji sebanyak teman-teman, tidak bisa berpartisipasi dalam kegiatan sosial yang berkaitan dengan ibadah, atau merasa kurang khusyuk dalam shalat dibandingkan dengan yang lain.

 

Ramadan harus dinikmati sebagai bulan yang penuh berkah, rahmat, dan pengampunan. Namun, di tengah keistimewaan bulan suci ini, kita sering kali dihadapkan pada berbagai tantangan dan perasaan yang mengganggu kualitas ibadah kita. Salah satu fenomena yang kini semakin umum terjadi adalah “FOMO Ramadan” yaitu rasa khawatir atau cemas karena merasa ketinggalan kesempatan untuk meraih pahala yang berlimpah di bulan Ramadan. Fenomena ini bisa memengaruhi banyak orang, terutama dengan adanya tekanan sosial, ekspektasi yang tinggi, dan perbandingan dengan orang lain dalam hal ibadah.

 

Penyebab FOMO Ramadan

Fenomena ini seringkali diperburuk dengan hadirnya media sosial, di mana kita sering melihat berbagai postingan tentang orang yang tampaknya bisa memaksimalkan ibadah mereka dengan sempurna. Teman-teman kita mungkin berbagi foto saat sahur bersama keluarga, gambar mereka yang sedang khusyuk membaca Al-Qur’an, atau cerita tentang sedekah yang mereka berikan. Semua ini dapat memunculkan rasa khawatir bahwa kita tidak melakukan yang terbaik, atau bahkan takut kehilangan kesempatan untuk mendapatkan pahala yang maksimal di bulan Ramadan.

 

Setidaknya, beberapa penyebab menjadikan lahirnya FOMO Ramadan. Pertama, perbandingan sosial, kalau bahasa orang Pati adalah tangeh nganggo lamun. Salah satu faktor utama munculnya FOMO Ramadan adalah perbandingan sosial. Di zaman sekarang, media sosial memberi kita akses untuk melihat apa yang orang lain lakukan setiap saat. Melihat orang lain lebih aktif beribadah, misalnya, dapat memunculkan perasaan bahwa kita tidak cukup melakukan hal yang sama, meskipun kenyataannya setiap individu memiliki kemampuan dan cara yang berbeda dalam beribadah.

 

Kedua, keterbatasan waktu dan energi. Ramadan merupakan bulan yang penuh dengan berbagai ibadah, tetapi juga bulan dengan banyak aktivitas, mulai dari puasa, shalat, zakat, sedekah, hingga acara berbuka puasa bersama. Terkadang, dengan jadwal yang padat dan keterbatasan waktu, kita merasa kesulitan untuk memaksimalkan setiap ibadah, yang pada gilirannya memunculkan rasa FOMO, seolah-olah ada banyak kesempatan yang terlewatkan.

 

Ketiga, tekanan ekspektasi. Kokean ngelamun jika saya membahasakan lah. Ramadan sering kali dilihat sebagai bulan untuk mencapai kesempurnaan dalam ibadah. Tekanan ini dapat berasal dari dalam diri sendiri atau dari lingkungan sosial. Banyak yang merasa perlu untuk memenuhi ekspektasi tinggi, baik itu dalam hal puasa yang sempurna, shalat malam (tahajud) yang panjang, atau membaca Al-Qur’an setiap hari. Ketika seseorang merasa tidak dapat memenuhi harapan tersebut, perasaan cemas dan tidak cukup baik bisa timbul.

 

Dampak Negatif dari FOMO Ramadan

Meskipun FOMO dapat memotivasi beberapa orang untuk lebih banyak beribadah, dalam banyak kasus, fenomena ini justru membawa dampak negatif. Pertama, stres dan kecemasan. Terus-menerus merasa cemas tentang kurangnya ibadah atau ketidakmampuan untuk memenuhi standar yang ditetapkan oleh diri sendiri atau orang lain dapat menyebabkan stres. Perasaan tersebut bisa mengganggu fokus dan ketenangan dalam beribadah, yang seharusnya menjadi tujuan utama Ramadan. Iki dimbar-mbarke isa marakke gendeng tenan!

 

Kedua, mengurangi kualitas ibadah. FOMO sering kali menyebabkan kita terlalu terfokus pada kuantitas ibadah (seberapa banyak yang bisa kita lakukan) daripada kualitas ibadah itu sendiri. Alih-alih melaksanakan ibadah dengan penuh khusyuk dan penghayatan, kita justru terjebak dalam perasaan harus memenuhi target-target tertentu, yang akhirnya malah mengurangi kesungguhan dalam ibadah.

 

Ketiga, mengabaikan keikhlasan. Salah satu hal yang terpenting dalam beribadah adalah keikhlasan. Ketika seseorang terjebak dalam FOMO Ramadan, ibadah bisa dilakukan hanya demi pencitraan atau untuk memenuhi ekspektasi orang lain. Hal ini bertentangan dengan inti dari ibadah yang seharusnya dilaksanakan semata-mata untuk meraih keridaan Allah.

 

Solusi

Secara garis besar, fenomena FOMO Ramadan merupakan sebuah hal yang dapat mengganggu kekhusyuan dalam menjalankan ibadah di bulan suci Ramadan. Oleh karena itu, penting untuk selalu menjaga niat dan fokus dalam beribadah, serta menghindari perasaan cemas atau takut ketinggalan momen-momen yang tidak esensial. Maka kita harus menawarkan sejumlah solusi.

 

Pertama, fokus pada kualitas, bukan kuantitas. Alih-alih khawatir tentang seberapa banyak ibadah yang bisa dilakukan, kita perlu fokus pada kualitas ibadah kita. Setiap amalan, meskipun sedikit, jika dilakukan dengan niat yang ikhlas dan penuh penghayatan, akan lebih bernilai di sisi Allah. Usahakan untuk melaksanakan ibadah dengan penuh hati, meskipun hanya shalat lima waktu atau membaca Al-Qur’an beberapa ayat.

 

Kedua, hapuskan perbandingan sosial. Ojo kokean ngelamun keduwuren. Media sosial bisa menjadi penyebab utama FOMO. Cobalah untuk mengurangi konsumsi media sosial selama Ramadan dan fokus pada diri sendiri. Ingat bahwa setiap orang memiliki perjalanan ibadah yang berbeda-beda, dan yang terpenting adalah apa yang kita lakukan untuk mendekatkan diri kepada Allah, bukan bagaimana kita terlihat di mata orang lain.

 

Ketiga, atur waktu dengan bijak. Salah satu cara untuk mengurangi rasa FOMO adalah dengan mengelola waktu secara efektif. Prioritaskan ibadah yang paling penting, seperti shalat, membaca Al-Qur’an, dan berdoa. Jangan terlalu terbebani dengan kegiatan lain yang mungkin menambah stres, seperti mengikuti acara buka puasa bersama yang terlalu sering atau memaksakan diri untuk mengikuti segala aktivitas sosial.

 

Keempat, tetap bersyukur dan berikhtiar. Ramadan adalah waktu untuk mendekatkan diri kepada Allah, dan yang terpenting adalah berusaha dengan sungguh-sungguh dan penuh syukur. Jangan terlalu keras pada diri sendiri, dan jangan biarkan perasaan FOMO merusak niat baik Anda. Berusaha yang terbaik untuk beribadah adalah yang terpenting, dan Allah Maha Mengetahui usaha kita.

 

Fenomena FOMO Ramadan adalah tantangan yang banyak dihadapi oleh umat Islam di zaman sekarang, terutama dengan pengaruh media sosial yang besar. Namun, kita harus ingat bahwa Ramadan adalah waktu yang sangat pribadi untuk kita berhubungan dengan Allah, bukan untuk membandingkan diri dengan orang lain. Dengan menjaga fokus pada kualitas ibadah, mengurangi tekanan sosial, dan lebih banyak bersyukur, kita dapat menghindari perasaan FOMO dan memanfaatkan bulan Ramadan dengan lebih baik.

 

Semoga Ramadan ini menjadi kesempatan yang penuh berkah untuk kita semua, dan semoga kita dapat menghidupkan setiap detiknya dengan ibadah yang ikhlas dan penuh penghayatan.

 

Apakah dirimu juga kena FOMO Ramadan?

 

*Dr. Hamidulloh Ibda, penulis lahir di Pati, dosen dan Wakil Rektor I Institut Islam Nahdlatul Ulama (Inisnu) Temanggung (2021-2025), Koordinator Gerakan Literasi Ma’arif (GLM) Plus LP. Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah (2024-2029), reviewer 31 Jurnal Internasional terindeks Scopus, Editor Frontiers in Education terindeks Scopus Q1 (2023-sekarang), dan dapat dikunjungi di website Hamidullohibda.com.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Mahasiswa KKN Dermaya IPMAFA Gelar Pelatihan Ecoprint Bersama Ibu-ibu PKK di Desa Dermolo

    Mahasiswa KKN Dermaya IPMAFA Gelar Pelatihan Ecoprint Bersama Ibu-ibu PKK di Desa Dermolo

    • calendar_month Ming, 14 Sep 2025
    • account_circle admin
    • visibility 165
    • 0Komentar

    Jepara – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Dermaya IPMAFA melaksanakan program kerja berupa pelatihan ecoprint bersama Ibu PKK Desa Dermolo, Kecamatan Kembang, Kabupaten Jepara. Kegiatan ini dilaksanakan pada Kamis, 4 September 2025, bertempat di Balai Desa Dermolo mulai pukul 14.00 WIB. Pelatihan ini merupakan salah satu program kerja unggulan KKN Dermaya IPMAFA yang bertujuan memberikan […]

  • DKC CBP KPP Pati Donasikan Satu Truk Bantuan untuk Korban Bencana

    DKC CBP KPP Pati Donasikan Satu Truk Bantuan untuk Korban Bencana

    • calendar_month Sel, 2 Feb 2021
    • account_circle admin
    • visibility 109
    • 0Komentar

      Pati, 02 Februari 2021 DKC CBP KPP Pati donasikan satu truk bantuan yang berisi 15 dos Mie instan, 4 Karung beras dan selebihnya pakaian. Bantuan tersebut hasil dari penggalangan donasi oleh beberapa DKAC CBP KPP di antaranya DKAC Dukuhseti, DKAC Gunungwungkal, DKAC Juwana, DKAC Kyen, DKAC Trangkil, PR IPNU IPPNU Gabus dan PR IPNU […]

  • PCNU-PATI

    Dalam Dekapan Ukhuwah

    • calendar_month Kam, 3 Nov 2022
    • account_circle admin
    • visibility 114
    • 0Komentar

    Alangkah syahdu menjadi kepompong, berkarya dalamdiam, bertahan dalam kesempitan. Tetapi bila tiba waktuuntuk jadi kupu-kupu, tak ada pilihan selain terbangmenari; melantun kebaikan di antara bunga, menebarkeindahan pada dunia.Dan angin pun memeluknya, dalam sejukdan wangi surga.Alangkah damai menjadi bebijian; bersembunyi dikegelapan, menanti siraman hujan, menggali hunjamandalam-dalam. Tapi bila tiba saat untuk tumbuh dan mekar,tak ada pilihan […]

  • Bonus Akhir Tahun, MA Salafiyah Kajen Torehkan 531 Prestasi

    Bonus Akhir Tahun, MA Salafiyah Kajen Torehkan 531 Prestasi

    • calendar_month Kam, 30 Des 2021
    • account_circle admin
    • visibility 137
    • 0Komentar

     PATI – Madrasah Aliyah Salafiyah Kajen, Kecamatan Margoyoso, meraih peringkat terbaik Madrasah Aliyah se-Kabupaten Pati. Torehan prestasi itu diumumkan langsung oleh Kasi Penmad Kantor kementerian Agama Kabupaten Pati, Ruhani, dalam acara gebyar prestasi madrasah 2021 “The Best Achievement” melalui zoom metting, Kamis (30/12/2021).  Peringkat terbaik Madrasah Aliyah se-Kabupaten Pati ini berkat raihan prestasi guru dan […]

  • PCNU-PATI Photo by Chandra Putra

    Perpustakaan Keren Kendari

    • calendar_month Sen, 28 Agu 2023
    • account_circle admin
    • visibility 149
    • 0Komentar

    Oleh : M. Iqbal Dawami Sampai di Kendari hari masih siang. Setelah diajak makan siang oleh panitia, aku diantar ke hotel agar bisa langsung istirahat. Lagi pula mereka masih sibuk mengurus acara hari itu yang selesainya sore hari. Wah, hotelnya bagus banget. Sesampai di kamar aku langsung tepar. Rasanya memang cukup melelahkan bagiku melakukan perjalanan […]

  • PCNU Sebut Lazisnu Bakal Jadi Bank Sentral NU

    PCNU Sebut Lazisnu Bakal Jadi Bank Sentral NU

    • calendar_month Rab, 2 Feb 2022
    • account_circle admin
    • visibility 113
    • 0Komentar

    Ketua PCNU Pati (kiri) berpose dengan ketua PC Lazisnu usai acara Rakercab PC Lazisnu Pati PATI – PC Lazisnu Pati adakan Rapat Kerja Cabang (Rakercab) di Room Meeting Hotel Safin. Kegiatan ini berlangsung pada Selasa (1/2) lalu.  Dalam Rakercab tersebut, NU Care Lazinu Kabupaten Pati mantab mengusung tema ‘Menuju Lazisnu Pati MANTAP (Modern, Akuntable, Transparan, […]

expand_less