Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Bersua di Dalam Tanah

Bersua di Dalam Tanah

  • account_circle admin
  • calendar_month Sen, 8 Agu 2022
  • visibility 485
  • comment 0 komentar

Oleh : M. Iqbal Dawami

Seorang sufi ternama, Maulana Jalaluddin Rumi, dalam satu syairnya berkata, “Jauh melebihi apa yang benar dan apa yang salah, tersebutlah sebentang tanah. Kita akan bersua di sana.” Syair yang pendek namun menghunjam ke dalam relung hati. Sebuah kritikan yang tajam dari seorang sufi tatkala menyaksikan hiruk-pikuk manusia yang diributkan oleh sesuatu, entah itu harta, tahta, maupun hal-hal lainnya. Padahal, ujar Rumi, mereka semua—termasuk dirinya—akan mati dan dikubur di dalam tanah. 

Di dalam tanah itulah mereka yang sama-sama ribut itu “bertemu” dengan kedudukan dan posisi yang sama. Di dalam tanah itu mereka sudah tidak meributkan apa-apa lagi, sama-sama tidak merasa paling benar dan menyalahkan orang lain lagi. Mereka sudah tak berdaya. Apa yang diperselisihkannya menjadi sirna seketika. Tidak ada lagi menang dan kalah, benar dan salah. Mereka sama-sama tak berdaya. Oleh karena itu, tidak aneh jika Chairil Anwar, sastrawan Indonesia, berujar, “Hidup hanyalah menunda kekalahan.” 

Maksud puisi tersebut adalah bahwa pada akhirnya kita semua akan mengalami kematian. Dan kematian akan dialami oleh siapa saja. Tanpa kecuali. Siapa yang bisa melawan kematian? Tidak ada. Oleh karena itu, kita semua akan kalah dengan kematian. Pada saat hidup kita berjuang untuk bisa mempertahankan hidup, padahal apa yang kita pertahankan itu akan hilang jua.

Bahkan ada sebagian orang perilaku seperti hendak hidup selamanya. Indikasi orang yang berperilaku demikian adalah tidak menyadari akan hakikat kehidupan sehingga hidupnya penuh dengan kebencian, kebohongan, tipu muslihat, rakus, sombong, melakukan korupsi, dan lain-lain. Padahal, sebagaimana dikatakan Chairil Anwar, mereka akan kalah jua oleh kematian. 

Perbedaan Pendapat

Di dalam hubungan sosial akan terjadi interaksi antar antar-individu. Masing-masing indvidu mempunyai pikiran dan perasaan yang berbeda. Meski orang itu kembar sekalipun. Apa yang dialaminya akan membentuk perasaan dan pikiran tersebut. Maka, sebuah keniscayaan apabila terjadi perselisihan pendapat. Perbedaan pendapat adalah sunnatullah yang tak dapat dielakkan. Oleh karena itu kalau mengingat hakikat tersebut semestinya manusia tidak perlu saling menyalahkan dan merasa paling benar.

Terkadang dengan perbedaan pendapat itu justru menghasilkan sesuatu yang produktif dan tidak monoton. Itulah barangkali mengapa Allah menciptakan manusia berbeda-beda, termasuk agama. Dalam salah satu ayat-Nya, Allah berfirman: “Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat, tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu. Maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kamu semuanya kembali, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu.” [QS. Al-Mâidah : 48]

Perandaian  kata  “sekiranya” dimana dalam bahasa arab berarti “lauw”,  itu  dinamai harf imtina’ limtina’,  yakni kemustahilan sesuatu itu terjadi. Ayat itu telah menakdirkan manusia pasti berbeda, dan perbedaan itu dibuat agar manusia bisa produktif. Artinya, perbedaan itu harus mendorong masing-masing di antara mereka menjadi lebih baik lagi dalam hal apa pun. Output dari ayat itu adalah banyaknya profesi di kalangan manusia.

Ada yang menjadi pedagang, dokter, penulis, guru, dan lain-lain. Masing-masing mereka mempunyai potensi yang sama dalam menjadikan kehidupan ini lebih baik. Jadi tidak perlu saling menyombongkan diri dan merendahkan orang lain. Satu-satunya yang bisa membedakan di antara mereka adalah takwanya. Allah berfirman: “Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling takwa.” (QS. Al Hujurat: 13)

Menjadi lucu barangkali apabila manusia diciptakan sama. Tidak kompetisi, tidak kreatifitas, tidak ada pula keindahan. Bukankah pelangi terlihat indah karena perbedaan warnanya? Menjadi lucu juga sebenarnya apabila ada orang yang menginginkan persamaan dalam kelompok dan keyakinannya. Tak jarang mereka melakukannya dengan memaksa tanpa ada toleransi. Sedikit-sedikit mengafirkan, sedikit-sedikit menyesatkan.

Cukuplah keragaman tafsir atas Al-Quran menjadi bukti bahwa kita memang diciptakan berbeda, dan perbedaan penafsiran itu tidak menyebabkan para ulama saling menyalahkan dan merasa paling benar. Bahkan, dalam beragama sekalipun kita tidak boleh berselisih, merasa paling benar. Allah SWT sendiri dalam QS. 3:105 telah memperingatkan umat Islam agar  tidak terjebak dalam perselisihan beragama seperti yang pernah terjadi pada umat sebelumnya.

Kematian Sebagai Nasihat

 Kembali kepada syair Jalaluddin Rumi di atas, bahwa tatkala manusia sudah mati sudah tidak ada lagi apa itu kesombongan, keegoisan, keangkuhan, kebanggaan. Di dalam tanah manusia telah sirna. Jasad kita sudah dikubur. Kita kemudian “hidup” kembali di alam lain, yang seratus persen berbeda dengan kehidupan di dunia. Maka, sebuah ungkapan populer telah mengingatkan kita jauh-jauh hari, “Cukuplah kematian sebagai nasihat.”

Kematian adalah sebuah nasihat yang tidak menggunakan kata-kata. Ia diam seribu bahasa. Tapi diamnya itu adalah emas, karena mengandung pesan yang begitu mendalam. Bayangkan, apa yang bisa dilakukan orang yang sudah mati? Apa yang bisa dibanggakannya? Apa yang bisa dibawanya? Tidak ada, bukan? Kita semua sudah hal itu. Mestinya nasihat itu selalu kita pegang di setiap waktu, agar kita selalu sadar dan eling (ingat) bahwa kita ini kelak akan mengalami kematian. Dengan begitu, kita berharap bisa mengendalikan diri dan mengontrol hidup supaya tidak dilanda perilaku tercela.

Kematian mengajarjan mengajarkan kita untuk senantiasa berusaha melakukan yang terbaik agar kehidupan yang kita jalani menjadi lebih bermakna, baik pada diri sendiri maupun orang lain.

Ibnu Umar pernah berkata, “Aku pernah menghadap Rasulullah saw. sebagai orang ke sepuluh yang datang, lalu salah seorang dari kaum Anshor berdiri seraya berkata, “Wahai Nabi Allah, siapakah manusia yang paling cerdik dan paling tegas?” Beliau menjawab, “(adalah) Mereka yang paling banyak mengingat kematian dan paling siap menghadapinya. Mereka itulah manusia-manusia cerdas; mereka pergi (mati) dengan harga diri dunia dan kemuliaan akhirat.” (HR. Ath-Thabrani).

Seperti kata lagu, “Dunia ini panggung sandiwara, ceritanya mudah berubah, ada peran wajar dan ada peran berpura-pura.” Kalau dunia diumpamakan sebagai panggung sandiwara, dan manusia yang hidup di dalamnya memerankan segala hal, maka pada saat kematiannya semua peran menjadi sirna. Jadi, sebaik-baiknya peran yang kita mainkan, tak akan pernah abadi. Kita bisa bangga tatkala ketika hidup mendapat peran sebagai orang kaya. Kita bisa menangis saat mendapat peran sebagai orang miskin yang menderita. Tapi, bangga dan menangis itu bukan untuk selamanya. Semuanya akan berakhir di liang lahat.

Kematian mengingatkan bahwa kita bukan siapa-siapa. Kematian akan sama-sama dialami oleh siapa saja, entah itu penguasa, rakyat, atasan,bawahan, kaya, dan miskin. Tak ada satupun dari manusia yang luput dari peristiwa kematian. “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada kamilah kamu dikembalikan.” (Al-Anbiya: 25)[]

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Seperti Ini Potret Toleransi di Desa Jrahi<br>

    Seperti Ini Potret Toleransi di Desa Jrahi

    • calendar_month Sab, 30 Apr 2022
    • account_circle admin
    • visibility 484
    • 0Komentar

    PATI -Desa Jrahi, Kecamatan Gunungwungkal, Kabupaten Pati, terkenal dengan sebutan Desa Wisata Pancasila. Di sana terdapat beberapa agama. Namun dengan kerukunan dan toleransi yang ada, masyarakat bisa hidup berdampingan.  Di sana, ada tiga agama dan satu penghayat kepercayaan yang dipeluk. Yakni, Agama Islam, Kristen, Budha dan Sapto Darmo.  Potret kerukunan di Desa Jrahi terlihat saat […]

  • Peringatan Hari Santri 2025, PAC GP Ansor Tlogowungu Adakan Ngaji Triwulan

    Peringatan Hari Santri 2025, PAC GP Ansor Tlogowungu Adakan Ngaji Triwulan

    • calendar_month Sab, 25 Okt 2025
    • account_circle admin
    • visibility 4.041
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.id. – Dalam rangkaian peringatan Hari Santri 2025, PAC GP Ansor Kecamatan Tlogowungu mengadakan acara Ngaji Triwulan, di halaman Masjid Baiturrohman Dukuh Ngembe, Desa Suwatu, pada Kamis (23/10/2025) malam. Kegiatan ini dihadiri langsung oleh Ketua PC GP Ansor Kabupaten Pati, H. Abdullah Syafiq Mu’adz, serta diisi oleh KH Ahmad Nadhif Abdul Mujib sebagai penceramah. […]

  • PCNU-PATI

    Kunci Sukses Meraih Ridha-Nya?

    • calendar_month Sen, 5 Des 2022
    • account_circle admin
    • visibility 520
    • 0Komentar

    Belajar memahami Islam menjadi modal dalam memilah dan memilih jalan untuk mencapai hidup sukses dan mulia. Pemahaman yang benar akan menjaga kita dari kesesatan dan kerugian. Merasa sudah ada di jalan yang akan menghantarkan pada kesuksesan dan kemuliaan, ternyata akhir yang didapat tidak sesuai dengan yang diharap. Pemahaman yang benar tentang Islam akan menuntun setiap […]

  • PC Fatayat NU Pati Gelar Latihan Kader Lanjutan di Jrahi

    PC Fatayat NU Pati Gelar Latihan Kader Lanjutan di Jrahi

    • calendar_month Sen, 27 Des 2021
    • account_circle admin
    • visibility 544
    • 0Komentar

    Peserta LKL PC Fatayat NU Pati foto bersama GUNUNGWUNGKAL – Pimpinan Cabang (PC) Fatayat NU Kab. Pati menggelar kegiatan Latihan Kader Lanjutan (LKL), Sabtu dan Ahad, 26-27 Desember 2021. Pelatihan selama dua hari ini dilaksanakan di Gili Malang Jrahi (GMJ), Gunungwungkal. Latihan Kader Lanjutan ini diikuti oleh pengurus PC Fatayat NU Kab. Pati dan utusan dari […]

  • ‎Hanya Ada Di INISNU, Kampus Gelar Nyadran Kampus Hijau

    ‎Hanya Ada Di INISNU, Kampus Gelar Nyadran Kampus Hijau

    • calendar_month Sab, 31 Jan 2026
    • account_circle admin
    • visibility 8.272
    • 0Komentar

    ‎ ‎Temanggung – Dalam rangka memperingati Hari Lahir (Harlah) Nahdlatul Ulama (NU) ke-100 Masehi atau 1 Abad NU, Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung bersama keluarga besar Kampus Hijau menggelar Nyadran Kampus Hijau yang dipusatkan di Komplek Masjid Al-Ittihad INISNU Temanggung, Jumat pagi (30/1/2026). ‎ ‎Kegiatan ini diikuti oleh sivitas akademika dan lembaga di lingkungan […]

  • UPZIS MWCNU Tayu Studi Tiru ke Ranting Bae Kudus, Pelajari Pengelolaan Kaleng INUK

    UPZIS MWCNU Tayu Studi Tiru ke Ranting Bae Kudus, Pelajari Pengelolaan Kaleng INUK

    • calendar_month Sel, 6 Jan 2026
    • account_circle admin
    • visibility 7.226
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.id – Unit Pengelola Zakat, Infak, dan Sedekah (UPZIS) MWCNU Tayu Pati, melaksanakan kegiatan studi tiru ke UPZIS Ranting Bae, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus, Ahad (4/1/2026). Kegiatan ini dilakukan sebagai upaya meningkatkan kualitas tata kelola zakat, infak, dan sedekah (ZIS). Dalam kegiatan itu, rombongan disambut hangat oleh jajaran pengurus UPZIS Ranting Bae bersama pengurus […]

expand_less