Pesan Moral Rektor IPMAFA di Tengah Tradisi Musalsal: Jaga Sanad Keilmuan dan Waspadai Krisis Ekonomi
- account_circle admin
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 20.842
- comment 0 komentar

Pesan Moral Rektor IPMAFA di Tengah Tradisi Musalsal: Jaga Sanad Keilmuan dan Waspadai Krisis Ekonomi
Pati, 30 Oktober 2026 – Menjelang momen kelulusan, Institut Pesantren Mathali’ul Falah (IPMAFA) kembali menggelar tradisi ijazah musalsal yang kental akan makna spiritual. Kegiatan sakral ini tidak sekadar menjadi rutinitas seremonial menjelang wisuda, melainkan sebuah ikhtiar batiniah yang bertujuan untuk menyambungkan sanad keilmuan secara langsung antara para santri dan guru-gurunya. Melalui sanad yang tersambung ini, diharapkan para lulusan tidak hanya membawa ijazah akademik, tetapi juga warisan moral dan keberkahan ilmu yang bersumber langsung dari para masyayikh untuk diamalkan di tengah dinamika masyarakat.
Di sela-sela khidmatnya prosesi tersebut, Rektor IPMAFA, Abdul Ghaffar Rozin turut menyampaikan pidato reflektif yang menyoroti realitas sosial-ekonomi bangsa saat ini. Dengan gaya bahasa yang membumi, beliau secara terbuka menyinggung kondisi perekonomian negara yang sedang tidak baik-baik saja dan tergolong babak belur. Sebagai ilustrasi nyata himpitan finansial hari ini, beliau membandingkan pergeseran nilai mata uang secara kultural dengan kalimat, “Aspek ekonomi kita sedang babak belur, dulu uang 500 cukup untuk hidup 1 bulan, namun untuk sekarang belum tentu cukup.” Sentilan ini menyadarkan para calon sarjana agar bersiap menghadapi tantangan kemandirian ekonomi yang kian ketat di luar kampus.
Tidak hanya berhenti pada isu finansial, Gus Rozin sapaan akrab Rektor IPMAFA juga meluaskan pandangannya pada pergeseran etika dan relasi personal di era modern. Beliau dengan tegas menyoroti pentingnya menjaga komitmen moral dalam hubungan sosial dan asmara, dengan berpesan agar anak muda tidak mudah mempermainkan ikatan hati. Beliau mengingatkan para mahasiswa agar jangan sampai berhubungan lebih dari satu orang, sebab esensi ketulusan dan rasa hormat kini mulai bergeser ke arah komodifikasi.
Pesan mendalam tersebut ditutup dengan sebuah kritik tajam terhadap fenomena hubungan masa kini, di mana kasih sayang hari ini kerap ditukar dengan kuantitatif. Maksudnya, kedalaman komitmen dan ketulusan emosional sering kali direduksi hanya sebatas angka, popularitas, atau seberapa banyak relasi yang bisa dikumpulkan secara instan. Pesan kritis ini sekaligus menjadi bekal penutup yang kental nilai dakwah moral bagi para wisudawan IPMAFA sebelum mereka benar-benar melangkah keluar menghadapi kompleks nya dunia luar.
- Penulis: admin

Saat ini belum ada komentar