Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Berita » Panggung Muharram Cup Ponpes Bunyanun Marsush Bulumanis Kidul Suguhkan Pentas Teater Edukatif Santri

Panggung Muharram Cup Ponpes Bunyanun Marsush Bulumanis Kidul Suguhkan Pentas Teater Edukatif Santri

  • account_circle admin
  • calendar_month Sab, 20 Jun 2026
  • visibility 15.933
  • comment 0 komentar

Pcnupati.or id- Suasana malam penganugerahan Muharram Cup Pondok Pesantren Bunyanun Marsush, Bulumanis Kidul, Margoyoso, Pati, Jumat (19/6/2026), terasa berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Selain penampilan kreasi santri seperti pembacaan puisi, khitobah bahasa Arab dan Inggris, rebana, serta pengumuman para juara, panggung tahun ini menghadirkan suguhan istimewa berupa pertunjukan teater dari Madrasatul Qur’an Salafiyah (MQ).

Kelompok Teater MQ yang baru berdiri pada April 2026 tampil dengan dua karya berbeda, yakni teater putri berjudul “Ritus Santri” dan teater putra berjudul “Ziarah”. Kedua pertunjukan tersebut mengangkat tema yang dekat dengan kehidupan pesantren dan sarat nilai pendidikan karakter.

Ritus Santri, Potret Perjuangan Beradaptasi di Pesantren

Penampilan teater putri dibuka dengan teatrikal puisi berjudul Ritus Santri. Seorang santri baru digambarkan datang ke pesantren dengan langkah tergesa-gesa sambil menggendong tas dan membawa kardus besar bertuliskan kitab-kitab salaf. Di pundaknya juga terdapat dua kardus kecil bertuliskan “Harapan Ayah” dan “Harapan Ibu”, simbol amanah besar yang dibawanya.

Konflik mulai muncul ketika berbagai warna yang melambangkan sifat dan gejolak batin hadir di atas panggung. Warna merah memberikan semangat dan keberanian, hitam mengajak menyerah dan pulang, putih mengingatkan niat tulus untuk menuntut ilmu, sedangkan kuning menghadirkan sikap hati-hati. Masing-masing berusaha memengaruhi tokoh santri hingga membuatnya kebingungan.

Puncak adegan terjadi saat sang santri berteriak keras, “Tidaaaak!” hingga seluruh tokoh warna tersungkur. Setelah pergulatan batin yang panjang, ia akhirnya mampu menyatukan seluruh warna tersebut sebagai simbol keberagaman karakter yang saling menguatkan dalam proses pendewasaan diri.

Menjelang akhir pertunjukan, suasana semakin menyentuh melalui dialog singkat antara seorang ibu dan anak yang sedang menempuh pendidikan di pesantren. Sang ibu berpesan agar anaknya tetap sabar dan ikhlas menuntut ilmu sehingga kelak menjadi anak saleh yang dapat mengalirkan doa kepada kedua orang tuanya. Adegan tersebut diperkuat dengan nasihat dari tokoh Bu Nyai mengenai kehidupan pesantren yang penuh perjuangan namun sarat keberkahan.

Didukung musik pengiring yang selaras dengan suasana, penampilan perdana Teater MQ berhasil menghadirkan pesan mendalam tentang perjuangan, ketulusan, dan keteguhan seorang santri.

Ziarah, Mengingatkan Pentingnya Doa untuk Orang Tua

Suguhan berikutnya datang dari Teater MQ Putra melalui drama berjudul Ziarah. Pertunjukan diawali dengan suasana makam tua bertuliskan “Makam Mbah Bejo”. Dari balik makam, muncul sosok arwah yang menyampaikan keluh kesah kepada Tuhan karena anak-anaknya telah melupakan dirinya dan sibuk memperebutkan warisan.

“Ya Tuhan, mengapa nasibku seperti ini? Anak-anakku telah lupa padaku. Mereka sibuk berebut warisan. Bisakah Engkau hidupkan aku kembali?” tutur tokoh tersebut dalam adegan pembuka yang mengundang perhatian penonton.

Cerita kemudian berlanjut pada perebutan harta warisan oleh beberapa tokoh yang digambarkan melalui simbol warna merah dan hitam. Dalam kesibukan mengejar harta, mereka lupa bahwa orang tua yang telah meninggal justru lebih membutuhkan kiriman doa daripada pertikaian mengenai dunia.

Pada bagian akhir, pertunjukan menghadirkan dua adegan reflektif. Adegan pertama menampilkan seorang anak yang mengadu di makam ayahnya karena merasa tidak dilahirkan dalam keluarga kaya. Keluhannya kemudian dijawab oleh sang paman yang menjelaskan bahwa warisan terbesar seorang ayah bukanlah harta benda, melainkan nilai-nilai kehidupan dan perjuangan.

Sementara itu, adegan kedua menampilkan seseorang yang datang ke makam dengan harapan memperoleh kekayaan dan kemenangan melalui jalan pintas. Kehadiran seorang kiai dalam adegan tersebut memberikan penegasan bahwa makam bukan tempat meminta keberuntungan, melainkan tempat mengingat kematian, mendoakan yang telah wafat, dan mengambil pelajaran hidup.

Menjadi Wadah Kreativitas Santri

Kepala Madrasatul Qur’an Salafiyah, Alwi Ahmad Sulthon, mengapresiasi perjuangan para pemain yang mampu tampil meski memiliki waktu persiapan yang sangat terbatas.

“Sejak pagi hingga menjelang magrib mereka berjibaku berlatih dan mempersiapkan penampilan. Alhamdulillah mereka tetap bisa tampil. Karena ini pengalaman pertama, tentu secara teknis masih ada banyak kekurangan, tetapi secara keseluruhan sudah sangat baik,” ujarnya.

Ia berharap ke depan terdapat momentum khusus bagi Teater MQ untuk menggelar produksi yang lebih matang sehingga dapat menjadi wadah pengembangan bakat dan minat santri di bidang seni pertunjukan.

Senada dengan itu, Pembina Teater MQ, Miftahur Rohim atau yang akrab disapa Pak Oim, mengaku masih menemukan berbagai kendala teknis selama pementasan berlangsung.

“Musik pengiring sempat mengalami kendala, beberapa adegan juga belum berjalan maksimal. Mungkin karena ini pengalaman pertama sehingga anak-anak masih mengalami demam panggung. Ditambah lagi waktu latihan yang sangat terbatas karena padatnya agenda madrasah,” tuturnya.

Meski demikian, menurutnya pengalaman tampil di atas panggung merupakan hal yang jauh lebih berharga bagi para santri.

Ia menjelaskan bahwa naskah Ritus Santri menggambarkan beratnya proses adaptasi seorang santri baru beserta berbagai tantangan yang harus dihadapi untuk meraih kesuksesan. Sementara naskah Ziarah mengajak penonton memahami pentingnya mendoakan orang tua yang telah meninggal dunia.

“Orang yang telah meninggal tidak lagi membutuhkan harta ataupun jabatan. Mereka hanya membutuhkan kucuran doa dari anak-anak yang saleh dan salehah. Harapannya, tontonan ini bisa menjadi tuntunan bagi para santri agar terus berjuang dalam menuntut ilmu dan kelak menjadi anak yang membanggakan orang tua,” pungkasnya.

Penampilan perdana Teater MQ menjadi warna baru dalam rangkaian Muharram Cup tahun ini. Selain menghibur, kedua pertunjukan tersebut berhasil menyampaikan pesan moral yang dekat dengan kehidupan santri serta mengingatkan pentingnya perjuangan, bakti kepada orang tua, dan kesadaran akan kehidupan setelah kematian.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Adzan Dua Kali Menjelang Sholat Jum’at

    Adzan Dua Kali Menjelang Sholat Jum’at

    • calendar_month Sen, 28 Apr 2014
    • account_circle admin
    • visibility 635
    • 0Komentar

    Adzan Dua Kali Menjelang Shalat Jum’at Pada awalnya untuk menandai datangnya shalat Jum’at dikumandangkan adzan satu kali, yaitu ketika khatib sedang duduk di mimbar. Praktek demikian berlangsung sejak jaman Rasulullah hingga Khalifah Umar bin Al Khatthab. Kemudian saat menjabat khalifah, Utsman bin Affan menambahkan satu adzan yaitu sesaat sebelum khatib naik mimbar. Hal itu dia […]

  • PCNU-PATI

    Kebangkitan Nahdlatut Tujjar 

    • calendar_month Sen, 20 Feb 2023
    • account_circle admin
    • visibility 547
    • 0Komentar

    Oleh : Dr. H. Jamal Makmur Asmani Memasuki abad kedua Nahdlatul Ulama, tantangan terbesar NU adalah nahdlatut tujjar, kebangkitan ekonomi.  Tashwirul afkar sudah dipresentasikan tafaqquh fiddin di pesantren, madrasah, perguruan tinggi, madin, dan TPQ. Sedangkan nahdlatul wathan sudah menjadi ‘karakter inhern’ NU dalam kiprah kebangsaan dan kemanusiaan. Maka, nahdlatut tujjar masih menjadi bidang yang harus […]

  • Dukungan Temanggung sebagai Kota Budaya Makin Kuat

    Dukungan Temanggung sebagai Kota Budaya Makin Kuat

    • calendar_month Sab, 23 Des 2023
    • account_circle admin
    • visibility 413
    • 0Komentar

    Temanggung – Dalam rangka menindaklanjuti Seminar Nasional bertajuk “Peran  (INISNU) Temanggung menggelar kegiatan lanjutkan untuk meneguhkan Kabupaten Temanggung sebagai Kota Budaya dengan menghadirkan Kepala Makara Art Center Universitas Indonesia (UI), Dr Ngatawi Al Zastrow, pada Sabtu (23/12/2023).   Acara dimulai dengan pembukaan, sambutan Ketua BPP INISNU Temanggung Drs. KH. Nur Makhsun, M.S.I., sambutan Kepala Dinas […]

  • Fatayat Pati Awasi Pelaksanaan JKN-KIS

    Fatayat Pati Awasi Pelaksanaan JKN-KIS

    • calendar_month Sen, 27 Sep 2021
    • account_circle admin
    • visibility 358
    • 0Komentar

    Bupati Pati, Haryanto, memberikan sambutan dalam acara peresmian program Perempuan Bersuara Mengawasi JKN-KIS di Pendopo Kabupaten Pati, Senin (27/9).  PATI – Program Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) dalam pelaksanaannya akan mendapatkan pengawasan dari Pengurus Cabang (PC) Fatayat Nahdlatul Ulama (NU) Kabupaten Pati. Bagian salah satu ormas terbesar di Indonesia itu mengaku siap mengawasi pelaksanaan […]

  • PCNU-PATI

    Pesantren sebagai Center Studi Masyarakat

    • calendar_month Sab, 10 Feb 2024
    • account_circle admin
    • visibility 364
    • 0Komentar

    Oleh : Siswanto,MA Pesantren sebagaimana kita pahami merupakan tempat belajar para santri yang di dalamnya terdapat kiai, santri, kitab kuning, dan bangunan. Sehingga pesantren merupakan model pendidikan tertua yang ada di Pulau Jawa-Madura. Salah satu tradisi agung (great tradition) di Indonesia adalah tradisi pengajaran agama Islam dan khazanah kitab kuning. Dimana tradisi tersebut sudah turun-temurun […]

  • PCNU-PATI

    Dua Mahasiswa PPL IPMAFA Undur Diri Dari Lazisnu Pati

    • calendar_month Rab, 6 Des 2023
    • account_circle admin
    • visibility 432
    • 0Komentar

    Pcnupati.or.id- Pati- Dua orang Mahasiswa IPMAFA pamit usai melaksanakan PPL (Praktik Pengalaman Lapangan) selama kurang lebih satu bulan setengah di kantor PC Lazisnu Pati, selasa (05/12). Umar Faruq selaku kaprodi sekaligus dosen pembimbing lapangan, dalam sambutannya menyampaikan rasa terimakasih kepada PC Lazisnu Pati atas bimbingan dan kesediaan ditempati sebagai lokasi PPL. “Terimakasih kami sampaikan kepada […]

expand_less