Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Dari Keyakinan Menjadi Pembelaan

Dari Keyakinan Menjadi Pembelaan

  • account_circle admin
  • calendar_month Rab, 15 Mar 2023
  • visibility 120
  • comment 0 komentar

Oleh :  Niam At Majha

Nahdlatul Ulama (NU) mempunyai peran penting dalam pembentukan sejarah Indonesia. Termasuk pilar utama tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sampai saat ini. Sejarah NU adalah sejarah umat, sejak terbentuknya tahun 1926 NU telah menunjukkan kekuatan-kekuatannya dalam memadukan tradisi masyarakat dengan tradisi keagamaan. Karena tradisi Islam Indonesia adalah tradisi terhadap ulama, tradisi penghormatan terhadap orang-orang yang cakap dan berilmu pengetahuan tentang masyarakat dan sejarahnya.

Dalam panggung sejarah Indonesia NU merupakan salah satu organisasi keagamaan yang bisa dikatakan cukup matang melihat usinya yang menginjak ke 100 tahun. Jamiiyah Nahdlatul ulama (NU) juga tercatat memiliki sumbangsih besar bagi bangsa Indonesia. Dan NU sendiri didirikan oleh para ulama(kyai) seperti KH. Hasyim Asy’ari dan KH. Wahab Hasbullah pada 31 Januari 1926 di Surabaya. Para pendiri NU adalah para penyebar dan pendudung, penyebar faham Islam Ahlus sunnah wal Jama’ah. Dari paham ini telah mempersatukan umat Islam seluruh Indonesia dan menjaga NKRI seutuhnya.

Melalui NU para ulama memainkan perannya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sebagai ormas keagamaan yang memiliki basis pendukung mulai dari masyarakat bawah hingga atas, sehingga ideologi NU sangat diterima dengan baik oleh masyarakat Indonesia. Dan kini jaringan organiasasi NU telah menunjukkan perkembangannya ke penjuru Nusantara.

Ahmad Baso melalui buku Agama NU untuk NKRI, mengugah kesadaran bersama akan pentingnya konsistensi NU dalam berperan membangun masa depan bangsa Indonesia. Sebagai intelektual muda NU Ahmad Baso tak henti-hentinya menggali khazanah NU. Ia menawarkan pemikirannya, melalui Agama NU untuk NKRI yang mengupas tentang; Pertama; Agama NU dan masa depan NKRI. Kedua; taushiyah kiai tentang Agama NU. Ketiga; NU dan Agama NU di Era penjajahan ekonomi baru. Keempat; Agama NU di era pilkada dan soal alasan NU berpolitik dan bikin resolusi jihad, khittah kebangsaan dan politik kaderisasi NU. Kelima; Agama NU dan asbabun nuzul bahaya laten Wahabi Salafi dan Liberal Sekuler. Keenam; Agama NU agamanya rakyat kita. Ketujuh; Agama NU kritik ideology; manhaji fiqh dan suara-suara rakyat. Kedelapan; Perempuan pesantren, rekonsilistor, merawat tradisi Agama NU plus Sukarnoisme. Kesembilan; Agama NU, Tajdid dinamisasi ide-ide modern untuk kepentingan orang-orang desa. Kesepuluh; Agama rakyat, agama revolusi, agama NU. Ada sepuluh pembahasan di dalam buku karya Ahmad Baso, yang sedikit banyak memberi sumbangan khasanah pemikiran para warga NU.

Saat ini NKRI sedang dijanggit pelbagai persoalan pelik seperti penyakit korupsi, kemiskinan, penjarahan kekayaan alam oleh perusahaan asing, dll. Sangat membutuhkan solusi ampuh untuk menanggulangi semua itu. Dan mengelorakan semangat berjuang dikalangan NU. Sebagaimana perjuangan yang telah dilakukan para pendahulu. Terbukti tokoh-tokoh seperti KH. Hasyim Asy’ari, KH. Wahab Hasbullah, KH. Wahid Hasyim, Gus Dur, dan KH. Sahal Mahfud yang terklebih dahulu mengukir sejarah kesuksesan. Baik perjuangan lewat gerakan sosial, pemikiran, dan politik.

Mencintai NKRI dan menjaga keutuhannya adalah harga mati dan harus di perjuangankan. Terutama warga NU sebab penjajahan era sekarang lebih gawat. Maka dari itu cinta tanah air (nasionalisme) adalah harga mati dalam rovolusi jihad KH Hasyim Asy’ari. Ia mewajibkan serulur bangsa mempertahankan Indonesia dari penjajah dan menghukumi dosa besar setiap orang Islam yang tidak mau berjuang, karena mempertahankan tanah air adalah bagian dari jihad. Munculnya aliran-aliran keagamaan di era kontemporer yang radikal dan fundamental sangat meresahkan kita semua. Nah, dalam konteks inilah peran NU amat dibutuhkan. Untuk menjaga dan meneruskan perjuangan para kiai terdahulu. Serta menyebar paham Ahlussunnah Waljama’ah ke seluruh penjuru nusantara.

Jamiiyah Nahdlatul Ulama di dirikan oleh para ulama untuk menegakkan syariat Islam Ahlussunnah Waljama’ah agar umat Islam mengamalkan agamanya, serta mencintai bangsa, Negara dan tanah airnya.

Jadi dalam pandangan Nahdlatul Ulama, menganut paham Islam Ahlussunnah Waljama’ah berarti mengamalkan agama dan mencintai bangsa dan tanah air sekaligus. Sementara menegakkan syariat Islam adalah melaksanakan ajaran-ajaran Aswaja dengan ke tiga dimensinnya, tauhid,fiqih, dan tasawuf (Iman, islam, ihsan).

 Ahmad Baso melalui buku Agama NU dapat dibaca sebagai sebuah refleksi akan komitmennya membela dan mengawal NKRI. Dan memberikan sebuah solusi terhadap warga Nahdlatul Ulama segera sadar diri dan orang NU tidak boleh berpuas diri akan perjuangan social yang pernah di lalui para pendiri Nahdlatul Ulama sebelumnya. Perjuangan sekarang jauh berbeda para penjajahnya lebih halus bahkan terkadang terasa sulit membedakan antara kawan dan lawan.

Salah satu bentuk penjajahan yang harus di waspadai adalah aliran Wahabi telah mulai merongrong paham syariat Islam Ahlussunnah Waljama’ah ada salah satu hadis nabi yang kerap dipakai. Yakni,”Hubbu-l-wathan mina-l-iman” Cinta tanah air adalah sebagian dari iman. Namun sayangnya, seiring dengan masuknya gelombang paham Wahabi yang memang tidak punya akar dalam masyarakat kita. Hadis di atas di anggap tidak sahih dan palsu. Itu sebabnya orang-orang Belanda senang kalau paham Wahabi di propagandakan ke Nusantara.

Dalam tradisi pemikiran Nahdlatul Ulama, syariat Islam diturunkan kepada manusia tidak memiliki tujuan lain kecuali untuk melindungi kepentingan dasar manusia dasar manusia itu sendiri, mewujudkan kedamaian dan kemaslahatan diantara mereka. Untuk tujuan itu, para ulama dimasa lampau merumuskan sebuah konsep yang di kenal dengan maqoshid as syariah atau tujuan-tujuan syariat. Dalam buku Agama NU ingin menunjukkan hakikat kekuatan agama NU dengan basis populisme dan kebangsaannya itu. Simbolnya terlihat jelas dalam salah satu artefak kajayaan agama NU; sebuah keris yang di pajang di Museum Nahdlatul Ulama di Surabaya. Sebuah keris yang bertuliskan ayat al-Quran “Wa’tashimu bihablillahi jami’am wa la tafarroqu” dengan lambing Nahdlatul Ulama disamping kirinya, bermakna “tali Allah” adalah “tali jagat” dalam lambang NU yang mempersatukan berbagai komponen bangsa kita.

Bangsa ini terbangun dari beraneka ragam suku dan perbedaan. Maka dari itu NU sangatlah di butuhkan perannya untuk menjembatani perbedaan tersebut. Dan mampu memberikan solusi atas berbagai masalah yang telah di alami oleh masyarakat NU. Baik secara ekonomi maupun ke agamaan. Tentang masalah ini dapat di kaitkan beberapa hal; Pertama. NU merupakan representasi mayoritas umat Islam Indonesia. Kedua; Ajaran-ajaram Islam yang di anut NU menjamin terlaksananya kemurnian Islam tetapi tetap dinamis dan mampu berinteraksi secara positif dan damai dengan berbagai ajaran agama maupun aliran pemikiran yang berkembang dimasyarakar. Ketiga; Penegasan pembelaan atas NKRI adalah sebuah bentuk pembelaan tanah air sebagai sebuah kewajiban.

Dengan begitu dapat di simpulkan NU adalah sebuah panutan oleh masyarakat Indonesia tentang beragama dan bernegara secara utuh. Tidak hanya itu saja. NU merupakan sebuah rujukan yang dapat di yakini oleh masyarkat atas segala masalah yang sedang melanda; baik secara ekomoni, pemikiran bahkan hingga politik dan keyakinan. Sehingga masyarakat NU di beri kebebasan untuk menentukan pilihannya. Akan tetapi kebebasan tersebut tentunya harus mempunyai pijakan-pijakan yang dapat di yakini.

Sebab, kebebasan adalah sesuatu yang lumrah, sudah dilakoni bangsa kita sejak berabad-abad, bahkan sebelum mengenal peradaban Eropa. Ia merupakan bagian dari hakikat kemanusiaan penduduk Nusantara, yang mereka perjuangankan untuk mencapai martabat yang luhur. Terutama dalam menghadapi kekuasaan yang zalim. Hal itu pula yang di lakoni rakyat kita menganut agama NU.

            Sebagaimana yang dilakukan Hadlratussyekh KH Hasyim Asy’ari adalah strategis kalau paham keagamaan NU mengacu pada Islam Ahlussunnah Waljama’ah (Aswaja). Dan as-sawadu-l-a’zham adalah imajinasi mereka tentang kebangsaan dan populisme. Ajaran bermazhab mendorong kalangan Nahdliyin bisa menerima dinamika pembaruan keagamaan yang selalu kontekstual. Seperti pilihan-pilihan yang ditawarkan oleh Imam-al-Ghazali ke dalam tradisi Aswaja. Misalnya menawarkan manthiq ke dalam ilmu kalam dan ushul fiqh, menawarkan pendekatan moralitas atau akhlagi ke dalam fiqh, serta pendekatan dzawqi (intuisi) atau irfani ke dalam tasawuf. Sehingga di sini Aswaja menempatkan NU pada sebuah kekuatan populis, dari akar tradisinya, seperti tasawuf.

            Agama NU adalah agama rakyat, agama rovolusi bagi orang-orang desa untuk membangun solidaritas pada segenap penduduk Indonesia sebagai kekuatan bernegara untuk menghadapai musuh-musuh yang mempunyai niat untuk merusak keutuhan bernegara Indonesia. Melalui agama NU masyarakat kita bergotong royong menjaga agama yang di wariskan oleh Wali Songo dan perjuangan merebut kemerdekaan yang telah di lakukan oleh KH Hasyim Asy’ari dan kiai-kiai lainnya.

            Nahdlatul Ulama mempunyai cita-cita bersama warganya yang terlihat dalam Mukadimah Anggaran Dasar NU. Di sana tersurat beberapa poin mengapa NU didirikan dan merupakan cita-cita bersama para warganya. Pertama, kehadiran NU adalah dalam rangka menjunjung tinggi semangat Islam rahmatan lil alamin. Semangat ajaran Islam yang mengayomi semua umat. Kedua; semangat Islam rahmatan lil alamin itu termanesfestasi dalam rumusan Islam Ahlussunnah Waljama’ah (Aswaja). NU merupakan pelembagaan dari perjuangan ulama I Ahlussunnah Waljama’ah di Indonesia dalam melakukan dakwah Islam dan melaksanakan amar makruf nahi mungkar. Ketiga; meningkatkan kemaslahatan umat dan kesejahteraan warganya sebagai bagian mutlak meningkatkan kesejahteraan warga NU. Keempat; mewujudkan dan mempertahankan NKRI sebagai bagian dari bangsa, NU terlibat dalam meperjuangkan kemerdekaan sekaligus mengisinya adalah salah satu tekad terbentuknya NU. Kelima, mengembangkan ukhuwah Islamiyah (persaudaraan di kalangan umat Islam) ukhuwah wathaniyyah (persaudaraan berbangsa) ukhuwah insaniyyah (persaudaraan atas nama kemanusiaan).

            Apabila prinsip-prinsip tersebut di jadikan sebuah pegangan maka pada masa mendatang NU dapat di jadikan sebuah rujukan dan sebagai tempat pertimbangan atas berbagai masalah yang tengah di hadapi oleh Negara dan masyarakat secara umum ataupun khusus.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PCNU - PATI Photo by Pexels

    Salam Via Hand Phone

    • calendar_month Rab, 29 Jun 2022
    • account_circle admin
    • visibility 120
    • 0Komentar

    HP adalah barang elektronik yang sangat praktis. Dengan menggunakan HP orang dapat berhubungan dengan siapa saja,kapan saja dan dimana saja. Pertanyaan: Bagaimana hukumnya salam kepada orang yang bukan mahrom baik itu Via SMS/call? Jawaban : Hukumnya sebagaimana asalnya Catatan : bagi perempuan hukumnya haram memulai salam kepada laki-laki lain dan mejawab salam nya. bagi laki-laki […]

  • 9 Wasiat Dari Mbah Liem

    9 Wasiat Dari Mbah Liem

    • calendar_month Sen, 16 Mar 2015
    • account_circle admin
    • visibility 156
    • 0Komentar

    Pelajaran-pelajaran KH Muslim Rifa’i Imampuro atau Mbah Liem (alm) yang disampaikan di sini saya kutip dari tulisan yang ada di kalender Yayasan Pondok Pesantren Al muttaqien Pancasila Sakti yang menurut saya sangat-sangat penting dan saya anggap sebuah pelajaran penting dari Mbah Liem. Saya berharap dan berdo’a semoga saya dan saudara semua pun bisa meneladani pelajaran-pelajaran […]

  • Muskerwil-VI BEM PTNU Jateng-DIY Dibuka Hari Ini

    Muskerwil-VI BEM PTNU Jateng-DIY Dibuka Hari Ini

    • calendar_month Jum, 2 Agu 2019
    • account_circle admin
    • visibility 140
    • 0Komentar

    PURWOREJO-Pagi tadi, Jumat (2/8) Badan Ekskutif Mahasiswa (BEM) Perguruan Tinggi NU se-Jawa Tengah dan DIY menggelar Musyawarah Kerja Wilayah-VI (Muslerwil). Kegiatan yang remcananya berlangsung hingga Minggu (4/8) ini menghadirkan tokoh-tokoh nasional. Sebut saja KH. Ahmad Chalwani (Wakil Rois Syuriyah PW-NU Jawa tengah), Taj Yasin (Wakil Gubernur Jawa Tengah), Abdul Kadir Karding (Anggota DPR RI), Dr. […]

  • Menguak Misteri Dunia Dengan Al-Quran

    Menguak Misteri Dunia Dengan Al-Quran

    • calendar_month Ming, 18 Jul 2021
    • account_circle admin
    • visibility 193
    • 0Komentar

      Kendati manusia sudah sangat lama menghuni bumi, tetapi masih banyak misteri di dunia ini yang belum terkuak. Sebut saja beberapa misteri seperti; adakah Alien? Peri, fakta atau mitos? Berbagai misteri fenomena alam yang menakjubkan, dan sebagainya. Buku ini mencoba memaparkan 50 misteri dunia menurut Al-Quran.             Buku ini secara garis besar terdiri atas tiga […]

  • Dapat Penghargaan Bidang Pendidikan, Sekretaris PCNU Pati Optimis Tingkatkan Kualitas

    Dapat Penghargaan Bidang Pendidikan, Sekretaris PCNU Pati Optimis Tingkatkan Kualitas

    • calendar_month Ming, 29 Okt 2023
    • account_circle admin
    • visibility 110
    • 0Komentar

    pcnupati.or.id – Musyawarah Kerja Wilayah (Muskerwil) III PWNU Jateng, Ahad (29/10) berbuah manis bagi PCNU Pati. Pasalnya, dalam acara yang dihelat di Ponpes Al Musyafa, Kendal tersebut, Pengurus Cabang NU Kabupaten Pati mendapat penghargaan di level provinsi. “Penghargaan yang kami dapatkan adalah pemilik lembaga pendidikan NU berbadan hukum terbanyak,” ungkap H. Maskan, Sekretaris PCNU Pati […]

  • Peringati Maulid Nabi, PR IPNU Blingjati Gelar Safari Maulid

    Peringati Maulid Nabi, PR IPNU Blingjati Gelar Safari Maulid

    • calendar_month Jum, 15 Okt 2021
    • account_circle admin
    • visibility 106
    • 0Komentar

      WINONG – Pimpinan Ranting IPNU Blingjati menyelenggarakan acara Safari Maulid dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.  Acara digelar selama selama 11 hari mulai dari tanggal 7 – 18 Oktober yang bertepatan dengan 1-12 Rabi’ul Awwal 1443 H.  Lokasi acara berpindah – pindah, menggunakan sistem ganjil – genap. Pada malam ganjil lokasi acara di […]

expand_less