Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Imam Syafi’i Hafal Al-Quran di Usia 7

Imam Syafi’i Hafal Al-Quran di Usia 7

  • account_circle admin
  • calendar_month Sen, 22 Agu 2022
  • visibility 608
  • comment 0 komentar

Oleh : M. Iqbal Dawami

Rasulullah SAW bersabda, “Ahabbul a’mali illallahi adwamuha wa in qalla—Amal yang paling disukai Allah adalah yang paling rutin, meski hanya sedikit.” Hadis tersebut mengisyaratkan satu hal, yakni tentang kebiasaan (habits). Kebiasaan adalah hal yang penting dalam melakukan sesuatu sehingga menjadi konsisten. Namun, kebiasaan itu mempunyai posisi yang netral. Artinya, ia bisa menjadikan seseorang menjadi buruk, dan bisa juga menjadikannya baik. Tergantung kebiasaan apa yang dilakukannya. Jadi, hati-hatilah dengan yang namanya kebiasaan. Ia bisa membuat kamu mulia dan tinggi, tapi ia bisa pula membuat kamu hina dan rendah.

Kita semua barangkali pernah mendengar ungkapan “Keahlian adalah kebiasaan yang diulang-ulang”. Ya sesederhana itu orang yang ingin ahli dalam sesuatu, yakni tinggal melakukan sesuatu yang diulang-ulang, sehingga menjadi kebiasaan, dan kebiasaan itu diulang-ulang pula. Tapi rupanya untuk melakukan kebiasaan itulah yang sulit. Tidak semua orang mudah membangun kebiasaan, terlebih kebiasaan baik atau pun aktivitas yang ingin dikuasainya.

 Orang yang ingin bisa main gitar dia akan memulainya belajar bergitar. Dari kunci ke kunci dia pelajari. Dari lagu ke lagu dia bawakan. Tapi, banyak orang sudah bergelimpangan KO tatkala baru belajar kunci C dan D saja. Karena dia merasakan sulitnya minta ampun. Katakanlah 3 hari pertama mereka akan menyerah. Motivasinya mulai kendur. Akhirnya, tidak lagi belajar gitar. Dan mereka menyimpulkan sendiri bahwa mereka tidak punya bakat main gitar. Alamak.

Begitu juga pada saat kita belajar bahasa asing, entah itu Bahasa Inggris maupun Bahasa Arab. Banyak orang mempunyai keinginan besar untuk bisa bahasa inggris dan bahasa arab. Mereka pun belajar dari waktu ke waktu. Tapi, pada saat kesulitan dan kebosanan melanda, mereka pun goyah, dan akhirnya berhenti belajar. Padahal mereka hanya butuh melakukannya secara kontinu saja, sehingga menjadi kebiasaan. Kalau sudah begitu, tinggal waktu saja yang akan membuat mereka bisa bercas-cis-cus bahasa inggris maupun bahasa arab.  

Kedua contoh di atas adalah perihal bahwa kebiasaan ternyata sulit untuk dilakukan. Jadi, bukan main gitarnya yang sulit, bukan bahasa inggris dan arabnya yang sulit, tetapi membangun kebiasaan itulah yang sulit. Yang diperlukan mereka adalah mengulangnya terus menerus (baca: kebiasaan) sehingga menjadi mahir. Ya, pengulangan itu akan membuat mereka lambat laun akan menjadikannya mahir.

 Rumus kebiasaan adalah dua hal, yaitu tindakan/praktik (practice) dan pengulangan (repetition). Ada yang mengibaratkan dua hal itu ibarat sepasang suami istri. Dan hasil kebiasaan itu adalah anaknya. Kebiasaan tidak akan ada apabila tidak ada tindakan. Apalagi pengulangan. Lha, apa yang hendak diulang kalau tindakan saja tidak ada? Betul atau betul? Dengan kata lain, jika hendak membuat sebuah kebiasaan, maka kita butuh bertindak dan mengulang-ulang tindakan tersebut. Lantas, seberapa lama kebiasaan itu akan muncul? 

Belajar Pada Ramadhan

Tidak ada patokan yang ajeg perihal durasi sebuah tindakan dikatakan menjadi kebiasaan. Masing-masing orang bisa berbeda, tergantung kekuatan dirinya masing-masing. Tapi, meskipun begitu, kita bisa membuat standarnya. Standarnya bisa kita ambil dari puasa Ramadhan. Dalam Ramadhan kita diwajibkan untuk berpuasa selama satu bulan penuh. Kita tidak boleh makan dan minum, berhubungan seksual, dan melakukan hal-hal buruk seperti menggunjing, berkata-kata kotor, dll. Kita juga dianjurkan untuk shalat tarawih pada malam hari, dan makan sahur.

Kita sering merasakan susah payah pada saat minggu pertama melakukan puasa Ramadhan ini. Karena belum terbiasa. Biasanya sebelum melakukan aktivitas kita sarapan, minum kopi, dan siang harinya makan siang, tapi di bulan ini tidak kita lakukan. Sungguh menyiksa. Konsentrasi menjadi hilang. Perut berbunyi nyaring. Semangat memudar. Tapi, karena itu kewajiban maka mau tidak mau kita harus melakukannya. Dan ajaibnya seminggu yang menyiksa itu bisa kita lewati dengan selamat.

Pada minggu kedua, kita sudah mulai terbiasa dengan keadaan menyiksa itu. Yang tadinya dirasa sebuah siksaan, pada minggu kedua ini sudah bukan dianggap siksaan lagi. Biasa saja. Tidak ada gerutu-gerutu lagi. Semuanya dijalani dengan santai. Lapar dan haus mungkin masih tetap terasa, tapi itu bukan lagi keluhan. Kita sudah terbiasa dengan rasa lapar dan haus, sehingga semangat dan konsentrasi tetap terjaga. Dan hingga minggu ke-4, alias 1 bln, kita sudah terbiasa dengan keadaan itu.

 Tapi, bulan Ramadhan itu baru permulaan dari sebuah kebiasaan, yang dilakukan dengan keterpaksaan, lantaran kewajiban. Justru penentuannya adalah pasca bulan Ramadhan. Ketika selesai puasa Ramadhan, apakah kita tetap bisa mengendalikan diri dari rasa lapar dan haus serta menjauhkan diri perbuatan buruk, dan bisa bangun dini hari untuk shalat malam (sebagai pengganti makan sahur)? Kalau bisa melakukan itu, saya ucapkan selamat. Berarti Anda sudah mempunyai kebiasaan baru yang baik.

Kebiasaan baik tidak mudah untuk dilakukan, karena itu Allah seringkali mewajibkannya terlebih dahulu. Lain halnya dengan kebiasaan buruk, mudah sekali untuk dilakukan, dan Allah mewanti-wanti untuk tidak boleh melakukannya karena bisa menjerumuskan dirinya sendiri dan pasti akan mengalami kerugian. Dan karena itu akan menjadi kebiasaan buruk, maka Allah membuat larangan. Lihat, di balik perintah dan larangan Allah itu, ternyata menyimpan pesan yang dahsyat. Allah hendak menyampaikan perihal kebiasaan: kebiasaan baik akan membuat kita baik dan kebiasaan buruk akan membuat kita buruk. 

Imam Syafi’i

 Siapa yang tidak kenal dengan Imam Syafi’i? Saya anggap pembaca sudah mengenalnya, jadi tidak perlu saya beritahu lagi siapa dirinya. Saya hanya ingin menceritakan kisah masa kecilnya. Dalam berbagai literatur disebutkan bahwa Imam Syafi’i hafal Al-Quran saat pada usia 7. Berarti sebelum usia itu Syafi’i kecil sudah terbiasa membaca Al-Quran dan berusaha menghafalnya. Nah, konon, salah satu faktornya adalah karena dia terbiasa mendengar ibunya membaca Al-Quran setiap hari, yang selalu mengkhatamkannya, 30 juz, dalam satu minggunya. Dimana saja dia bermain, terdengar ibunya membaca Al-Quran.

Ingin menjadi ahli dalam sesuatu? Lakukanlah setiap hari. []

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Personalitas dan Identitas Indonesia

    Personalitas dan Identitas Indonesia

    • calendar_month Sel, 17 Agu 2021
    • account_circle admin
    • visibility 594
    • 0Komentar

    Oleh : Maulana Luthfi Karim* Cinta tanah air adalah sunnatullah. Demikianlah mukaddimah singkat yang penulis sampaikan untuk membuka tulisan ini.  Dalam berbagai riwayat disebutkan bahwa nabi Muhammad SAW benar-benar cinta mati kepada Makkah dan Madinah. Bukti pertama, beliau pernah berbisik kepada sobat karibnya, Abu Bakar bahwa Makkah adalah tempat yang paling dicintainya seandainya para penduduk […]

  • Pasar. Photo by Falaq Lazuardi on Unsplash.

    Pasar

    • calendar_month Rab, 31 Jan 2024
    • account_circle admin
    • visibility 567
    • 0Komentar

    Oleh : Niam At Majha Saya kembali lagi menulis parodi setelah sekian kali berhenti. Kalau di hitung satu bulan lebih saya tak menulis parodi yang menggelitik dan unik. Pada kesempatan kali ini saya akan menguraikan perihal pasar. Setelah kemarin teman saya bercerita tentang kondisi pasar, yang mana setiap orang berada di dalamnya mempunyai kepentingan berbeda-beda. […]

  • PAC Ansor Cluwak Dilantik, Ketua Harapkan Kemajuan

    PAC Ansor Cluwak Dilantik, Ketua Harapkan Kemajuan

    • calendar_month Kam, 10 Feb 2022
    • account_circle admin
    • visibility 384
    • 0Komentar

    Ketua PC GP Ansor Pati, Itqonul Hakim (pegang map) melantik para pengurus PAC GP Ansor Kecamatan Cluwak CLUWAK – Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Cluwak menyelenggarakan pelantikan pada Kamis (10/2) siang tadi.  Beberapa tokoh lokal, seperti Pengurus MWC NU, Muslimat NU, Fatayat NU dan petinggi banom lainnya tampak hadir dalam agenda dua […]

  • Semarak Hari Santri, RMI PCNU Pati Gelar MHQ dan MQK

    Semarak Hari Santri, RMI PCNU Pati Gelar MHQ dan MQK

    • calendar_month Ming, 19 Okt 2025
    • account_circle admin
    • visibility 521
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.id – Dalam rangka memperingati Hari Santri 2025, Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) NU Kabupaten Pati menyelenggarakan Musabaqoh Hifdzil Qur’an (MHQ) dan Musabaqoh Qiraatul Kutub (MQK). Kegiatan berlangsung di Kampus Institut Pesantren Mathali’ul Falah (IPMAFA), pada Ahad (19/10/2025). Legiatan tersebut dibuka langsung oleh Ketua Tanfidziyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah, KH Abdul Ghoffar […]

  • Masjid Besar Gembong Santuni 110 Yatim-Dhuafa

    Masjid Besar Gembong Santuni 110 Yatim-Dhuafa

    • calendar_month Jum, 29 Apr 2022
    • account_circle admin
    • visibility 414
    • 0Komentar

    GEMBONG – Pengurus Takmir Masjid Besar Baitul Muttaqin Gembong baru saja menyelenggarakan peringatan nuzulul qur’an, Kamis (23/4) malam tadi. Bukan hanya itu, panitia kegiatan yang digawangi oleh K. Sholikhin menegaskan dalam acara tersebut juga dilaksanakan santunan yatama, janda, lansia dan dhuafa. Berdasarkan laporan panitia, sedikitnya ada 9 yatim dan 101 lansia, janda dan dhuafa yang […]

  • Kejar Kualitas, LP Ma’arif NU Jawa Tengah Gelar Diklat Penguatan Kompetensi Kepala Madrasah Angkatan 2

    Kejar Kualitas, LP Ma’arif NU Jawa Tengah Gelar Diklat Penguatan Kompetensi Kepala Madrasah Angkatan 2

    • calendar_month Jum, 25 Jul 2025
    • account_circle admin
    • visibility 487
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.id. Semarang – Ketua Lembaga Pendidikan Ma’arif NU PBNU yang juga menjabat Kepala Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kementerian Agama RI, Prof. Dr. H. Muhammad Ali Ramdhani, S.TP., M.T., menyampaikan pentingnya peran kepala madrasah sebagai pemimpin yang cepat dan tanggap dalam berbagai hal. “Kepala madrasah menjadi lokomotif pergerakan yang cepat. Dalam […]

expand_less