Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Berita » Ketua PWNU Jateng: Hari Santri Momentum Bersama Santri, Pesantren, dan Bangsa untuk Terus Maju

Ketua PWNU Jateng: Hari Santri Momentum Bersama Santri, Pesantren, dan Bangsa untuk Terus Maju

  • account_circle admin
  • calendar_month Rab, 22 Okt 2025
  • visibility 3.553
  • comment 0 komentar

 

Pcnupati.or.id Semarang — Ketua Tanfidziyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah KH Abdul Ghaffar Rozin menegaskan bahwa Hari Santri bukan sekadar peringatan seremonial, tetapi harus menjadi momentum refleksi dan kemajuan bagi pesantren, santri, dan seluruh umat Islam Indonesia.

Dalam arahannya di Gedung PWNU Jawa Tengah, Jalan dr Cipto No 180 Semarang, Gus Rozin—sapaan akrabnya—mengajak seluruh elemen bangsa untuk memahami kembali sejarah penting yang kerap dilupakan dalam perjalanan kemerdekaan Indonesia, yakni peran santri dan pesantren melalui Resolusi Jihad yang dideklarasikan pada 22 Oktober 1945 oleh Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari.

“Sejarah pernah melupakan peran besar santri dan pesantren dalam perjuangan bangsa ini. Padahal, tanpa Resolusi Jihad yang lahir pada 22 Oktober, tidak akan ada peristiwa 10 November yang selama ini diagungkan sebagai Hari Pahlawan,” ujarnya.

Gus Rozin menilai bahwa banyak bagian dari sejarah perjuangan bangsa yang secara perlahan terhapus dari ingatan publik dan bahkan dari buku-buku pelajaran di sekolah.

“Kita seperti mengalami masa di mana narasi besar perjuangan santri dan kiai tidak mendapat tempat yang semestinya. Padahal, kalau kita lihat lebih dalam, pertempuran 10 November di Surabaya tidak akan terjadi tanpa seruan jihad yang digelorakan oleh para ulama,” tegasnya.

Ia menjelaskan bahwa Resolusi Jihad yang disampaikan kepada Presiden Soekarno saat itu tidak muncul begitu saja. Ada proses panjang dan koordinasi yang melibatkan banyak kiai dan pesantren dari berbagai daerah. Setelah fatwa jihad itu keluar, para santri dan masyarakat bergerak dari seluruh penjuru Jawa, mengumpulkan senjata sederhana, bahkan menyiapkan bambu runcing yang didoakan secara khusus di berbagai tempat seperti Parakan Temanggung dan Sumolangu Kebumen.

“Bayangkan, antara 22 Oktober hingga 10 November ada rentang waktu yang digunakan untuk menghimpun kekuatan. Dari Buntet, Sumolangu, hingga Surabaya, mereka berjalan kaki atau naik kendaraan seadanya. Semuanya dilakukan demi memenuhi seruan jihad yang hukumnya fardhu ‘ain,” tutur pengasuh pesantren Maslakul Huda, Kajen Pati ini.

Menurutnya, perjuangan itu menunjukkan betapa besar peran santri dan pesantren dalam mempertahankan kemerdekaan.

“Kalau tidak ada Resolusi Jihad, belum tentu ada pertempuran 10 November. Dan kalau tidak ada 10 November, belum tentu kemerdekaan kita bisa bertahan. Maka, peran NU, pesantren, dan santri sangat sentral dalam sejarah bangsa,” ujarnya.

Lebih lanjut, Gus Rozin menekankan bahwa Hari Santri tidak boleh dimaknai secara eksklusif sebagai milik Nahdlatul Ulama semata.

“Dalam penyusunan Resolusi Jihad, KH Mansyur yang mewakili Muhammadiyah juga turut menjadi bagian penting. Maka Hari Santri adalah milik seluruh umat Islam Indonesia, bukan hanya NU,” tegasnya.

Ia pun mengajak agar peringatan Hari Santri dijadikan sarana memperkuat kolaborasi antarormas Islam dan elemen masyarakat lain.

“Yang berjuang di Surabaya waktu itu bukan hanya santri, tapi juga masyarakat umum. Ini momentum yang harus kita rayakan bersama sebagai simbol persatuan,” tambahnya.

Selain menyoroti nilai sejarah, Gus Rozin juga mengingatkan pentingnya menjadikan Hari Santri sebagai pendorong kemajuan konkret di lingkungan pesantren.

“Kita jangan berhenti hanya pada upacara atau kirab. Hari Santri harus menjadi ukuran kemajuan kita. Misalnya, tahun ini pesantren punya satu asrama, tahun depan dua. Atau santri yang TOEFL-nya 400, tahun depan naik jadi 500. Artinya, setiap Hari Santri harus ada capaian nyata yang kita rayakan,” paparnya.

Menurutnya, peringatan Hari Santri ke-10 tahun ini adalah waktu yang tepat untuk merefleksikan capaian pesantren sekaligus menyusun target ke depan.

“Jangan hanya merayakan keberhasilan para pendahulu, tetapi juga menyiapkan masa depan yang lebih baik. Kita mensyukuri perjuangan para kiai, tapi juga harus sadar terhadap tugas yang belum selesai,” pesan Gus Rozin.

Ia menambahkan, kesadaran sejarah dan semangat kemajuan itu perlu terus ditanamkan di seluruh pesantren, madrasah, dan lembaga pendidikan Islam.

“Selain 17 Agustus, sekarang kita punya momentum penting lain yaitu 22 Oktober. Di setiap pesantren, madrasah, dan kantor NU, mari rayakan Hari Santri dengan semangat kebersamaan, karena ini adalah milik kita semua, milik bangsa Indonesia,” pungkasnya.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • MTs Banin Bakal Gelar Olimpiade, Pesertanya dari seluruh Indonesia

    MTs Banin Bakal Gelar Olimpiade, Pesertanya dari seluruh Indonesia

    • calendar_month Sab, 8 Feb 2025
    • account_circle admin
    • visibility 902
    • 0Komentar

      pcnupati.or.id – Ajang Final Banin Olympiad of Science SD/MI Tingkat Nasional akan segera digelar secara offline Ahad (9/2) di MTs Tarbiyatul Banin Madrasah Tahfidz & Sains Boarding School, Jl. KH Hasyim Asy’ari KM 01, Desa Pekalongan, Kecamatan Winong, Kabupaten Pati. Sebelumnya, MTs Banin telah menggelar babak penyisihan secara Daring pada Kamis (6/2) lalu. Sedikitnya, […]

  • Reformulasi Aswaja Sebagai Manhajul-fikr & Manhajul-amal

    Reformulasi Aswaja Sebagai Manhajul-fikr & Manhajul-amal

    • calendar_month Rab, 14 Mei 2014
    • account_circle admin
    • visibility 620
    • 0Komentar

    Oleh : DR. Abdul Karim, M.Pd A. Tuntutan Dunia Baru Kehidupan yang terus mengalami perubahan pada semua aspek baik sosial, budaya, ekonomi, dan politik menuntut pembaruan pemahaman aswaja yang menjadi pedoman dalam menjalankan syariat dan pembinaan umat. Bukan menggeser isi dan substansi namun menyelaraskan metode kajian (manhaj) agar hasil pemaknaan teks yang sudah ada menjadi […]

  • Jamaah dan Jam’iyyah Harus Sinergi

    Jamaah dan Jam’iyyah Harus Sinergi

    • calendar_month Sen, 8 Jul 2019
    • account_circle admin
    • visibility 600
    • 0Komentar

    Pati, Jajaran Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Pati memaparkan secara garis besar tentang program program selama lima tahun mendatang pada Ahad (7/7/2019) dalam musyawarah kerja cabang. Ketua PCNU Pati Yusuf Hasyim mengemukakan bahwa jamaah dan jam’iyyah dalam NU harus bersinergi.”Kenapa Jamaah jamaah kita diajak bergerak kok susah, ketika kita bertanya kepada jamaah, lha pengurus […]

  • Libatkan Peran Orangtua, MI Walisongo Kalangan Adakan Kegiatan Kunjungan Rumah

    Libatkan Peran Orangtua, MI Walisongo Kalangan Adakan Kegiatan Kunjungan Rumah

    • calendar_month Sel, 18 Feb 2025
    • account_circle admin
    • visibility 547
    • 0Komentar

    Pcnupati.or.id- Sukoharjo – Pendidikan dasar bagi anak merupakan salah satu pondasi penting yang dapat mempengaruhi perkembangan anak di masa depan. Termasuk Madrasah Ibtidaiyah (MI) yang merupakan lembaga pendidikan dasar berbasis agama Islam, yang tidak hanya mengajarkan pengetahuan umum, akan tetapi juga mengajarkan pendidikan agama sebagai bekal siswa di masa depan.   Dalam merumuskan program kegiatan […]

  • Lagi Hangat, Pelajar NU Kolaborasi dengan Seniman Teater Atap

    Lagi Hangat, Pelajar NU Kolaborasi dengan Seniman Teater Atap

    • calendar_month Sel, 7 Des 2021
    • account_circle admin
    • visibility 622
    • 0Komentar

    Pertemuan perdana OSB PC IPNU/IPPNU Kabupaten Pati dengan Teater Atap, Minggu (5/12) lalu PATI – Teater Atap lakukan pertemuan pertama dengan talent Pelajar NU Pati beserta departemen Olahraga Seni dan Budaya (OSB) PC IPNU IPPNU Pati pada Minggu (5/12). Pertemuan tersebut dimaksudkan untuk menciptakan seniman-seniman di masa depan.  Terdapat pula beberapa bahasan serta poin yang […]

  • PCNU-PATI Photo by Anita Austvika

    Puisi Puisi Eska Mariska

    • calendar_month Ming, 13 Nov 2022
    • account_circle admin
    • visibility 459
    • 0Komentar

    Delapan Oktober Perilakumu manis sayang diikuti tutur kata yang keluar dari mulutmu seakan meyakinkanku yang putus asa akan cinta senyumanmu mengikat, menghipnotisku untuk terus menatap tidak ada sejengkalpun yang terlewat kamu memanjakanku malam itu mengutuk semua orang yang menganggu aku berusaha tenang,  lisanku berusaha diam tidak ada balasan dariku untukmu hanya tawa dan anggukan kepala […]

expand_less