Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Berita » Menjaga Kelestarian Budaya Bangsa

Menjaga Kelestarian Budaya Bangsa

  • account_circle admin
  • calendar_month Sab, 17 Jan 2015
  • visibility 547
  • comment 0 komentar
Kabar NU Pati. Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia (LAKPESDAM) PCNU Kab Pati kembali mengadakan acara Workshop Ketahanan Budaya bekerja sama dengan Lembaga Kajian Ekonomi dan Sosial Masyarakat (LENNSA) Provinsi Jawa Tengah pada tanggal 21 Desember 2014 dengan mengangkat tema “Menjaga dan Melestarikan Seni dan Budaya sebagai Identitas Bangsa dan Negara”. Acara ini dihadiri oleh berbagai lembaga, mulai dari pondok pesantren, Madrasah, Mahasiswa, IPNU dan IPPNU, PMII sampai masyarakat umum.
Menurut ketua LAKPESDAM PCNU Pati R. Andi Irawan, acara ini diselenggarakan berangkat dari realitas masyarakat Indonesia, terutama generasi muda yang mulai abai dan tak perduli dengan kebudayaannya sendiri. Padahal jika ditelusuri dan dikaji secara mendalam kebudayaan yang diwariskan oleh para pendahulu memiliki nilai adiluhung dan kearifan lokal yang luar biasa, dan mecerminkan identitas kepribadian suatu bangsa. Memang perlu diakui, saat ini masyarakat Indonesia dihadapkan oleh globalisasi dan westernisasi.
Budaya luar tanpa terasa semakin menghegemoni dan menggantikan kebudayaan lokal. Maka disinilah peran kita bersama dalam mempertahankan dan melestarikan seni-budaya yang telah kita miliki melalui dua cara, yaitu experience culture (dengan mempelajari seni-budaya secara langsung) dan knowledge culture (melalui seminar, loka karya, simposium, dll). Dan acara ini adalah upaya kecil kita untuk ikut berpartisipasi dalam mempertahankan dan melestarikan seni-budaya melalui knowledge cultur.
Dalam acara tersebut, hadir dua nara sumber dari Kab Pati, yaitu Anis Sholeh Ba’asyin seorang budayawan dan Presiden Sampak Gusuran dan Ali Romdhoni, MA seorang dosen dan peneliti. Ali Romdloni menyampaikan, bahwa Negara Indonesia merupakan Negara yang kaya akan seni-budaya. Menurutnya, cakupan kebudayaan adalah tata nilai yang berlaku di dalam kehidupan komunitas masyarakat (hukum normatif, undang-undang, bahasa, dan teknologi).
Dalam konteks Indonesia warisan kebudayaan dan kesinian jumlahnya sangat banyak. Dalam teknologi berkelas dunia, misalnya candi Borobudur dan candi Prambanan. Dalam prestasi dunia marintim, misalnya Dewaruci, Jejak Kejayaan, Perikanan, dan samundra raya. Dalam konteks arsitektur,  misalnya kolam pemandian, soko guru rumah, desain masjid, pintu ukir Pati. Dalam konteks seni musil, misalnya gamelan, sasando, angklung, dan kulintang. Dalam konteks seni tarian, misalnya tari bedoyo, tari saman Aceh dll.
Dan dalam konteks estetika, misalnya pusaka keris, pancak silat, ukiran kaligrafi, dan batik Lasem motif batu pecah. Semuanya itu hanya sebagian seni-budaya yang kita miliki, yang memiliki nilai-nilai filosofis dan kearifan local serta menjadi identitas kita yang harus dijaga dan dilestarikan dengan mengkaji, mempelajari dan mengembangkannya sesuai tuntutan zaman.
Berbeda dengan Ali Romdhoni, Anis Sholeh Ba’asyin lebih mengkritisi perihal pemahaman masyarakat terhadap makna kebudayaan. Menurutnya, kebudayaan sejatinya tidak pernah jadi, ia selalu dalam proses menjadi. Sebab kebudayaan selalu dalam situasi tarik menarik dan tawar menawar serta mengalami benturan dengan berbagai nilai, aspirasi, harapan, persepsi, kepentingan, dan regulasi dari penguasan. Menyikapi kedudayaan sebagai suatu yang jadi berarti mencabut ruh kebudayaan itu sendiri.
Ironisnya, banyak masyarakat memahami kebudayaan sebagai sesuatu yang sudah selesai (taken for granted). Sehingga kebudayaan tersebut tidak mengalami perkembangan, padahal fitrah kebudayaan itu selalu bergerak. Oleh karena itu, ia mengajak kita untuk selalu kritis terhadap warisan kebudayaan para pendahulu, jangan hanya menerima apa adanya tanpa dikritisi, dikembangkan dan diinovasi.

Untuk dapat merealisasikan hal tersebut maka menurutnya perlu strategi kebudayaan yang jelas. Strategi kebudayaan yang dengan jelas memetakan masalah kebudayaan secara menyeluruh, kemudian mengidentifikasi batas wilayah konservasi dan progressi. Wilayah konservasi akan membantu kita merevitalisasi nilai-nilai yang relevan untuk terus dikembangkan. Sementara wilayah progressi akan membantu kita menjelajah ruang-ruang kemungkinan kreatif yang selama ini mungkin tak terpikirkan. Dalam konteks ini, fungsi seni dan kreatifitas menjadi penting dalam kebudayaan.(Rai)
  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Mempertahankan Tradisi Nilai. Photo by Aditya Nara on Unsplash.

    Mempertahankan Tradisi Nilai

    • calendar_month Kam, 20 Jul 2023
    • account_circle admin
    • visibility 502
    • 0Komentar

    Oleh: Maulana Karim Sholikhin Ngumbah keris atau gaman (mencuci benda pusaka) menjadi tradisi malam 1 Muharrom di Pulau Jawa. Ritual ini digunakan sebagai ajang untuk menyambung ‘silaturrahim’ antara pemilik keris dan benda keramatnya setidaknya setahun sekali. Hanya saja, kultur yang telah melegenda ini, terancam punah akibat pengkultusan terhadap benda-benda semacam itu sudah mulai langka. Benda […]

  • MENGHIDUPKAN KEMBALI SPIRIT TRILOGI GERAKAN EMBRIO NU

    MENGHIDUPKAN KEMBALI SPIRIT TRILOGI GERAKAN EMBRIO NU

    • calendar_month Sen, 12 Okt 2015
    • account_circle admin
    • visibility 545
    • 0Komentar

                         Nahdlatul Ulama (NU) adalah organisasi sosial keagamaan terbesar di Indonesia. Dalam kaitan ini, NU memiliki dua tanggung jawab, yaitu tanggung jawab keagamaan, untuk melestarikan dan membumisasikan Islam paham Aswaja, dan tanggung jawab sosial, untuk melakukan pemberdayaan masyarakat. Dua tanggung jawab tersebut terejawantahkan dalam ranah pendidikan, ekonomi, kesehatan dan budaya, yang menjadi fokus gerakan dan […]

  • Misteri Sumur Tua

    Misteri Sumur Tua

    • calendar_month Ming, 1 Agu 2021
    • account_circle admin
    • visibility 475
    • 0Komentar

      Sumur  adalah cerita pendek karya Eka Kurniawan yang mendapatkan nomine Man Booker International Priza pada tahun 2016 dan peraih Prince claus laureate pada tahun 2018. Cerita pendek ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris di antologi Tales of Two Planetsdengan judul “The Well”, diterbitkan oleh Penguin Books pada tahun 2020. Buku ini menceritakan tentang […]

  • Sholat Jama’ah, sekaligus I’tikaf

    Sholat Jama’ah, sekaligus I’tikaf

    • calendar_month Jum, 27 Okt 2017
    • account_circle admin
    • visibility 672
    • 0Komentar

    Assalamualaikum Wr Wb. Pak ustadz saya mau tanya, bolehkah setiap menunaikan sholat jama’ah, saya sambil sekalian niat i’tikaf dimasjid tersebut? apakah ketika saya keluar (pulang) dari masjid seketika itu i’tikaf saya langsung dihukumi batal? Mohon jawabannya. Terima kasih Wa’alaikum salam Wr Wb. Hukum I’tikaf adalah sunah muakkad jika kita tidak bernadzar untuk melakukannya, dan disayogyakan […]

  • Muharroman di Suwaduk, Tokoh Masyarakat Ingatkan Bahaya Gadget Bagi Anak

    Muharroman di Suwaduk, Tokoh Masyarakat Ingatkan Bahaya Gadget Bagi Anak

    • calendar_month Sen, 9 Sep 2019
    • account_circle admin
    • visibility 438
    • 0Komentar

    WEDARIJAKSA-Tahun baru hijriyah memang masih hangat. Setidaknya hingga akhir Muharrom nanti diperkirakan masih banyak daerah-daerah yang akan memperingati tahun baru islam ini. Minggu (8/9) Malam, ratusan warga memadati Musholla Baiturrohin, Suwaduk, Wedarijaksa. Kedatangan mereka adalah untuk mengikuti acara peringatan tahun baru hijriyah yang diselenggarakan oleh pengurus musholla. Para yatama saat pengikuti pengajian dlam rangka peringatan […]

  • Sunarni, pedagang bakso asal Bumirejo Pati, saat mempraktikkan cara membuat bakso dalam pelatihan yang diinisiasi PR Fatayat NU Bumirejo, Ahad (17/5/2026) malam. (Foto: Istimewa)

    Gelar Pelatihan Bikin Bakso, Fatayat NU Bumirejo Dorong Lahirnya UMKM untuk Koperasi Merah Putih

    • calendar_month Sel, 19 Mei 2026
    • account_circle Musthofa Asrori
    • visibility 14.322
    • 0Komentar

      Pati, NU Online Pimpinan Ranting Fatayat Nahdlatul Ulama Bumirejo, Margorejo, Pati, Jawa Tengah, menginisiasi pelatihan pembuatan bakso bagi anggota Fatayat setempat sebagai upaya meningkatkan kreativitas sekaligus mendorong lahirnya pelaku UMKM baru di desa tersebut. Kegiatan yang diikuti sekitar 30 peserta itu digelar pada Ahad (17/5/2026) malam. Ketua PR Fatayat NU Bumirejo, Fitriya Dwi Noor […]

expand_less