Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Berita » Menjaga Kelestarian Budaya Bangsa

Menjaga Kelestarian Budaya Bangsa

  • account_circle admin
  • calendar_month Sab, 17 Jan 2015
  • visibility 610
  • comment 0 komentar
Kabar NU Pati. Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia (LAKPESDAM) PCNU Kab Pati kembali mengadakan acara Workshop Ketahanan Budaya bekerja sama dengan Lembaga Kajian Ekonomi dan Sosial Masyarakat (LENNSA) Provinsi Jawa Tengah pada tanggal 21 Desember 2014 dengan mengangkat tema “Menjaga dan Melestarikan Seni dan Budaya sebagai Identitas Bangsa dan Negara”. Acara ini dihadiri oleh berbagai lembaga, mulai dari pondok pesantren, Madrasah, Mahasiswa, IPNU dan IPPNU, PMII sampai masyarakat umum.
Menurut ketua LAKPESDAM PCNU Pati R. Andi Irawan, acara ini diselenggarakan berangkat dari realitas masyarakat Indonesia, terutama generasi muda yang mulai abai dan tak perduli dengan kebudayaannya sendiri. Padahal jika ditelusuri dan dikaji secara mendalam kebudayaan yang diwariskan oleh para pendahulu memiliki nilai adiluhung dan kearifan lokal yang luar biasa, dan mecerminkan identitas kepribadian suatu bangsa. Memang perlu diakui, saat ini masyarakat Indonesia dihadapkan oleh globalisasi dan westernisasi.
Budaya luar tanpa terasa semakin menghegemoni dan menggantikan kebudayaan lokal. Maka disinilah peran kita bersama dalam mempertahankan dan melestarikan seni-budaya yang telah kita miliki melalui dua cara, yaitu experience culture (dengan mempelajari seni-budaya secara langsung) dan knowledge culture (melalui seminar, loka karya, simposium, dll). Dan acara ini adalah upaya kecil kita untuk ikut berpartisipasi dalam mempertahankan dan melestarikan seni-budaya melalui knowledge cultur.
Dalam acara tersebut, hadir dua nara sumber dari Kab Pati, yaitu Anis Sholeh Ba’asyin seorang budayawan dan Presiden Sampak Gusuran dan Ali Romdhoni, MA seorang dosen dan peneliti. Ali Romdloni menyampaikan, bahwa Negara Indonesia merupakan Negara yang kaya akan seni-budaya. Menurutnya, cakupan kebudayaan adalah tata nilai yang berlaku di dalam kehidupan komunitas masyarakat (hukum normatif, undang-undang, bahasa, dan teknologi).
Dalam konteks Indonesia warisan kebudayaan dan kesinian jumlahnya sangat banyak. Dalam teknologi berkelas dunia, misalnya candi Borobudur dan candi Prambanan. Dalam prestasi dunia marintim, misalnya Dewaruci, Jejak Kejayaan, Perikanan, dan samundra raya. Dalam konteks arsitektur,  misalnya kolam pemandian, soko guru rumah, desain masjid, pintu ukir Pati. Dalam konteks seni musil, misalnya gamelan, sasando, angklung, dan kulintang. Dalam konteks seni tarian, misalnya tari bedoyo, tari saman Aceh dll.
Dan dalam konteks estetika, misalnya pusaka keris, pancak silat, ukiran kaligrafi, dan batik Lasem motif batu pecah. Semuanya itu hanya sebagian seni-budaya yang kita miliki, yang memiliki nilai-nilai filosofis dan kearifan local serta menjadi identitas kita yang harus dijaga dan dilestarikan dengan mengkaji, mempelajari dan mengembangkannya sesuai tuntutan zaman.
Berbeda dengan Ali Romdhoni, Anis Sholeh Ba’asyin lebih mengkritisi perihal pemahaman masyarakat terhadap makna kebudayaan. Menurutnya, kebudayaan sejatinya tidak pernah jadi, ia selalu dalam proses menjadi. Sebab kebudayaan selalu dalam situasi tarik menarik dan tawar menawar serta mengalami benturan dengan berbagai nilai, aspirasi, harapan, persepsi, kepentingan, dan regulasi dari penguasan. Menyikapi kedudayaan sebagai suatu yang jadi berarti mencabut ruh kebudayaan itu sendiri.
Ironisnya, banyak masyarakat memahami kebudayaan sebagai sesuatu yang sudah selesai (taken for granted). Sehingga kebudayaan tersebut tidak mengalami perkembangan, padahal fitrah kebudayaan itu selalu bergerak. Oleh karena itu, ia mengajak kita untuk selalu kritis terhadap warisan kebudayaan para pendahulu, jangan hanya menerima apa adanya tanpa dikritisi, dikembangkan dan diinovasi.

Untuk dapat merealisasikan hal tersebut maka menurutnya perlu strategi kebudayaan yang jelas. Strategi kebudayaan yang dengan jelas memetakan masalah kebudayaan secara menyeluruh, kemudian mengidentifikasi batas wilayah konservasi dan progressi. Wilayah konservasi akan membantu kita merevitalisasi nilai-nilai yang relevan untuk terus dikembangkan. Sementara wilayah progressi akan membantu kita menjelajah ruang-ruang kemungkinan kreatif yang selama ini mungkin tak terpikirkan. Dalam konteks ini, fungsi seni dan kreatifitas menjadi penting dalam kebudayaan.(Rai)
  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Siswa MA Salafiyah Kajen Salurkan Donasi untuk Korban Semeru Via LAZISNU

    Siswa MA Salafiyah Kajen Salurkan Donasi untuk Korban Semeru Via LAZISNU

    • calendar_month Sab, 11 Des 2021
    • account_circle admin
    • visibility 591
    • 0Komentar

      PATI – Para siswa Madrasah Aliyah Salafiyah Kajen, Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati, yang tergabung dalam Keluarga Pelajar Salafiyah (KPS) dan Keluarga Pelajar Putri Salafiyah (KPPS) adakan penggalangan dana peduli Semeru, (11/12/2021). Kegiatan ini dilakukan sebagai bentuk kepedulian peserta didik terhadap korban erupsi Gunung Semeru dengan menyisihkan uang saku mereka. Hasil uang yang terkumpul akan […]

  • PCNU-PATI

    Fiqih Penanggulangan Sampah Plastik

    • calendar_month Sel, 13 Des 2022
    • account_circle admin
    • visibility 469
    • 0Komentar

    Buku ini adalah sebuah upaya untuk memberikan dukungan terhadap upaya penanggulangan bahaya sampah plastik dan upaya kelestarian lingkungan melalui sentuhan Islam, khususnya fiqih. Lingkungan merupakan karunia Allah Swt. dan menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan umat manusia. Lingkungan secara langsung menjadi hajat kebutuhan umat manusia dalam menjalani kehidupan dan mempertahankan eksistensinya. Karena itu, kehidupan umat […]

  • Hadapi Era VUCA, Rektor INISNU Temanggung Bekali Peserta Yudisium FTK Strategi 3C dan Pilihan Karier

    Hadapi Era VUCA, Rektor INISNU Temanggung Bekali Peserta Yudisium FTK Strategi 3C dan Pilihan Karier

    • calendar_month Sab, 27 Jun 2026
    • account_circle admin
    • visibility 16.194
    • 0Komentar

      TEMANGGUNG – Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung menggelar prosesi Yudisium dan Seminar Karier bagi para calon lulusannya. Acara strategis ini dihadiri langsung oleh Rektor INISNU Temanggung, Dr. Hamidulloh Ibda, M.Pd., yang memberikan arahan penting terkait tantangan dunia kerja modern. Hal itu disampaikan usai pembacaan Surat Keputusan oleh Dekan […]

  • Pendekar se-Kabupaten Serbu Juwana

    Pendekar se-Kabupaten Serbu Juwana

    • calendar_month Sab, 27 Jul 2019
    • account_circle admin
    • visibility 405
    • 0Komentar

    JUWANA-Para pendekar se-Kabupaten Pati berkumpul di Juana. Pasalnya, perhelatan pencak silat khas NU, Pagar Nusa Kembali di Gelar. Kali ini Pagar Nusa Pati menggelar kompetisi pencak silat tingkat Kabupaten di SMA 1 Juana. Kategori yang dipertandingkan pun sangat beragam, mulai dari seni hingga sambung dilombakan dalam gelanggang. Tak kurang, sebanyak 300 pendekar mengikuti perhelatan ini. […]

  • PCNU-PATI

    Mahasiswa Prodi PMI IPMAFA Distribusikan Air Bersih di Desa Trikoyo

    • calendar_month Sel, 24 Sep 2024
    • account_circle admin
    • visibility 513
    • 0Komentar

    Pcnupati.or.id- Segenap mahasiswa Jurusan Pengembangan Masyarakat Islam dari Kampus Institut Pesantren Mathali’ul Falah (IPMAFA) Pati melaksanakan kegiatan sosial berupa distribusi air bersih di Desa Trikoyo, Kecamatan Jaken, Kabupaten Pati. Ahad, (22/9/24). Kegiatan ini merupakan bagian dari pengabdian kepada masyarakat, sekaligus upaya untuk membantu warga desa yang sedang mengalami krisis air bersih akibat musim kemarau panjang. […]

  • white and blue paper on pink surface

    Kirim Doa Sebuah Emot Icon: Antara Simbol dan Makna

    • calendar_month Sab, 3 Mei 2025
    • account_circle admin
    • visibility 966
    • 0Komentar

      Perkembangan teknologi dalam era komunikasi digital yang serba cepat, pesan-pesan singkat, simbol, dan emoticon menjadi bagian tak terpisahkan dari cara manusia berinteraksi. Salah satu fenomena menarik yang berkembang belakangan ini adalah penggunaan ikon doa seperti contoh seringkali disertai tulisan “Al-Fatihah” atau emoji tangan berdoa — sebagai bentuk simpati dan empati di WhatsApp, terutama saat […]

expand_less