Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Berita » Gus Mus: Sejak Kapan Pemilihan Rais Aam Seperti Pilkada?

Gus Mus: Sejak Kapan Pemilihan Rais Aam Seperti Pilkada?

  • account_circle admin
  • calendar_month Jum, 16 Jan 2015
  • visibility 398
  • comment 0 komentar
Pati, NU Online
Almaghfurlah KH MA Sahal Mahfudh merupakan Rais Aam PBNU terakhir. Kedalaman ilmu dan keberpihakannya kepada masyarakat menjadi teladan bagi semua. Sulit rasanya mencari pengganti tokoh sekaliber Kiai Sahal untuk duduk di kursi Rais Aam.
Pejabat Rais Aam Syuriah PBNU KH A Mustofa Bisri (Gus Mus) menuturkan hal tersebut saat memberi taushiyah pada Haul ke-1 Mbah Sahal di Pesantren Maslakul Huda Kajen-Margoyoso-Pati, Jawa Tengah, Selasa (13/01/15) malam.
Gus Mus, sapaan akrabnya, menemukan sebuah tulisan di koran yang membandingkan dirinya dengan KH Hasyim Muzadi sebagai sesama calon Rais Aam. Gus Mus kaget dan heran atas artikel tersebut.
“Ini ada orang sok tahu. Gayanya paham NU, tapi ndak paham NU. Gayanya paham ulama NU, tapi ndak paham ulama NU. Dia nulis judulnya ‘Gus Mus dan Hasyim Muzadi.’ Dia membandingkannya sebagai sesama calon Rais Aam.  Lho, sejak kapan pemilihan Rais Aam itu seperti Pilkada? Dikiranya apa Rais Aam itu,” sindir Gus Mus yang disambut tawa lepas hadirin.
Bagi kiai budayawan ini, Rais Aam terkecil dan terakhir itu Kiai Sahal. “Sejak Munas NU di Lampung sebetulnya beliau sudah jadi Rais Aam ketika Kiai Ali Yafie mundur. Jadi, mestinya beliau jadi Rais Aam karena sebelumnya sebagai wakil Rais Aam. Nah, karena Kiai Sahal ndak kerso (mau) karena satu hal, akhirnya wakil-wakil di bawah beliau ndak ada yang mau,” ungkap Gus Mus.
Untungnya, lanjut Gus Mus, ada kiai yang sangat ikhlas, yakni KH Ilyas Ruchiyat dari Cipasung Jawa Barat. “Beliau lalu bicara pelan-pelan, ‘ini kalau ndak ada yang mau kan vakum ini. Organisasi sebesar ini ndak ada pejabat Rais Aam-nya. Beliau ucapkan itu dengan ikhlas. Kalau memang ndak ada yang mau, ya sudah saya juga ndak apa-apa,” tutur Gus Mus menirukan pernyataan Kiai Ilyas.
Menurut Gus Mus, kalau bicara calon Rais Aam ternyata yang dimunculkan dirinya dan Hasyim Muzadi itu tidak tepat. “(Penulisnya) ndak paham NU sama sekali. Di NU itu masih ada KH Muchit Muzadi, santrinya Hadratusy Syaikh. Lalu, ada Kiai Tolchah Hasan yang santri Tebuireng. Masih banyak, di sini juga masih banyak kiai yang layak. Mentang-mentang namanya moncer dan sering tampil di TV, dimuat di koran lalu pantes jadi Rais Aam. Lha kok enak temen,” ujar Gus Mus.
Gus Mus menambahkan, jika standar seperti itu diterapkan bagi calon presiden, calon gubernur, dan calon bupati baru relevan. Rais Aam tidak layak dipertandingkan apalagi diperebutkan.
“Saya ini kecelakaan (saja). Saya tidak tahu kalau di AD/ART NU produk Muktamar Makassar itu ada klausul apabila Rais Aam berhalangan tetap maka Wakil Rais Aam menjabat Rais Aam. Kalau saya tau, ya ndak mau saya. Saya juga ndak tau kalau Kiai Sahal akan meninggal,” ujar Gus Mus jenaka.
Atas situasi mutakhir NU tersebut, Gus Mus berharap, semoga ormas yang didirikan para ulama ini mendapat berkah dari Kiai Sahal. “Semoga Allah menolong NU karena situasi pemilihan Rais Aam sudah kayak Pilkada. Inna lillahi wa innaa ilaihi rajiun. Ini menyedihkan sekali,” ucapnya.
Sejarah Rais Aam
Jika merunut sejarah, lanjut Gus Mus, Rais Aam pertama disebut Rais Akbar, yaitu KH Hasyim Asy’ari. Setelah Hadlratusy Syaikh wafat, digantikan Rais Aam KH Wahab Hasbullah. Pada saat Mbah Wahab sudah sakit-sakitan, para muktamirin waktu itu tak sampai hati memilihnya kembali sebagai Rais Aam.
“Sebagai gantinya, dicalonkanlah Mbah Bisri Syansuri. Lalu, Kiai Bisri pegang mikrofon, ‘Saya tidak bersedia dicalonkan selama Kiai Wahab masih ada. Saya hanya mau membantu beliau.’ Begitu kata Kiai Bisri. Nah, tak lama setelah Muktamar, Mbah Wahab wafat. Lalu, jadilah Kiai Bisri sebagai Rais Aam,” ungkap Gus Mus.
Melihat sejarah Rais Aam yang demikian, apalagi melihat sosok Kiai Sahal, Gus Mus berharap NU cerdas seperti saat memilih Kiai Sahal karena ngelmu, perhatian serta kepeduliannya kepada umat. “Ini kalau NU tidak cerdas mencari pengganti Kiai Sahal, minimal yang mirip atau setara dengan beliau, ya susah.”
Apalagi, tambah Gus Mus, Kiai Sahal juga sangat pandai membagi waktu. Ulama pencetus Fiqih Sosial ini tidak hanya Rais Aam, tapi juga kepala keluarga, pengasuh pesantren Maslakul Huda, direktur Mathali’ul Falah, rektor INISNU Jepara, juga Ketua Umum MUI Pusat. Jadi, sedemikian rupa jabatan Kiai Sahal namun semuanya terlaksana dengan baik tanpa mengurangi haknya keluarga.
“Sejatinya, laku Kiai Sahal ini merupakan laku para pendahulunya hingga Kanjeng Rasul SAW. Mudah-mudahan, para santri dan kader-kader beliau di NU sedikit banyak mengecap ilmu, kebijakan, dan kearifan beliau. Mudah-mudahan, para santri dan kader-kader beliau di NU sedikit banyak mengecap ilmu, kebijakan, dan kearifan beliau,” pungkas Gus Mus. (Musthofa Asrori/Mahbib)

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Sholatnya Orang yang Berada di Dalam Bus

    Sholatnya Orang yang Berada di Dalam Bus

    • calendar_month Sen, 9 Agu 2021
    • account_circle admin
    • visibility 520
    • 0Komentar

     Pertanyaan : Seseorang yang berada di dalam bus dan waktu sholat akansegera habis.Apakah yang harus dilakukan ? Dikarenakankalau ia turun dari bus untuk melakukan sholat, ia akan ketinggalan bus, sedangkan kalau tetep di dalam bus, ia tidak bisa melakukan sholat. Jawaban :Jika memang seseorang tersebut khawatir ; kalau turun dari bus bisa ketinggalan, maka ia […]

  • ‎Gus Mujib Jogo Roso Isi Pengajian Ramadan Ahad Sore di Masjid Baitul Mujahid

    ‎Gus Mujib Jogo Roso Isi Pengajian Ramadan Ahad Sore di Masjid Baitul Mujahid

    • calendar_month Ming, 15 Mar 2026
    • account_circle admin
    • visibility 10.256
    • 0Komentar

    Semarang – Suasana Ramadan 1447 H yang hangat terasa di Masjid Baitul Mujahid Keluraha Patemon, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang pada Ahad sore (15/3/2026). Iringan musik Rebana New Baitul Mujahid menghidupkan suasana kegiatan Pengajian Ramadan Ahad Sore. Kegiatan itu menjadi bagian dari rangkaian program Ramadan Feels Like Home kembali digelar dengan menghadirkan penceramah Gus Mujib Jogo […]

  • PCNU-PATI Photo by 2081671

    Selamat Hari Ibu

    • calendar_month Jum, 23 Des 2022
    • account_circle admin
    • visibility 397
    • 0Komentar

    Oleh : Inayatun Najikah Berbicara soal peringatan hari ibu kemarin, kiranya sangat tepat jika tulisan saya kali ini bercerita tentang keseharian ibunda tercinta. Sosok inspiratif yang senantiasa mengajarkan saya banyak hal. Mulai dari bagaimana bersikap sebagai seorang perempuan hingga soal urusan perdapuran. Bagi saya ibu adalah seorang perempuan biasa yang memiliki semangat luar biasa. Ibu […]

  • PCNU-PATI

    Mbah Reban

    • calendar_month Kam, 28 Sep 2023
    • account_circle admin
    • visibility 791
    • 0Komentar

    Oleh: Annisa Barokatus Mbah Reban adalah seorang ulama yang lahir di Desa Tambahmulyo Dukuh Tambak Kapas sekitar tahun 1944 M pada hari Rabu dan meninggal pada hari Rabu pula di rumah beliau Desa Tambahmulyo, pada tanggal 15 Jumadil Ula 1431 H pada usia 65 tahun. Nama Mbah Reban diambil dari hari lahirnya yaitu Rabu. Mbah […]

  • Yayasan PIM Mujahidin Bageng Kukuhkan Pengurus Baru, Bertekad Kembalikan Kejayaan

    Yayasan PIM Mujahidin Bageng Kukuhkan Pengurus Baru, Bertekad Kembalikan Kejayaan

    • calendar_month Ming, 19 Okt 2025
    • account_circle admin
    • visibility 1.417
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.id – Jajaran Pengurus Yayasan Perguruan Islam Monumen (PIM) Mujahidin Bageng, Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati, mengukuhkan pengurus baru untuk masa khidmah 2025-2030. Pengukuhan dan serah amanah dilaksanakan di Pusat Kegiatan (Pusgia) PIM Mujahidin, Ahad (19/10/2025). Kegiatan ini ditandai secara simbolis dengan pengambilan ikrar pengurus yang dipimpin oleh Ketua Pembina Yayasan, H. Wahuri Muchtar. “Mudah-mudahan […]

  • Personalitas dan Identitas Indonesia

    Personalitas dan Identitas Indonesia

    • calendar_month Sel, 17 Agu 2021
    • account_circle admin
    • visibility 603
    • 0Komentar

    Oleh : Maulana Luthfi Karim* Cinta tanah air adalah sunnatullah. Demikianlah mukaddimah singkat yang penulis sampaikan untuk membuka tulisan ini.  Dalam berbagai riwayat disebutkan bahwa nabi Muhammad SAW benar-benar cinta mati kepada Makkah dan Madinah. Bukti pertama, beliau pernah berbisik kepada sobat karibnya, Abu Bakar bahwa Makkah adalah tempat yang paling dicintainya seandainya para penduduk […]

expand_less