Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Berita » Gus Mus: Sejak Kapan Pemilihan Rais Aam Seperti Pilkada?

Gus Mus: Sejak Kapan Pemilihan Rais Aam Seperti Pilkada?

  • account_circle admin
  • calendar_month Jum, 16 Jan 2015
  • visibility 371
  • comment 0 komentar
Pati, NU Online
Almaghfurlah KH MA Sahal Mahfudh merupakan Rais Aam PBNU terakhir. Kedalaman ilmu dan keberpihakannya kepada masyarakat menjadi teladan bagi semua. Sulit rasanya mencari pengganti tokoh sekaliber Kiai Sahal untuk duduk di kursi Rais Aam.
Pejabat Rais Aam Syuriah PBNU KH A Mustofa Bisri (Gus Mus) menuturkan hal tersebut saat memberi taushiyah pada Haul ke-1 Mbah Sahal di Pesantren Maslakul Huda Kajen-Margoyoso-Pati, Jawa Tengah, Selasa (13/01/15) malam.
Gus Mus, sapaan akrabnya, menemukan sebuah tulisan di koran yang membandingkan dirinya dengan KH Hasyim Muzadi sebagai sesama calon Rais Aam. Gus Mus kaget dan heran atas artikel tersebut.
“Ini ada orang sok tahu. Gayanya paham NU, tapi ndak paham NU. Gayanya paham ulama NU, tapi ndak paham ulama NU. Dia nulis judulnya ‘Gus Mus dan Hasyim Muzadi.’ Dia membandingkannya sebagai sesama calon Rais Aam.  Lho, sejak kapan pemilihan Rais Aam itu seperti Pilkada? Dikiranya apa Rais Aam itu,” sindir Gus Mus yang disambut tawa lepas hadirin.
Bagi kiai budayawan ini, Rais Aam terkecil dan terakhir itu Kiai Sahal. “Sejak Munas NU di Lampung sebetulnya beliau sudah jadi Rais Aam ketika Kiai Ali Yafie mundur. Jadi, mestinya beliau jadi Rais Aam karena sebelumnya sebagai wakil Rais Aam. Nah, karena Kiai Sahal ndak kerso (mau) karena satu hal, akhirnya wakil-wakil di bawah beliau ndak ada yang mau,” ungkap Gus Mus.
Untungnya, lanjut Gus Mus, ada kiai yang sangat ikhlas, yakni KH Ilyas Ruchiyat dari Cipasung Jawa Barat. “Beliau lalu bicara pelan-pelan, ‘ini kalau ndak ada yang mau kan vakum ini. Organisasi sebesar ini ndak ada pejabat Rais Aam-nya. Beliau ucapkan itu dengan ikhlas. Kalau memang ndak ada yang mau, ya sudah saya juga ndak apa-apa,” tutur Gus Mus menirukan pernyataan Kiai Ilyas.
Menurut Gus Mus, kalau bicara calon Rais Aam ternyata yang dimunculkan dirinya dan Hasyim Muzadi itu tidak tepat. “(Penulisnya) ndak paham NU sama sekali. Di NU itu masih ada KH Muchit Muzadi, santrinya Hadratusy Syaikh. Lalu, ada Kiai Tolchah Hasan yang santri Tebuireng. Masih banyak, di sini juga masih banyak kiai yang layak. Mentang-mentang namanya moncer dan sering tampil di TV, dimuat di koran lalu pantes jadi Rais Aam. Lha kok enak temen,” ujar Gus Mus.
Gus Mus menambahkan, jika standar seperti itu diterapkan bagi calon presiden, calon gubernur, dan calon bupati baru relevan. Rais Aam tidak layak dipertandingkan apalagi diperebutkan.
“Saya ini kecelakaan (saja). Saya tidak tahu kalau di AD/ART NU produk Muktamar Makassar itu ada klausul apabila Rais Aam berhalangan tetap maka Wakil Rais Aam menjabat Rais Aam. Kalau saya tau, ya ndak mau saya. Saya juga ndak tau kalau Kiai Sahal akan meninggal,” ujar Gus Mus jenaka.
Atas situasi mutakhir NU tersebut, Gus Mus berharap, semoga ormas yang didirikan para ulama ini mendapat berkah dari Kiai Sahal. “Semoga Allah menolong NU karena situasi pemilihan Rais Aam sudah kayak Pilkada. Inna lillahi wa innaa ilaihi rajiun. Ini menyedihkan sekali,” ucapnya.
Sejarah Rais Aam
Jika merunut sejarah, lanjut Gus Mus, Rais Aam pertama disebut Rais Akbar, yaitu KH Hasyim Asy’ari. Setelah Hadlratusy Syaikh wafat, digantikan Rais Aam KH Wahab Hasbullah. Pada saat Mbah Wahab sudah sakit-sakitan, para muktamirin waktu itu tak sampai hati memilihnya kembali sebagai Rais Aam.
“Sebagai gantinya, dicalonkanlah Mbah Bisri Syansuri. Lalu, Kiai Bisri pegang mikrofon, ‘Saya tidak bersedia dicalonkan selama Kiai Wahab masih ada. Saya hanya mau membantu beliau.’ Begitu kata Kiai Bisri. Nah, tak lama setelah Muktamar, Mbah Wahab wafat. Lalu, jadilah Kiai Bisri sebagai Rais Aam,” ungkap Gus Mus.
Melihat sejarah Rais Aam yang demikian, apalagi melihat sosok Kiai Sahal, Gus Mus berharap NU cerdas seperti saat memilih Kiai Sahal karena ngelmu, perhatian serta kepeduliannya kepada umat. “Ini kalau NU tidak cerdas mencari pengganti Kiai Sahal, minimal yang mirip atau setara dengan beliau, ya susah.”
Apalagi, tambah Gus Mus, Kiai Sahal juga sangat pandai membagi waktu. Ulama pencetus Fiqih Sosial ini tidak hanya Rais Aam, tapi juga kepala keluarga, pengasuh pesantren Maslakul Huda, direktur Mathali’ul Falah, rektor INISNU Jepara, juga Ketua Umum MUI Pusat. Jadi, sedemikian rupa jabatan Kiai Sahal namun semuanya terlaksana dengan baik tanpa mengurangi haknya keluarga.
“Sejatinya, laku Kiai Sahal ini merupakan laku para pendahulunya hingga Kanjeng Rasul SAW. Mudah-mudahan, para santri dan kader-kader beliau di NU sedikit banyak mengecap ilmu, kebijakan, dan kearifan beliau. Mudah-mudahan, para santri dan kader-kader beliau di NU sedikit banyak mengecap ilmu, kebijakan, dan kearifan beliau,” pungkas Gus Mus. (Musthofa Asrori/Mahbib)

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PCNU-PATI

    PAC IPNU IPPNU se-Kawedanan Juwana Kompak Rayakan Harlah Bersama

    • calendar_month Sen, 6 Mar 2023
    • account_circle admin
    • visibility 543
    • 0Komentar

    Pcnupati.or.id- TRANGKIL – PAC IPNU IPPNU se-Kawedanan Juwana, meliputi Trangkil, Wedarijaksa, Juwana, dan Batangan kompak mengadakan peringatan Harlah IPNU ke-69 dan Harlah IPPNU ke-68 bersama. Kegiatan dipusatkan di Pondok Tahfidz Darul Hikmah Usmaniyyah Kertomulyo, Trangkil, Pati, pada Minggu (5/3/2023). Acara dimulai dengan pemotongan tumpeng dan sarasehan bersama alumni pada siang hingga sore hari. Kemudian dilanjut […]

  • PCNU-PATI

    Sedang Tuhan Pun Cemburu

    • calendar_month Sen, 12 Des 2022
    • account_circle admin
    • visibility 527
    • 0Komentar

    Sedang Tuhan pun Cemburu adalah sekumpulan esai-esai yang berkaitan dengan segala aspek kehidupan. Mulai dari kritik-kritik sosial seperti permasalahan narkotika dan seks ; politik seperti korupsi yang merajalela *rupanya korupsi memang sudah menjamur sejak dulu hiks* ; agama tentang seni islami dan dakwah ; sampai budaya di bahas di sini. Semuanya ditulis secara bernas oleh […]

  • Sukses Gelar Akreditasi dan Visitasi PAC IPNU IPPNU Tlogowungu

    Sukses Gelar Akreditasi dan Visitasi PAC IPNU IPPNU Tlogowungu

    • calendar_month Jum, 26 Feb 2021
    • account_circle admin
    • visibility 473
    • 0Komentar

      Kamis, 25 Februari 2021 PAC IPNU IPPNU Tlogowungu telah melaksanakan akreditasi dan visitasi administrasi pimpinan ranting se- Kecamatan Tlogowungu. Meskipun masih kategori baru, PAC IPNU IPPNU Tlogowungu kini telah mempunyai 9 Ranting dari 15 Desa dan 7 Ranting yang telah ber SP. Saat asesor memanggil nama-nama ranting untuk maju menjalani proses asesmen, terlihat wajah-wajah […]

  • PC IPNU IPPNU Pati Dukung Pemerintah Bongkar Kawasan LI

    PC IPNU IPPNU Pati Dukung Pemerintah Bongkar Kawasan LI

    • calendar_month Sel, 15 Feb 2022
    • account_circle admin
    • visibility 372
    • 0Komentar

    Masna Zakiatus Salwa, Ketua PC IPNU Kabupaten Pati PATI – PC IPNU IPPNU Kabupaten Pati mendukung penuh pembongkaran kawasan Lorong Indah (LI) yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pati pada Kamis (3/2). Dukungan dan apresiasi ini disampaikan langsung oleh Ketua PC IPNU Pati, Mastna Zakikiyatus Salwa. “Kami PC IPNU IPPNU Pati, badan otonom dari Nahdlatul […]

  • PCNU-PATI Photo by Debby Hudson

    Meraba Lagi Deruku

    • calendar_month Ming, 23 Jul 2023
    • account_circle admin
    • visibility 661
    • 0Komentar

    Oleh : Nurul Badriyah Jum’at ini udara sangat dingin menusuk sampai kesendi –sendi tulang. Ngilu. Persis seperti hatiku. Huffft. Di tengah musim hujan seperti ini aku sering menemukan sebuah kenangan dalam setiap genangan, mengaliri hatiku yang terluka sebab cinta. Menghembuskan udara dingin dan sepi dalam setiap kerinduan. Yah, begitulah saat ini perasaanku. Hujan mewakili air […]

  • Dua Kendala Pengembangan Ilmu Falak di Pesantren

    Dua Kendala Pengembangan Ilmu Falak di Pesantren

    • calendar_month Kam, 12 Agu 2021
    • account_circle admin
    • visibility 502
    • 0Komentar

    Dr. Ahmad Izzuddin, Koordinator Diklat Lembaga Falakiyah PBNU saat menyanpaikan kendala pengaplikasian ilmu falak di pesantren dalam acara Peluncuran Lajnah Falakiyah Salafiyah Kajen via zoom meeting PATI-Ilmu Falak atau dalam istilah modern dikenal sebagai ilmu astronomi merupakan satu cabang ilmu yang sangat penting. Sebab bukan hanya mempelajari bintang, ilmu ini juga digunakan hampir dalam segala […]

expand_less