Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Berita » Gus Mus: Sejak Kapan Pemilihan Rais Aam Seperti Pilkada?

Gus Mus: Sejak Kapan Pemilihan Rais Aam Seperti Pilkada?

  • account_circle admin
  • calendar_month Jum, 16 Jan 2015
  • visibility 333
  • comment 0 komentar
Pati, NU Online
Almaghfurlah KH MA Sahal Mahfudh merupakan Rais Aam PBNU terakhir. Kedalaman ilmu dan keberpihakannya kepada masyarakat menjadi teladan bagi semua. Sulit rasanya mencari pengganti tokoh sekaliber Kiai Sahal untuk duduk di kursi Rais Aam.
Pejabat Rais Aam Syuriah PBNU KH A Mustofa Bisri (Gus Mus) menuturkan hal tersebut saat memberi taushiyah pada Haul ke-1 Mbah Sahal di Pesantren Maslakul Huda Kajen-Margoyoso-Pati, Jawa Tengah, Selasa (13/01/15) malam.
Gus Mus, sapaan akrabnya, menemukan sebuah tulisan di koran yang membandingkan dirinya dengan KH Hasyim Muzadi sebagai sesama calon Rais Aam. Gus Mus kaget dan heran atas artikel tersebut.
“Ini ada orang sok tahu. Gayanya paham NU, tapi ndak paham NU. Gayanya paham ulama NU, tapi ndak paham ulama NU. Dia nulis judulnya ‘Gus Mus dan Hasyim Muzadi.’ Dia membandingkannya sebagai sesama calon Rais Aam.  Lho, sejak kapan pemilihan Rais Aam itu seperti Pilkada? Dikiranya apa Rais Aam itu,” sindir Gus Mus yang disambut tawa lepas hadirin.
Bagi kiai budayawan ini, Rais Aam terkecil dan terakhir itu Kiai Sahal. “Sejak Munas NU di Lampung sebetulnya beliau sudah jadi Rais Aam ketika Kiai Ali Yafie mundur. Jadi, mestinya beliau jadi Rais Aam karena sebelumnya sebagai wakil Rais Aam. Nah, karena Kiai Sahal ndak kerso (mau) karena satu hal, akhirnya wakil-wakil di bawah beliau ndak ada yang mau,” ungkap Gus Mus.
Untungnya, lanjut Gus Mus, ada kiai yang sangat ikhlas, yakni KH Ilyas Ruchiyat dari Cipasung Jawa Barat. “Beliau lalu bicara pelan-pelan, ‘ini kalau ndak ada yang mau kan vakum ini. Organisasi sebesar ini ndak ada pejabat Rais Aam-nya. Beliau ucapkan itu dengan ikhlas. Kalau memang ndak ada yang mau, ya sudah saya juga ndak apa-apa,” tutur Gus Mus menirukan pernyataan Kiai Ilyas.
Menurut Gus Mus, kalau bicara calon Rais Aam ternyata yang dimunculkan dirinya dan Hasyim Muzadi itu tidak tepat. “(Penulisnya) ndak paham NU sama sekali. Di NU itu masih ada KH Muchit Muzadi, santrinya Hadratusy Syaikh. Lalu, ada Kiai Tolchah Hasan yang santri Tebuireng. Masih banyak, di sini juga masih banyak kiai yang layak. Mentang-mentang namanya moncer dan sering tampil di TV, dimuat di koran lalu pantes jadi Rais Aam. Lha kok enak temen,” ujar Gus Mus.
Gus Mus menambahkan, jika standar seperti itu diterapkan bagi calon presiden, calon gubernur, dan calon bupati baru relevan. Rais Aam tidak layak dipertandingkan apalagi diperebutkan.
“Saya ini kecelakaan (saja). Saya tidak tahu kalau di AD/ART NU produk Muktamar Makassar itu ada klausul apabila Rais Aam berhalangan tetap maka Wakil Rais Aam menjabat Rais Aam. Kalau saya tau, ya ndak mau saya. Saya juga ndak tau kalau Kiai Sahal akan meninggal,” ujar Gus Mus jenaka.
Atas situasi mutakhir NU tersebut, Gus Mus berharap, semoga ormas yang didirikan para ulama ini mendapat berkah dari Kiai Sahal. “Semoga Allah menolong NU karena situasi pemilihan Rais Aam sudah kayak Pilkada. Inna lillahi wa innaa ilaihi rajiun. Ini menyedihkan sekali,” ucapnya.
Sejarah Rais Aam
Jika merunut sejarah, lanjut Gus Mus, Rais Aam pertama disebut Rais Akbar, yaitu KH Hasyim Asy’ari. Setelah Hadlratusy Syaikh wafat, digantikan Rais Aam KH Wahab Hasbullah. Pada saat Mbah Wahab sudah sakit-sakitan, para muktamirin waktu itu tak sampai hati memilihnya kembali sebagai Rais Aam.
“Sebagai gantinya, dicalonkanlah Mbah Bisri Syansuri. Lalu, Kiai Bisri pegang mikrofon, ‘Saya tidak bersedia dicalonkan selama Kiai Wahab masih ada. Saya hanya mau membantu beliau.’ Begitu kata Kiai Bisri. Nah, tak lama setelah Muktamar, Mbah Wahab wafat. Lalu, jadilah Kiai Bisri sebagai Rais Aam,” ungkap Gus Mus.
Melihat sejarah Rais Aam yang demikian, apalagi melihat sosok Kiai Sahal, Gus Mus berharap NU cerdas seperti saat memilih Kiai Sahal karena ngelmu, perhatian serta kepeduliannya kepada umat. “Ini kalau NU tidak cerdas mencari pengganti Kiai Sahal, minimal yang mirip atau setara dengan beliau, ya susah.”
Apalagi, tambah Gus Mus, Kiai Sahal juga sangat pandai membagi waktu. Ulama pencetus Fiqih Sosial ini tidak hanya Rais Aam, tapi juga kepala keluarga, pengasuh pesantren Maslakul Huda, direktur Mathali’ul Falah, rektor INISNU Jepara, juga Ketua Umum MUI Pusat. Jadi, sedemikian rupa jabatan Kiai Sahal namun semuanya terlaksana dengan baik tanpa mengurangi haknya keluarga.
“Sejatinya, laku Kiai Sahal ini merupakan laku para pendahulunya hingga Kanjeng Rasul SAW. Mudah-mudahan, para santri dan kader-kader beliau di NU sedikit banyak mengecap ilmu, kebijakan, dan kearifan beliau. Mudah-mudahan, para santri dan kader-kader beliau di NU sedikit banyak mengecap ilmu, kebijakan, dan kearifan beliau,” pungkas Gus Mus. (Musthofa Asrori/Mahbib)

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • BNPT - FKPT Jateng Rillis Indeks Potensi Radikalisme (IPR), Ini Datanya!

    BNPT – FKPT Jateng Rillis Indeks Potensi Radikalisme (IPR), Ini Datanya!

    • calendar_month Kam, 2 Jul 2026
    • account_circle admin
    • visibility 75
    • 0Komentar

    Semarang – Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) bersama Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Provinsi Jawa Tengah menggelar kegiatan Diseminasi Hasil Survei Indeks Potensi Radikalisme (IPR) Provinsi Jawa Tengah Tahun 2025 yang diikuti 372 peserta dari unsur pemerintah daerah, akademisi, aparat penegak hukum, tokoh agama, organisasi masyarakat, media, dan pemangku kepentingan lainnya pada Kamis, 2 Juli […]

  • MA Salafiyah Kajen Gelar Rihlah Ilmiah dan Praktik Rukyat Hilal di UIN Walisongo

    MA Salafiyah Kajen Gelar Rihlah Ilmiah dan Praktik Rukyat Hilal di UIN Walisongo

    • calendar_month Sel, 24 Jan 2023
    • account_circle admin
    • visibility 323
    • 0Komentar

    pcnupati.or.id. PATI – Madrasah Aliyah Salafiyah Kajen, Margoyoso, Pati, adakan Rihlah Ilmiah dan Praktik Rukyat Hilal di Observatorium dan Planetarium UIN Walisongo Semarang, Ahad (22/1/2023) lalu. Kegiatan ini merupakan agenda rutin tahunan madrasah yang diikuti oleh seluruh peserta didik kelas XII jurusan IPA dan IPS konsentrasi Kitab Kuning. Praktik Rukyat Hilal menjadi ajang bagi peserta […]

  • PCNU-PATI

    Diklatsar Garda Fatayat NU Digelar di Lereng Gunung Muria

    • calendar_month Sab, 12 Nov 2022
    • account_circle admin
    • visibility 433
    • 0Komentar

    Pcnupati.or.id – Garda Fatayat NU (Garfa) Kabupaten Pati baru saja melaksanakan apel pembukaan Pendidikan Latihan Dasar (Diklatsar) pada Sabtu (12/11) pagi tadi. Agenda ini dihadiri oleh beberapa tokoh penting, di antaranya, Ketua PCNU Pati, Perwakilan Kapolresta Pati dan Ketua PC Fatayat NU Pati.  Agenda yang rencanya akan berakhir pada Ahad (13/11) esok ini digelar di […]

  • PCNU-PATI

    Dakwah Partisipatif Ala Kiai Sahal Mahfudh

    • calendar_month Sab, 19 Nov 2022
    • account_circle admin
    • visibility 394
    • 0Komentar

    Oleh :  Siswanto Dakwah dalam pengertian bahasa merupakan mengajak, menyeru, dan memanggil. Dakwah juga bisa diartikan sebagaikan ajakan ke jalan yang baik dengan cara sopan-santun dan penuh hikmah kebijaksanaan. Berangkat dari pengertian itu, lalu dihubungkan dengan nash Alquran dan hadist yang berkaitan dengan dakwah islamiyah. Syaikh Ali Mahfudh dalam kitabnya hidayah al-mursyidin menetapkan definisi dakwah […]

  • momjunction.com

    Dari Dongeng Kita Belajar Parenting

    • calendar_month Jum, 29 Jul 2022
    • account_circle admin
    • visibility 367
    • 0Komentar

    Oleh : Inayatun Najikah Saat saya tengah bersantai dikamar, tiba-tiba muncul notifikasi dari salah satu akun media sosial saya. Seseorang membagikan postingan orang lain berisi 25 dongeng sebelum tidur untuk anak. Rasa penasaran saya membawa jemari untuk membuka postingan yang dibagikannya. Awalnya saya berpikir jika postingan tersebut hanyalah gambar judul semata, tapi saya salah. Ada […]

  • Petani Harus Mandiri

    Petani Harus Mandiri

    • calendar_month Kam, 21 Apr 2016
    • account_circle admin
    • visibility 348
    • 0Komentar

    Pati. Majlis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama Kecamatan Margorejo mengadakan diskusi bersama dengan Pengurus Cabang NU Pati perihal pemahaman pembuatan pupuk organik agar para petani bisa mandiri dan menambah nilai jual ketika panen. Karena wilayah Margorejo   kebanyakan masyarakatnya menggantungkan mata pencariannya dari menanam ketela dan jagung. Diskusi bertempat di Ponpes Al-Akrom Pati Banyuurip Margorejo Pati (09/04) […]

expand_less