Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Berita » Belajar Nasionalisme Dengan Para Ulama

Belajar Nasionalisme Dengan Para Ulama

  • account_circle admin
  • calendar_month Sel, 30 Agu 2016
  • visibility 438
  • comment 0 komentar

Pati. Berdirinya NU tidak bisa lepas dari peran ulama sebagai pendiri, penggerak, dan pengembang organisasi. Kader-kader muda NU harus belajar kepada para ulama NU supaya mampu mengembangkan NU di masa depan. Demikian paparan KH. Abdul Majid, Wakil Rais Syuriyah MWC NU Trangkil dan Ustadz Muhammad Hambali, alumnus Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, dalam acara Orientasi Aswaja di hadapan siswa-siswi MA NU Luthful Ulum, Dukuh Wonokerto Pasucen Trangkil Pati.(9/8) kemarin.
KH. Abdul Majid menjelaskan, salah satu sifat utama ulama NU adalah keikhlasan. Mereka berjuang untuk meraih kemerdekaan dan mencerdaskan bangsa hanya untuk menggapai ridla Allah SWT, tidak karena motivasi harta, jabatan dan kekuasaan. Mereka lebih memilih kembali ke pesantren untuk mendidik dan mengajar kader-kader bangsa. Para ulama berperan sebagai pemasok utama kader-kader bangsa yang berkarakter.
Ustadz Hambali menambahkan, sifat-sifat para ulama yang lain adalah nasionalisme, yakni mencintai bangsanya secara sungguh-sungguh sebagai manifestasi dari kedalaman spiritualitasnya. Mereka berjuang sampai titik darah penghabisan untuk mengusir penjajah dari bumi tercinta.
 Secara kelembagaan, nasionalisme NU terbukti dengan banyak hal. Pertama, NU memberi nama Indonesia sebagai Darus Salam, Negara damai, bukan darul Islam (Negara Islam) atau darul harbi (Negara perang). Dengan deklarasi ini, maka Indonesia bukan Negara agama, tapi Negara demokrasi Pancasila yang memberikan toleransi kepada agama-agama yang hidup dengan mengedepankan persaudaraan dan kerukunan. Jangan ada pemaksaan satu agama dengan mengobarkan semangat permusuhan, pertikaian, dan menghalalkan secara cara yang merusak kebinnekaan yang sudah menjadi sunnatullah di bumi Indonesia.
Kedua, NU dengan cepat memberi gelar waliyyul amri al-dharuri bis syaukah (pemimpin darurat dengan dukungan rakyat yang kuat) pada saat legitimasi Presiden Sukarno dipertanyakan banyak orang. Demi stabilitas dan konsolidasi politik, NU bergerak dengan cepat dengan memberi gelar tersebut kepada Sukarno. Ketiga, ketika kemerdekaan Indonesia akan diserobot lagi oleh Belanda, maka dengan cepat NU lewat KH. M. Hasyim Asy’ari mengeluarkan fatwa resolusi jihad yang mewajibkan seluruh umat Islam dengan radius 94 km dari Surabaya untuk mengangkat senjata demi mempertahankan kemerdekaan dari ancaman kolonial yang ingin menjajah kembali Indonesia.  Pungkas Jamal Makmur salah satu pengajar.(red)
  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Jawab Krisis Pangan, Hasil Padi Kadang Tani Sarwotulus Capai 13 Ton

    Jawab Krisis Pangan, Hasil Padi Kadang Tani Sarwotulus Capai 13 Ton

    • calendar_month Ming, 22 Sep 2024
    • account_circle admin
    • visibility 479
    • 0Komentar

    Semarang – Kelompok tani Kadang Tani Sarwotulus (KTST) berhasil melaksanakan panen raya yang bertempat di desa Ketapang, kecamatan Susukan, Kabupaten Semarang pada Sabtu pagi (21/9/2024). Hal itu terungkap dalam Panen Padi Organik Kadang Tani Sarwotulus Jawa Tengah yang merupakan panen raya edisi tahun ke lima hasil dari budidaya padi dengan pupuk organik. Kadang Tani Sarwo […]

  • Ngaji Bareng Lakpesdam NU Pati

    Ngaji Bareng Lakpesdam NU Pati

    • calendar_month Kam, 19 Okt 2017
    • account_circle admin
    • visibility 412
    • 0Komentar

    Pati. Pengurus Lakpesdam NU Pati mengadakan Ngaji bareng dengan membedah Kitab Risalah Ahlus Sunnah wal Jama’ah dengan mendatangkan  narasumber lulusan Sudan yaitu Taufiq Zubaidi, M.A bertempat di Darul Hadlonah-Waturoyo, 3/8 kemarin malam. “Mulai per Agustus ini mempunyai agenda baru yaitu ngaji bareng, lebih tepatnya bedah buku-buku yang berkaitan dengan NU, Aswaja dan pemikiran Islam atau […]

  • Teater Suryo Pati IPMAFA Pentaskan "Palsu" sebagai Kritik Sosial

    Teater Suryo Pati IPMAFA Pentaskan “Palsu” sebagai Kritik Sosial

    • calendar_month Jum, 17 Jul 2026
    • account_circle admin
    • visibility 16.766
    • 0Komentar

      PATI– Unit Kegiatan Mahasiswa Teater Suryo Pati Institut Pesantren Mathali’ul Falah (IPMAFA) kembali menggelar pentas teater di halaman kampus IPMAFA, Kamis (19/7/2026). Pentas dengan tema “Palsu” ini berhasil menarik perhatian banyak penonton. Sejumlah mahasiswa, seniman Pati, hingga warga sekitar tampak antusias menyaksikan setiap adegan yang disuguhkan. Jadikan Panggung untuk Menyuarakan Kritik Sutradara pentas, Nanda, […]

  • Bongkar Pagar, LPBH-NU Pati Laporkan Polisi Yayasan STAIP

    Bongkar Pagar, LPBH-NU Pati Laporkan Polisi Yayasan STAIP

    • calendar_month Sen, 28 Sep 2026
    • account_circle admin
    • visibility 19.999
    • 0Komentar

    Pati – Lembaga Penyuluhan dan Bantuan Hukum Nahdlatul Ulama (LPBH-NU) Cabang Pati, melaporkan pimpinan Yayasan Pendidikan Islam Pati alias YAPI 2011 yang merupakan milik Sekolah Tinggi Agama IsIam Pati (STAIP), Senin (28/9/2026). Pasalnya, mereka diduga memerintah orang untuk membongkar pagar lahan milik Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Pati. Ketua LPBH-NU Cabang Pati, Ahmad Shofwan menjelaskan, […]

  • PCNU-PATI

    Kado Kemerdekaan Untuk Marbot

    • calendar_month Sen, 4 Sep 2023
    • account_circle admin
    • visibility 587
    • 0Komentar

    Pcnupati.or.id-Dalam sepekan PC Lazisnu Pati telah melaksanakan kegiatan pendistribusian kado kemerdekaan kepada masyarakat yang membutuhkan. Pada aksinya kali ini, PC Lazisnu Pati menyasar para marbot masjid dan mushola di wilayah kecamatan Pati.  Diketahui pendistribusian bantuan tersebut dimaksudkan dalam rangka turut memeriahkan hari ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-78 tahun. Sehingga jumlah penerimanya pun sejumlah […]

  • Tanya Jawab Bersama Syuriyah

    Tanya Jawab Bersama Syuriyah

    • calendar_month Rab, 19 Apr 2017
    • account_circle admin
    • visibility 544
    • 0Komentar

    Assalamu ‘alaikum warohmatullohi wabarokatuh Pak kiai, bagaimanat pandangan syara’ tentang kepercayaan makna-makna tertentu dalam setiap prosesi adat seperti adat-adat dalam pernikahan dan sebagainya jika dikaitkan dengan hukum sebab-akibat ? Wa’alaikum salam warohmatullohi wabarokatuh Pandangan fiqih dalam masalah ini  adalah : Ø  Kepercayaan dihukumi tidak boleh dan menyebabkan seseorang menjadi kafir menurut ijma’, jika dia dengan […]

expand_less